LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 4)



Chapter 4 : “INI GAYA BASKET GUE!”

ilustrasi

P
ertandingan Basket Senior-Junior masih berlanjut. Skor dipapan menunjukkan 3-4. Tapi, sayangnya pemain senior sudah mulai menguasai 60% permainan dilapangan. Tim Junior yang tadi sempat unggul diawal-awal waktu sudah mulai ditekan. Permainan dari tim senior semakin baik dan semakin serius semenjak Tobio mencetak 3 poin ke ring lawan. Sekarang serangan berikutnya diluncurkan oleh serangan kombinasi antara Satoru dan Minamoto. Ini merupakan sebuah rahasia yang akan diungkap tim senior kepada junior. Minamoto menggunakan kecepatannya membawa bola melewati Ryuji dan Natsuki. Gocekan yang indah dari Minamoto membuat mereka berdua terhenti langkanya dan hanya memandangi Minamoto dengan terkejut.
            Yosh!.. ini dia…. Serangan duet Satoru dan Minamoto. “Devils Attack!” Gumam di hati Ikki dan gembira seperti pembunuh melihat serangan mereka berdua. Minamoto kemudian mengumpan Satoru disisi kanan. Tangkapan yang bagus dari Satoru. Tapi, Kageyama sudah siap siaga didepan Satoru. Satoru langsung saja bersiap melakukan posisi shooting. Kakinya yang sedikit diturunkan lalu kembali tegak bagaikan ingin mengeluarkan semua tenaga dari ujung kaki sampai ujung kepala untuk dipusatkan kedua tangannya untuk menembak. Kageyama yang sudah sigap melompat dan melakukan block dengan tangan kanannya. Bola dilepaskan oleh Satoru. Awalnya Kageyama mengira bola itu bisa ia hentikan. Ternyata tidak, Satoru tidak menembak bolanya. Kageyama terkejut.
            Apa?!.. bolanya…. Hanya terlempar ditempat saja??..
            Satoru melemparkan bola tersebut hanya diatas kepalanya saja dan tidak melesat kedepan. Kageyama telah tertipu dengan lemparan Satoru.
            “maaf ya… bola ini masih kami kuasai…”
            Satoru mengatakan hal demikian. Lalu, ia kembali berlari kedepan setelah bola mendarat kembali ketangannya dan menghindari Kageyama. Kemudian, ia kembali mengoper Minamoto. Lay-up segera ia lakukan di ring lawan. Bola pun masuk, tim senior mendapatkan poin 2. Skor menjadi 5-4. Penonton menjadi bersemangat berteriak. Bahkan penonton dari siswa kelas 2 dan 3 sampai heboh sendiri. Ikki yang duduk disamping panitia hanya tersenyum saja. Tama dan Ryuzaki tampak sedikit gelisah. Sementara  Ryouta yang duduk dibangku cadangan timnya hanya diam memandangi tajam pertandingan. Lalu di tribun, Alisha dan Mikasa sampai gregetan melihat pertandingan tersebut.
            “tim senior nggak mau kalah, ya?”
            Tanya Mikasa saat melihat pertandingan
            “tentu saja, mereka’kan senior. Harus membuktikan kualitas permainan mereka.”
            Disisi lain, Nakamura-sensei bersama Miyako-sensei yang melihat pertandingan merasa sangat senang. Bahkan Miyako-sensei sampai memuji Nakamura-sensei yang juga sebagai Pembina tim Basket Ishiyama.
            sensei? Anda pastinya cukup bangga’kan murid-murid di tim ini tampil sangat baik?”
            “oh.. tentu saja. lagipula ini pertama kalinya aku melihat kekuatan senior-junior seimbang. Bahkan aura kompetisi mereka sudah mulai terasa di awal pertandingan”
            “saya bangga pada anda, saya yakin mereka akan terus bersemangat jika anda menjadi Pembina tim ini.”
            “ah, Miyako-sensei. Jangan berlebihan begitu. Biasa aja kok”
            Nakamura-sensei sampai tersenyum malu dan sedikit menggarukkan kepalanya.
            Pertandingan yang masih dalam quarter pertama ini masih diungguli tim senior. Bahkan serangan terus diperagakan tim senior sampai poin yang tercipta cepat sekali. Tim junior meskipun tidak mau kalah hanya bisa menyerang beberapa kali dengan mengandalkan serangan balik. Sayangnya hanya 3 kali mereka berhasil mencetak angka. Lima menit setelah itu, Ikki meminta Time out kepada panitia. Permintaannya pun dikabulkan. Bunyi pluit yang keras oleh Takaki-sensei yang menjadi wasit menghentikan pertandingan sejenak. Para pemain dari kedua tim bernafas sejenak dan memulihkan energy mereka. Kemudian, kedua tim kembali berdiskusi untuk menyusun strategi kembali.
            “wah…. Nggak nyangka tempo permainan menjadi sedikit cepat.. sampai aku sendiri hampir nggak bisa nafas.”
            Mikleo berkata sambil mengatur nafasnya.
            “itu benar, serangan dan pertahanan mereka ku akui sangat bagus. Walaupun mereka pernah bertanding hanya sampai perempat final. Tapi, kualitas mereka sudah seperti pemain juara.”
            Natsuki menambahkan pembicaraan sampai ia terkagum sendiri dengan tim senior
            “meski begitu kita juga nggak boleh kalah’kan?”
            Matsunaga bertanya kepada semua pemain tim junior.
            Bagaimana ini… aku harus menyusun strategi apa?
            “Tama-kun, apa kau ada ide ?” Mikleo bertanya kepada Tama.
            “hmm… “ Tama mengangguk. “coba kalian lakukan all-court man to man defense?”
            all court man to man defense itu apa?”
            Kageyama bertanya karena agak bingung
            “kamu nggak tahu ya? All court Man to man defense itu dimana pemain menjaga satu dari lima pemain. Jadi, setiap masing-masing individu menjaga satu orang. Tapi, harus ketat. Jangan sampai mereka lolos. “
            Kata Ryuji menjelaskan sedikit kepada Kageyama
            “oh, itu seperti one by one, gitu?”
            “betul sekali…”
            “baiklah kalau begitu.. kita pakai strategi Tama”
            Di bangku tim senior, mereka juga sedang berdiskusi
            “mereka sepertinya mempunyai sebuah rencana.. “
            Sorey berkata kepada para pemain senior
            “itu memang benar… sepertinya ide tersebut berasal dari si Anak Indonesia itu. melihatnya dibangku cadangan saja sudah merinding. Bagaimana kalau dia bermain nanti?”
            Minamoto sampai terkagum melihat Tama dengan tatapan serius.
            “yang terpenting adalah… melakukan serangan. Lagipula kita’kan masih punya celah untuk menembus pertahanan mereka.” Satoru berbicara kepada Minamoto
            “hmm.. kamu benar Satoru.. baiklah, semuanya. Kita fokus menyerang. Untuk Kyo, Sorey dan Tobio. Kalian bersiap di luar lingkaran. Aku dan Satoru akan mencoba masuk kedalam lingkaran. Selebihnya kita improvisasi saja permainan ini.”
            “BAIK!!” semua berseru setelah mendengar arahan dari Minamoto.
            Minamoto dan yang lainnya sepertinya sudah selesai berdiskusi. Aku yakin mereka akan fokus menyerang. Dan di tim Junior pun mereka sudah selesai berdiskusi. Tapi, aku kok merasa bakal ada sesuatu yang aneh ya? Terutama Tama-kun, ia seperti menyimpan rahasia.
            Ikki melihat dengan seksama wajah Tama. lalu, dengan matanya yang memiliki analisa seperti sistem komputer mengamati terus dia. Kemudian, ia cukup terkejut dengan hasil analisa dari Tama. dinilai dari power, attack, defense, body balance, technique dan accelerationnya menunjukkan bahwa semuanya diatas 85 %. Benar-benar memiliki bakat alami. Ikki sudah menilai beberapa dari kemampuan mereka seperti Mikleo yang hampir sama dengan Tama, Natsuki, Ryuji dan Matsunaga. Sisanya tinggal Kageyama dan Ryuzaki yang belum dinilai dari analisanya. Skor menunjukkan 15-10. Senior masih unggul dari Junior. Pertandingan kembali dilanjutkan, bola mulai dipegang oleh senior. Kyo memberi umpan kepada Satoru. Alangkah terkejutnya Satoru saat membelokkan badannya kekiri melihat para pemain junior sudah melakukan marking masing-masing. Itupun dijaga sangat ketat. Kyo yang masuk kembali ke lapangan sudah langsung dihadang Mikleo. Satoru juga dijaga oleh  Matsunaga.
            Heh… apa ini? Pertahanan mereka menjadi rapi?
            Satoru dalam hati sampai kaget melihat pertahanan mereka yang mengikuti arahan dari Tama. lalu, Satoru melewati Matsunaga. Matsunaga yang tidak bergerak membiarkan Satoru melewatinya. Tapi setelah ia melewati Matsunaga Kageyama sudah menjaga kembali. Satoru berhenti berlari. Kaget bercampur bingung melihat gaya permainan junior. Tak disangka, “tidak ada angin, tidak ada hujan”. Bola yang disentuh dan dipantulkan Satoru langsung tersapu oleh stealth dari Matsunaga yang ada dibelakang. Satoru sampai terkejut lagi dan baru menyadari bahwa Matsunaga masih dibelakang.
            Jadi begitu ya rencananya? Satoru dibiarkan melewati Matsunaga, setelah Kageyama menghadangnya, Matsunaga yang dibelakangnya langsung melakukan stealth. Tunggu..!! jadi tadi masih ada Matsunaga? Kupikir ia berpindah tempat.. rupanya ia menantikan momen tersebut.
            Minamoto dalam hatinya yang terkejut juga baru menyadari Matsunaga yang ada dibelakang Satoru. Bola basket itu diterima oleh Kageyama. Ia langsung berlari kedepan menuju ring. Disana sudah ada Mikleo yang meminta. Kageyama langsung mengoper ke Mikleo. Mikleo yang mendapatkan bola sudah dibayangi Tobio. Mikleo meski badannya termasuk tinggi tapi kecepatan dribblenya tidak bisa dihentikan. Tobio sampai kwalahan membayangi Mikleo dan akhirnya ia langsung mati langka dibuat Mikleo dan seketika Mikleo melakukan dunk dan skor didapatkan oleh tim junior. Penonton sampai ramai kembali. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa dunk dari Mikleo cukup keras dan keren. Alisha dan Mikasa sampai gembira melihat Mikleo menambah poin menjadi 12 poin untuk tim junior.
            Setelah itu, bunyi pluit terdengar. Disudut kiri lapangan. Pria berkacamata dengan rambut pendek dan berkulit putih sudah siap meminta diganti. Sorey lah yang diganti olehnya. Yaitu Ryouta. Sorey pun duduk dibangku cadangan sambil memulihkan tenaganya. Ryouta masuk dan menjadi SG. Setelah melihat itu, Tama berkata kepada Ryuzaki bahwa sebentar lagi kita juga akan masuk. Karena seorang SG mereka sudah masuk. Pertandingan kembali dilanjutkan, pertahanan all court man-to-man defense kembali diperagakan tim junior. Kali ini Minamoto yang sedikit tertekan. Bernasib sama seperti Satoru. Matsunaga kembali melakukan stealth dari belakang Minamoto. Bola kemudian diterima oleh Ryuji dan tambah basa-basi langsung mengoper ke Mikleo. Mikleo berlari sekencang-kencangnya mencoba memasukkan bola. Lalu, Tobio mengejarnya dari belakang. Cukup dekat jaraknya karena Tobio memiliki langkah kaki yang lebar sehingga ia bisa memperpendek jarak larinya dengan Mikleo. Mikleo yang sudah membawa bola basket menyadari ada Kageyama yang mengejar. Ia langsung melakukan backpass ke Kageyama yang sudah ditengah lingkaran kecil / lingkaran free throw. Kageyama menerima dan menangkap umpan dari Mikleo ia langsung menembak bola dengan santai ke ring lawan. Hasilnya, 2 poin dicetak lagi oleh tim Junior. Penonton pun semakin gregetan melihat pertandingan tersebut. beberapa pun ada yang mulai bersuara.
            “keren...!! kedua tim bermain sangat bagus !”
            “benar.. tapi tim anak-anak kelas 1 itu benar-benar bisa menyaingi senior-senior itu”
            “apa lagi anak yang berasal dari Jerman itu. permainannya mengejutkan sekali..”
            Sebagian sudah bersuara dan memuji permainan tim Junior.
            “waaah.. Mikleo keren banget ya?”
            Mikasa sampai pangling melihat Mikleo bermain.
            “tentu saja, dia itu’kan sudah lama bermain basket. Aku sih nggak begitu ‘wah’ banget lah.”
            “loh, kok Alisha-san bilang gitu?”
            “ya iyalah, dia’kan sepupuku. Sudah sering melihatnya bertanding basket. Jadi sudah biasa aku melihatnya. Aku akui sih. Dia itu emang keren kalau udah main basket. Meskipun dia itu agak menyebalkan orangnya.”
            Alisha berbicara kepada Mikasa dan ia tersenyum dan mengakui kehebatan Mikleo dan gayanya. Mikasa pun memandangi Alisha dan ikut tersenyum juga
            “hmm.. kamu benar Alisha-san”
            Permainan kembali berlanjut. Tim senior tidak mau kalah. Serangan Devils Attack dari Minamoto-Satoru masih bisa membongkar pertahanan dari tim Junior, kemudian tembakan 3 poin dari Tobio dan yang terakhir slam dunk yang selama 3 kali berturut-turut dari Sorey masih bisa menambah angka untuk tim senior. tim junior pun tidak mau kalah juga. PG dari Natsuki mengarahkan pemain yang lain mencari celah. Serangan demi serangan terus diperagakan. Mikleo kembali mencetak angka kembali melalui dunknya, kemudian Ryuji mencoba melakukan serangan dan diarahkan kembali kepada Mikleo. Lalu, Matsunaga yang masih bisa menggunakan Misdirection karena kecepatannya yang secepat kilat sampai tidak bisa diikuti oleh pandangan pemain lain kecuali Natsuki yang sempat menggunakan tenaga rahasianya, yaitu Hawk eye. Hawk eye yang digunakan Natsuki berguna untuk memperluas pandangannya dilapangan. Baik dari depan, kanan, kiri dan juga arah belakang yang perlu menggunakan insting menyerangnya. Umpannya kepada Mikleo, Matsunaga, Ryuji dan Kageyama selalu tepat sehingga mereka juga dapat mencetak angka. Untuk defense, Kageyama yang lebih unggul. Sebanyak 3 kali ia berhasil menyapu dengan bersih serangan dari tim senior terutama kepada Satoru dan Tobio. Kyo yang sempat melakukan shooting dari dalam lingkaran berhasil juga di blok oleh Ryuji. Ia masih bisa sempat melompat cukup tinggi dan memblock lemparan dari Kyo. Tim senior pun menjadi terkejut dan tercengang melihat permainan tim junior yang benar-benar memukau. Sampai quarter pertama selesai, permainan kedua tim cukup bagus. Skor dipapan menunjukkan 35-33. Tim senior masih unggul 2 poin dari tim junior. Meski begitu presentase penguasaan bola berbalik dominan ke tim Junior.
            Kemampuan kedua tim benar-benar cukup seimbang. Melihat presentase skill tim junior yang masih bermain. Skill basket Mikleo hampir sama dengan Tama, lalu, Natsuki memiliki konsentrasi dan fokus yang baik. Ditambah ia memiliki hawk eye menambah teknik dan kecerdasannya dalam bermain. Kemudian Ryuji yang memiliki Wind Drive, Matsunaga yang memiliki Misdirection untuk mendukung kecepatan larinya. Serta Kageyama yang walaupun tidak begitu menonjol tapi defense anak itu benar-benar kuat. Wajar saja dia cocok sebagai Center. Meski begitu, tinggal Ryuzaki dan Tama yang peru diwaspadai. Tama memang punya bakat alami. Tapi, untuk Ryuzaki….. aku masih belum bisa menganalisanya dengan jelas. Yang pasti, kemampuannya masih diatas Ryuji, kakaknya.
            Ikki sampai serius dipikirannya menganalisa pemain junior. Kedua tim beristirahat sejenak selama 2 menit sambil menyegarkan pikiran mereka dan memulihkan tenaga mereka. Di quarter kedua, Minamoto langsung memberikan insturksi kepada Ryouta untuk masuk lapangan menggantikan Sorey. Sudah waktunya shooting guard tim senior turun ke lapangan. Tobio akan fokus kepada posisinya sebagai Center. Dan di tim junior, sampai saat ini belum ada pergantian pemain dan masih tetap fokus dengan formasi yang tadi dilakukan. Tama dan Ryuzaki berjanji di babak kedua mereka akan masuk ke lapangan menggantikan Matsunaga dan Natsuki. Setelah semua menyegarkan diri mereka. Quarter kedua segera dimulai. Kedua tim kembali masuk ke lapangan. Throw in dilakukan oleh tim senior. Satoru memberikan bola kepada Tobio. Tanpa basa-basi, kembali Tobio memakai Banana Pass ke daerah lawan. Para pemain Junior cukup tercengang seolah-olah tidak percaya dengan lemparan tersebut. Kageyama yang memposisikan diri di tengah lingkaran sampai bingung melihat lemparan tersebut.
Lemparan macam apa itu?
 Bola diterima oleh Kyo dan langsung melakukan shoot. 2 poin kembali didapatkan tim senior.
            Sial… mereka langsung mencetak angka. Kali ini akan ku balas.
            Pikir Mikleo yang sudah sedikit panas. Bola basket kemudian dikuasai oleh tim junior. Natsuki yang masih memakai hawk eye mengamati daerah lawan untuk mengetahui letak celah pertahanan mereka. Lagi-lagi Matsunaga tanpa disadari pemain lawan bergerak dari arah kiri. Natsuki melepaskan umpan dan kemudian diterima Matsunaga. Lay-up diperagakan oleh Matsunaga. Bola masuk, poin kembali diraih tim junior. Penonton kembali bersorak.
            “wah.. keren… “
            “tidak ada yang menyangka Matsunaga ada didepan dan langsung mencetak angka”
            “tim senior sampai tidak ada yang menyadarinya”
            Hmm…. Gawat.. kalau begini terus. Tim senior bisa tertinggal angka lagi nih. Benar-benar sengit sekali. Kalau begitu, sudah saat aku mengerahkan kemampuanku.”
            Ryouta sudah mulai berencana mengerahkan kemampuannya sebagai SG. Penguasaan bola yang kembali dari tim senior, dimulai oleh Kyo lalu langsung mengoper kepada Ryouta. Ryouta yang sudah mendapatkan bola sudah siap melepaskan tembakan 3 poin. Setelah bola dilemparkan dan melayang di udara. Semua pemain memandangi bola tersebut. saking fokusnya mereka sudah menyangka bahwa bola itu akan masuk. Ternyata benar, bola yang dilemparkan Ryouta berhasil mencetak 3 poin.
            Wah… seorang SG sudah mulai menggunakan “senjata”nya. Tapi, lemparan pertama tadi menandakan bahwa prediksiku akan benar. Ini dia ancamannya.
            Tim senior kembali mendapatkan bola, lagi-lagi Ryouta mendapatkan keberuntungannya kembali. Lemparan 3 poinnya yang akurat menambah poin dan kembali memberikan keunggulan kepada tim senior. sebanyak 6 kali lemparan 3 poin dari Ryouta berturut-turur masuk. Skor menjadi 55-38. Kyo melakukan tos kepada Ryouta. Satoru pun melakukan hal demikian. Para penonton semakin senang sekali melihat tembakan 3 poin sebanyak 6 kali berturut-turut darinya.
            “Tama-kun, Ryouta-san melakukan three point enam kali berturut-turut loh?”
            Ryuzaki bertanya kepada Tama. Tama menjawab Ryuzaki sedikit santai.
            “yaah.. kalau soal itu sih, benar-benar aku banget deh. Tapi, aku juga bisa melakukan hal seperti itu.”  meski begitu, Ryouta-san benar-benar cukup berbahaya.
            Quarter kedua pun dihabiskan dengan permainan tim senior yang konsisten dengan penyerangan dan pertahanan. Tim junior sampai kwalahan mengatasi serangan dan pertahanan tim senior. semenjak Ryouta masuk, beberapa celah sudah mulai tertutup. Matsunaga yang terus memakai Misdirection untuk membantu kecepatan larinya sudah mulai berkurang fungsinya. Serangan sudah mudah dipatahkan. Natsuki pun juga tidak dapat memakai hawk eyenya dengan baik karena kelelahan dan konsentrasi sedikit menurun. Umpannya pun sudah mulai di stealth oleh Minamoto. Defense dari Kageyama pun tidak ampuh lagi membendung serangan demi serangan. Mikleo dan Ryuji sudah sering sekali direbut bolanya oleh Minamoto, Satoru dan Kyo. Bahkan melakukan dunk pun sudah mulai dipatahkan Tobio.  Sampai-sampai Mikleo, Kageyama dan Natsuki mencoba tembakan 3 poin karena terpaksa dan ingin menambah poin dengan cepat tetapi tidak ada satu pun yang masuk. Benar-benar di quarter kedua tim junior jadi terpuruk. Skor menunjukkan 73-42. Penonton yang tadi semangat sudah sedikit kecewa dengan tim Junior. Malah beberapa orang dari penonton meminta untuk diganti salah satu pemain. Ryuzaki yang mendengarnya semakin tidak tahan. Kakinya sudah bergoyang-goyang agak kencang dan meremas-remas tangannya sendiri kuat-kuat.
            “Tama, bagaimana ini? Aku nggak tahan nih. Pengen ngebales mereka.”
            “tunggu, sebentar lagi quarter dua akan selesai. Bersabarlah. Tinggal sedikit lagi.”
            Tama sambil menganyam kedua tangannya dan menempel diantara hidung dan mulutnya menyuruh Ryuzaki untuk bersabar. Sebenarnya ia juga sudah mulai tidak tahan. Tapi, karena ini bagian dari strategi. Ia juga harus menunggu. Lalu, Ikki di meja panitia memandangi Tama agak serius masih terus berpikir tentang apa yang sebenarnya direncanakan Tama.
            Si Anak Indonesia itu jalan pikirannya bagaimana sih? Kok aku susah banget ya nebaknya? Padahal dia sudah tahu timnya banyak yang mulai kelelahan. Mereka sampai saat ini belum melakukan pergantian. Apa yang mereka rencanakan? Aku jadi curiga dan perasaanku juga nggak enak nih.
            Sementara itu, Alisha yang duduk di tribun juga memandangi Tama. ia juga serius memandanginya.
            Dia pasti bakal masuk ke lapangan….. pasti….
            Mikleo yang berada dilapangan sedikit berharap kepada Tama. dibabak kedua nanti, ia akan masuk kedalam lapangan.
            Tama, aku nggak tahu apa yang kamu rencanakan. Tapi.. dibabak kedua nanti, ku serahkan semuanya padamu. Dan juga Ryuzaki.
            Kageyama, Natsuki, Matsunaga dan Ryuji juga sudah mulai menaruh harapan kepada Tama. walaupun ini hanya persahabatan dan sekedar melihat potensi pemain anak kelas 1. Tapi, anak-anak kelas 1 ini seperti seakan-akan sedang berada dalam pertandingan final basket. Sesi dramatis ditunjukkan didalam lapangan benar-benar terkesan berlebihan namun, untuk membuktikan bahwa mereka layak menjadi anggota tim Ishiyama. Mereka benar-benar mengeluarkan semua kemampuan mereka dan membuktikan kelayakan mereka. Quarter kedua telah selesai, pluit panjang dibunyikan. Istirahat selama 5 menit. Kedua tim memanfaatkan waktu tersebut. tim senior sedang membicarakan sesuatu tentang tim junior.
            “sebentar lagi, kartu AS mereka akan keluar…”
            Kyo berkata seperti itu kepada yang lainnya
            “itu benar, kayaknya si Anak Indonesia itu kelihatannya hebat.”
            Sorey menambahkan pembicaraan
            “dibabak kedua nanti, pertandingan sebenarnya baru dimulai
            Satoru berpikiran babak kedua akan semakin menegangkan.
            “meski begitu, aku benar-benar semangat..”
            Gumam Tobio
            yosh… mari kita bermain lagi.”
            Minamoto yang terakhir berkata menutup kalimat seperti itu.

            5 menit telah selesai ia manfaatkan. Kedua tim kembali masuk ke lapangan dan pergantian tempat. Kali ini, Si anak Indonesia, Pratama Budiman alias Tama masuk ke lapangan. Diikuti oleh Ryuzaki. Penonton langsung ramai melihat Tama masuk ke lapangan. Terutama anak-anak kelas 1 seperti Tatsuma, Shiro, Yuki dan beberapa siswa yang berkenalan dengan Tama. Alisha  sempat berdiri dan tersenyum lebar. Meski ia belum tahu Tama tapi seakan-akan ia seperti segalanya sampai ia terkagum-kagum melihatnya masuk ke lapangan. Mikasa sempat heran melihat Alisha seperti itu. setelah itu, ia pun ikut merasa senang bahwa Tama masuk ke lapangan. Natsuki dan Matsunaga dicadangkan. Disini Tama akan merangkap dua, SG dan PG. namun, posisi dominan dari Tama adalah SG. Wasit meniupkan pluit, bola dikuasai oleh tim senior. Satoru membawa bola dan berusaha memasuki lingkaran lawan. Formasi pertahanan tim junior masih sama. Satoru kaget bahwa formasi pertahanan mereka sama. Namun, ia tidak peduli. Ia yang dijaga Ryuji tetap melewatinya. Saat ia melewati Ryuji, Satoru terkejut bukan kepalang. Sapuan keras terhadap bola membuatnya seperti ‘jantungan’. Ryuzaki yang melakukan itu.
            Sial… aku sampai tidak ingat bahwa ada kembarannya Ryuji…
            Bola yang tersapu itu diterima Ryuji dan ia berlari kedepan. Semua pemain mengikuti. Ryuji dengan Wind Drive melaju kedepan menuju ring lawan. Tapi, Tobio sudah sigap disana.
            “kamu nggak bakal berhasil mencetak angka!!”
            Siapa bilang nggak bisa? Lihat saja nanti!”
            Tobio sempat kaget melihat Ryuji mengumpan ke belakang. Melakukan backpass ke kiri. Ia mengumpan kepada Tama. Tama memang jaraknya masih agak jauh dari lingkaran. Bola tersebut masih bisa disambutnya. Ia berlari sedikit ke kanan dan mendribble bola.
            Tama, ini kesempatanmu… semua bergantung pada lemparanmu…
            Pikir Mikleo
            Ayo! Cetak poinnya, Tama…! kamu pasti bisa!
            Pikir Ryuji
            Tama… masukkan bolanya!
            Pikir Kageyama. Tama langsung meletakkan kaki kanan dan dijadikan tumpuan untuk melompat. Tama kemudian melompat seperti melakukan lane-up. Semua terkejut melihat Tama seperti tim senior, Ikki, beberapa guru, Natsuki, Matsunaga, Alisha, Mikasa serta penonton lain. Mikleo, Ryuji, Ryuzaki dan Kageyama tersenyum lebar. melompat di luar lingkaran setelah berlari dan menganggapnya melakukan lane-up. Tangan kanannya memegang bola basket dan bersiap untuk melepaskan tembakan dengan satu tangan. Ia akan melakukan sky hope.
            Apa yang dilakukannya?!... lane-up sejauh itu?...
            Tama membalas isi hati Tobio
            “Maaf.. ini yang akan aku lakukan…. SKY HOPE !!”
            Tama mendorong dan mengayunkan tangan kanannya melepaskan tembakan satu tangan sambil melayang diluar lingkaran yang jaraknya masih agak jauh. Semua agak tercengang melihat bola yang melayang dari tangan Tama. siapa sangka, Bola yang dimasukkan ternyata masuk. Sejenak semua didalam ruangan tercengang seakan-akan tidak percaya dengan kejadian. Namun, memang kenyataannya seperti itu. 3 poin menambah skor mereka untuk memperkecil kedudukan. Setelah itu, semua penonton mulai berteriak “WAAAAAHHH….!!!!!” Alisha yang menonton di tribun bersama Mikasa yang ada di sampingnya jadi heran dengan lemparan Tama yang luar biasa itu.
            Keren…. Belum pernah aku melihat lemparan seperti itu…..
            Alisha berpikir begitu
            Keren… belum pernah juga aku melihat lemparan seperti itu….
            “Hmm… kamu kok ikut-ikutan sih mikir begitu juga?
            Alisha memandangi Mikasa dengan cemberut karena merasa seperti bisa menebak pikiran Mikasa.
            “heeeeh??!! Hehe… maaf.. abisnya aku belum pernah liat lemparan kayak gitu”
            “’kan bisa pakai kata-kata lain… gak usah nyalin kalimatku dong..” nih cewek aneh banget deh.. dasar kacamata!
            “bentar deh… kok kayaknya aku denger ada yang bilang kacamata, ya?”
            Ah.. gawat nih..!

            Permainan masih berlanjut. Tama kembali membawa bola menuju ring lawan. Penjagaan sudah dimulai dari tim senior. kali ini Tama menggunakan skill individunya. Terdiri dari 3 orang yaitu Kyo, Ryouta dan Tobio.
            “jangan biarkan dia mencetak angka!!” Minamoto memberikan Instruksi untuk menghadang Tama. karena gaya permainan yang begitu apik. Disertai gocekan-gocekan indah yang bahkan lebih bagus dari Minamoto dan juga kecepatan yang sama dengan Ryuji membuat 3 pemain senior yang tadi tidak mampu menghentikannya. Tobio yang berbadan paling tinggi pun bernasib seperti  saat membayangi Mikleo. Dan lebih parahnya lagi, ia sampai jatuh terpeleset dan terduduk seperti orang yang pasrah akan ditembak seseorang pakai pistol. Tak ada lagi yang menghadang, Tama dengan santai melakukan lay-up untuk memasukkan bola basket ke ring tim senior. tim junior berhasil mendapatkan 2 poin lagi dari Tama. penonton kembali mengelu-elukan tim Junior. Semenjak Tama masuk, permainan tim junior menjadi semakin baik. Tidak hanya itu saja, dalam permainan pun masih ada Ryuzaki yang bersiap mengeluarkan kemampuan umpannya yang unik. Tama kembali mendapatkan bola setelah menerima umpan dari Kageyama. Minamoto mencoba menghadang Tama. seperti rekan-rekan sebelumnya, Tama berhasil melewati Minamoto. Minamoto yang sempat dilewati berusaha kembali mengejar Tama. saat ingin mengejar, tiba-tiba “bruuk!!” ia seperti menabrak sesuatu didepannya.
            Aarrggh..! apa ini? Apa yang kutabrak?..
            Ia kemudian membuka matanya dan melirik kedepan dan agak keatas sedikit pandangannya. Ia melihat Kageyama yang sudah melakukan Screen padanya.
            Apa??. Screen.. sejak kapan…? Bukannya dia masih dibelakang…?
            Tama yang masih mendribble bola menuju ring lawan selanjutnya dihadang oleh Satoru. Satoru dengan ekspresi dingin berusaha menghentikan Tama. Tama menurunkan tempo kecepatan. Setelah itu, seperti tanpa ada sesuatu ia langsung oper bola ke depan sisi kanan. Satoru melihat jalur umpan itu, tapi ia tidak tahu bola itu mau diumpan kemana karena menurutnya di sisi itu tidak ada orang. Sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya terjadi. Satoru melihat ke belakang  tempat dimana bola itu akan diumpan. Ternyata tidak orang dan bola pun tidak ada lagi. Tahu-tahu sudah dipegang oleh Ryuji yang sebenarnya berada ditengah dan langsung melakukan dunk sehingga mencetak poin.
            Hah?...bolanya menghilang dan sudah berpindah tempat? Mustahil.. siapa yang melakukannya? Tidak mungkin ini sihir…
            Pikir Satoru sampai kaget. Ekspresi dingin tadi berubah menjadi ekspresi setengah takut. Tama sudah tahu yang melakukan tadi adalah Ryuzaki dengan  Misdirection pass.
            Waktunya menggunakan misdirection dengan gaya lain…
            Kejadian yang belum pernah terjadi ini adalah pertama kalinya dilihat oleh orang-orang dilapangan. Ikki sampai tidak dapat berbicara apa-apa selain bingung, mulut terbuka dan matanya yang mencerminkan ketidakpercayaan akan hal yang dilihatnya. Terlihat mustahil tetapi itu merupakan sesuatu yang dilakukan di dalam permainan tersebut. kembali Misdirection pass diperagakan oleh Ryuzaki. Tama yang menjadi pengatur serangan sering melemparkan umpan Ryuzaki. Umpan sihir yang selalu mengecoh pandangan lawan membuat Mikleo, Ryuji dan Kageyama mudah untuk mendapatkan bola dan mencetak angka. Tim senior sekali lagi tidak mendapatkan kesempatan menyerang. Setiap kali mereka mendapatkan bola, Ryuzaki sebagai small forward dengan kecepatan tangannya yang seolah-olah tak terlihat begitupun perpindahan tempatnya meskipun tidak seperti Matsunaga yang bisa menghilang karena larinya terus mematahkan serangan mereka. Minamoto, Satoru, Kyo, Ryouta dan Tobio sampai tidak berdaya. Seolah-olah Ryuzaki menjadi seorang Killer Ace. Dan tidak terasa quarter ke-3 selesai tanpa time out.
            Hah.. ya ampun.. aku sampai nggak sadar kalau nggak ada time out… tim junior semenjak masuknya Tama dan Ryuzaki, mereka sampai menikmati permainan dan tidak menggunakan time out. Sementara tim senior sudah terpuruk sekali di quarter ketiga. Karena keterpurukan dan mungkin kelelahan juga mereka pun tidak sampai meminta time out.
            Ikki seperti tersadar akan sesuatu
            Ah… aku baru ingat! Ryuzaki.. dari tadi dia juga sudah bermain ya? Hmm.. sekarang aku baru tahu mengenai umpan yang tak terlihat itu.. menurut analisaku, potensi Ryuzaki mempunyai kesamaan dengan Matsunaga, tapi karena ia sudah lama bermain basket, skillnya masih unggul daripada Matsunaga. Benar-benar anak kelas 1 sekarang sudah seperti monster. Aku merasa Ishiyama akan mendapatkan sebuah harapan. Semoga saja…..
            Istirahat selama 2 menit, tim senior sampai sedikit kelelahan  menghadapi tim junior. Papan skor menunjukkan angka yang cukup besar. 80-92. Tim junior benar-benar membabat habis presentase penguasaan bola melawan tim senior.
            “Skornya 80-92. Tim junior memang hebat. Mereka itu seperti monster….”
            Kyo dengan senyum lemah cukup kaget dan bahkan menyebut “monster” karena permainan tim junior yang sangat unggul
            “kamu benar… mereka seperti monster.. kemampuan mereka sudah hampir diatas rata-rata…”
            Tobio menambahkan perkataan kepada senior yang lain.
            “meski begitu… di quarter terakhir kita harus mencetak angka sebanyak-banyaknya…
            “e..anu…boleh aku mengatakan sesuatu?”
            “ada apa, Sorey?”
            “aku tahu bagaimana cara mengatasi mereka…”
            Sorey yang percaya diri ini memberitahu cara untuk mengatasi serangan dan juga stealth dari tim junior terutama saat dilakukan oleh Ryuzaki. Ia memberitahu bahwa untuk menghentikan Ryuzaki adalah jangan melihat pergerakan bola. Tapi melihat kemana bola itu diumpan. Dan yang terakhir kita lihat pemain yang akan diberikan.  Begitu penjelasan Sorey selesai, tim senior bersiap kembali di quarter keempat. Sorey akan menjadi kunci dari rencananya untuk tim senior. quarter keempat telah dimulai. Throw in dilakukan tim junior. Mikleo berlari membawa kemudian mengumpan kepada Tama disisi kanannya. Tama yang menerima umpan melihat sekelilingnya. Para pemain sudah melakukan man-to-man. Disisi kanan depannya ia melihat Ryuzaki diposisinya. Tanpa basa-basi mengumpan ke posisi tersebut. bola meluncur mengarah Ryuzaki. Ketika jaraknya sudah dekat. Ryuzaki segera mengumpan ke sisi kanannya yang dimana itu sisi kiri lapangan karena ia menghadap membelakangi ring basket lawan dan posisinya agak ke kanan ring basket lawan jika dilihat menghadap ke ring lawan. Dengan ayunan tangan kanannya segera melakukan pukulan untuk mengumpan. Sumber kekuatan dikumpulkan di telapak tangannya. Tangannya telah diayun. Namun, saat ia ingin mengumpan. Tadinya ia ingin mengumpan ke Ryuji yang berada di sisi kiri ring lawan. Ia seketika itu juga melihat Sorey yang sudah mengetahui dirinya disana dan akan memberikan umpan. Ryuzaki sempat terkejut melihat Sorey yang sudah sigap memblock umpan Ryuzaki. Ryuji pun juga menyadari bahwa ada Sorey persis dibawah ring. Padahal ayunan tangan Ryuzaki sudah seperti burung yang lepas dari sangkarnya dan terbang. Meski begitu, Ryuzaki masih bisa mengendalikan tangannya. Ia sengaja membuat tangan yang telah terayun ingin memukul bola basket itu seakan-akan tidak kena alias meleset. Hanya seperti memukul angin yang tak dapat disentuh. Sorey sampai terkejut melihat pukulan meleset itu. ia berpikir pukulannya meleset. Ternyata tidak, tangan kanannya tadi yang telah terayun kembali ia ayunkan dan kali ini ke kiri. Ia pun membuka telapak tangannya dan memukul keras bola itu dan dikembalikan lagi ke Tama yang masih di posisi. Begitu bola diterima, Tama menjadi kaget bahwa bola tersebut kembali lagi ke dirinya.
            Heeeh..!! bolanya kok dikembalikan lagi??...
            Pikir Tama sambil memandangi bola yang ia tangkap tadi. Lalu, ia memandangi Ryuzaki di posisi tersebut. lirikan mata Ryuzaki menunjuk kearah kanannya terlihat jelas di mata Tama. Tama pun melihat arah yang diberitahunya. Ia pun sekarang tahu alasan Ryuzaki mengembalikan bola kepadanya karena Sorey telah mengetahui posisi Ryuzaki. Begitu ia mengetahui, kali ini Tama yang mendapatkan bola langsung memilih melakukan shoot. Ia melompat dan bersiap tangannya melakukan shoot. Satoru yang melihat itu langsung maju dan ikut melompat melakukan block. Tangan kanannya sudah diangkat tinggi. Tama sempat terkejut melihat pergerakan Satoru. Tapi, ia masih bisa melakukan cara meski sudah melompat. Tangannya yang tadi sudah bersiap melakukan shoot ia turunkan sampai sebatas dada disaat masih melompat. Satoru menyangka ia melakukan fake.
            Sialan.. itu Fake…. Tunggu dulu.. kalau dia melakukan itu. dia tidak mungkin mendarat dan berlari. Dia bisa terkena ‘jump’ saat Satoru berpikir begitu, rupanya Tama masih melakukan hal lain. Bola dialihkan ditangan kanannya kemudian mengayunkannya dari bawah ke atas. Bola itu ternyata ia lempar menuju ring lawan. Satoru kaget kembali melihat kecerdasan Tama dalam bermain. Tatapan Tama yang begitu santai mencerminkan gaya permainan yang luar biasa. Dan bisa dikatakan seperti pemain pro. Bola yang dilemparkan Tama menuju ring lawan sayangnya terkena mulut ring sehingga tidak masuk.
            “REBOUND!!!...” semua menyeru. Para pemain yang berada di bawah ring melompat melakukan rebound. Mereka diantaranya adalah Tobio, Sorey, dan Ryuji. Pertarungan 2 lawan 1 ini memang tidak mungkin berhasil oleh Ryuji yang tingginya 186 cm melawan Tobio dan Sorey yang tingginya 197 cm dan 190 cm. hal yang tidak terduga pun terjadi. Sebuah tangan menyambut bola basket tersebut dengan satu tangan. Mikleo dengan menggunakan tangan kirinya berhasil menyambut dan menyentuh bola tersebut. Tobio dan Sorey tercengang dengan Mikleo yang benar-benar lompatannya tinggi. Sementara Ryuji senang karena merasa terbantu dengan Mikleo. Setelah berhasil, Mikleo langsung melakukan dunk yang cukup keras. “Braaak!!!” tim junior kembali mendapatkan 2 poin. Penonton bersorak dan gembira dengan permainan tim junior. Ikki tercengang melihat pertandingan itu. para guru yang melihat juga ikut tercengang. Alisha dan Mikasa seperti terkagum melihat pertandingan persahabat ini. Sampai-sampai mereka menganggap mereka hebat. Tama melihat tribun-tribun yang diisi penonton siswa SMA Ishiyama yang sedang sorak-sorai dan ada yang histeris karena gembiranya melihat pertandingan persahabatan itu. Satoru kemudian bertanya kepada Tama mengenai hal yang terjadi barusan.
            “Tama-kun, bagaimana bisa kamu bermain seperti itu?”
            “eh.. “bermain seperti itu” maksudnya?”
            “yaaa… kamu bermain itu seperti beda daripada yang lain. Gaya bermainmu terlihat asal dan agak berantakan tapi sangat mematikan dan dinilai menarik. Bahkan aku belum pernah melihat pemain kelas pro sekalipun yang  bermain seperti dirimu. Kamu ini ikut Street Basketball ya?”
                              
            “oh… semua pertandingan basket baik itu pertandingan resmi maupun street basketball sekalipun aku pasti ikut. Tapi, mengenai caraku bermain sih itu biasa aja. Nggak ada yang terlalu istimewa banget. Lagipula…..”
            Tama diam sejenak. Satoru pun menjadi penasaran. Pemain yang lainnya juga ikut penasaran. Setelah itu Tama menjawab dengan nada yang normal namun cukup ada penegasan menggunakan bahasa gaul ala Jakarta
            “………..INI GAYA BASKET GUE!” Tama sambil tersenyum mengatakan hal itu. Satoru sampai bingung mendengar kalimat Tama yang sebenarnya dia tidak mengerti. Tapi dalam hati ia sempat mengulang kalimat itu meski sedikit susah ia ucapkan karena itu bukan bahasa Jepang. Melainkan bahasa gaul ala Jakarta.
            I..Ini gaya.. basket G-Gu..Gue? Satoru yang sempat memasang wajah datar tanpa ekspresi kini berwajah sedikit masam dan bingung.

            Skor dipapan menunjukkan 80-94. Keunggulan dimiliki oleh tim junior. Tetapi kedua tim sama-sama tidak mau mengalah. Mereka bergantian mencetak angka. Setiap ada kesempatan keduanya sama-sama berhasil meraup poin. Baik 2 poin maupun 3 poin mereka dapatkan untuk tim mereka masing-masing. Kedua tim sangat bersemangat dan menikmati permainan. Penonton pun ikut terbawa suasana untuk terus mendukung kedua tim. Tidak ada time out dalam quarter yang terakhir ini. Karena seluruh lapangan banyak yang terbawa suasana dan merasakan euphoria dalam lapangan. Mereka sampai tidak sadar bahwa waktu telah habis. Pluit panjang ditiupkan oleh Takaki-sensei yang menjadi wasit. Penonton bersorak-sorai kembali mendengar pluit panjang tersebut. itu pertanda pertandingan telah selesai. Skor akhir ialah 101-110. Kemenangan diraih oleh tim junior. Walaupun ini bukanlah kompetisi untuk mendapatkan gelar juara atau piala tetapi kedua tim sama-sama bangga. Terutama para pemain kelas 1. Yaitu Mikleo, Ryuji, Ryuzaki, Kageyama, Natsuki, Matsunaga dan yang terakhir Tama. pemain senior seperti Minamoto, Satoru, Kyo, Tobio, Sorey dan Ryouta memberikan ucapan selamat.
            yoo… anak-anak kelas 1 ! selamat bergabung di tim basket Ishiyama. Kami mengharapkan kemenangan melalui kekuatan kalian…”
            Minamoto dengan perasaan bangga meresmikan mereka bertujuh. Para pemain kelas 1 menerima dengan bangga dan senang. Selanjutnya kedua tim dipersilahkan berdiri ditengah lapangan, saling berhadapan dan mereka sama-sama membungkuk sambil mengatakan “Arigatou Gozaimasu!!!”. Bisa dikatakan sebagai penghormatan setelah bermain. Ikki selaku pelatih Ishiyama, kemudian para guru, siswa-siswi Ishiyama dan panitia pelaksana memberikan tepuk tangan kepada mereka berdua yang  telah bermain sangat baik dan memberikan kejutan-kejutan yang menarik melalui permainan basket mereka. Sekali lagi para pemain kelas 1 benar-benar sangat bangga dan berhasil membuktikan kelayakan mereka untuk menjadi anggota tim basket Ishiyama.

            Lapangan indoor yang juga sebuah aula dengan ruangan yang besar dan luas telah sedikit. Hanya menyisakan anggota tim basket Ishiyama. Yang pastinya anak-anak kelas 1 telah bergabung juga disana. Mereka bercengkrama satu sama lain. Melepaskan canda tawa dan bergembira ria setelah lelahnya bermain tadi. Lalu, Alisha dan Mikasa datang menghampiri anggota tim. Semua terpana melihat mereka berdua datang. Sampai-sampai mereka membuka mulut mereka. Kecuali Tama dan Mikleo. MIkleo berdiri dan menyapa Alisha.
            “wah, Alisha? Ada apa kamu kesini?”
            “selamat ya sudah resmi bergabung…”
            “ahahaha.. terima kasih. Kamu nonton juga, ya?”
            “tentu saja… kalau soal basket mah kamu emang jagonya.”
            “hahaha… iya deh.. sekali lagi makasih, ya”
            Alisha kemudian memandangi Tama yang berada menyerong kekanan dan agak dekat.
            “Tama.. kamu juga. selamat ya. Kamu bermain sangat hebat.”
            “hemm.. iya makasih Alisha. Terima kasih juga sudah mau menonton kami.”
            Alisha sedikit tersipu dan tersenyum malu dengan Tama dan memindahkan sisi rambutnya yang menutupi telinga kirinya ke belakang telinga kirinya.
            “oh, iya.. Alisha. Gadis imut berkacamata ini siapa?”
            Mikleo bertanya dengan senyuman romantis. Mikasa yang sempat melihat Mikleo langsung malu, mukanya merah dan membuang pandangan ke kanan dan menggenggam tangannya sendiri dan meletakkan diantara leher dan dadanya.
            “kenalkan.. dia ini pengagummu dikelas. Namanya Mikasa Koyuki.”
            “eh…Alisha-san. Jangan bilang pengagum dong! Emangnya aku ini seperti pengagum orang barat?”
            “dan satu lagi, Mikleo. Dia ini gadis tsundere loh.”
            “heeee!!!. ALISHA-SAN!!”
            “wah.. ada gadis bule juga ya? Hmm.. harum sekali dia. Kenalkan aku Sorey. Namamu siapa?”
            Sorey langsung merebut tangan Alisha dan bertingkah agak menjijikan dengan sok-sok-an ingin berkenalan dengan Alisha. Matanya seperti mengeluarkan bentuk love berwarna merah jambu.
            “eee…aku… Alisha..”
            “hooo.. Alisha? Kamu cantik sekali.. kamu tinggal dimana? Boleh minta nomor Hp mu nggak?”
            Tobio bangkit dari tempat ia duduki lalu menjambak rambut Sorey dengan kuat lalu menariknya untuk menjauhi Alisha.
            “hey, ‘mulut terompet’! berhenti godain cewek! Caramu berkenalan itu najis banget! Sumpah deh!..”
            “Aduuuuh.. Tobi-chan. Ampun… sakit nih… kejam banget.. heee..”
            Sorey mengerang kesakitan dan mengeluarkan air mata dan ingus di hidungnya. Mikleo kembali melanjutkan obrolannya dengan Mikasa.
            “Mikasa, perkenalkan. Aku Mikleo. Makasih ya udah mau lihat pertandingan disini. Ini sih hanya latih tanding saja.”
            “hmm..e.. i-iya.. “
            Mikasa masih malu-malu dengan Mikleo namun dalam hatinya ia senang sekali bisa bertemu Mikleo.
            “wah.. sepertinya tambah ramai aja nih.. tapi, Ikki dan Nakamura-sensei belum datang juga….”
            Minamoto sempat mengatakan Ikki dan Nakamura-sensei belum datang. Baru saja disebutkan nama mereka, bisa dibilang panjang umur. Mereka berdua muncul.
            “maaf… kami baru datang”
            Ikki meminta maaf karena baru datang
            “wah..sudah pada kumpul ya?? Dan juga Alisha dan Mikasa ada disini. Baiklah.. untuk ‘anak-anak’ku yang masih eksis di tim Ishiyama. Saya ucapkan selamat kepada para kelas 1 yang telah bergabung. Begini, saya punya pengumuman untuk kalian. Kita mendapatkan undangan dari SMA Nankatsu. Mereka mengundang kita untuk latih tanding di sekolah mereka.”
            “wah.. latih tanding.. pasti seru sekali…”
            Ryuji sampai nyeletuk karena gembira mendengar kabar latih tanding tersebut.
            “Ikki sudah menyimpan surat undangannya. Jadi, saya harap kalian bisa membuktikan kepada mereka mengenai kemampuan Ishiyama yang sekarang meskipun hanya latih tanding. Apalagi mereka’kan sudah lama berdiri klubnya dan pernah mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Tapi, kita biarpun baru genap 1 tahun tetap memberikan semangat juang kita kepada mereka”
            Nakamura-sensei memotivasi anggota tim Ishiyama. Para pemain serentak bersuara “BAIK!!” dengan kencang. Setelah itu, Minamoto langsung mengambil alih suara.
            “Oke.. kalau begitu. Sebelum kita bubar nih.. aku sempat memesan kepada Tama untuk membawakan sesuatu kesini. Nah, Tama. mana pesananku? Bawa’kan?”
            “tentu saja.. silahkan dinikmati”
            Tama menunjukkan kotak bekal yang lumayan besar dan membuka tutupnya. Isinya adalah Bika Ambon dan Lapis Legit. Semuanya yang melihat seakan-akan seperti lilin yang meleleh karena senangnya melihat kue khas Medan ini. Terutama Minamoto, Kyo dan Ikki yang sudah tidak sabar ingin menyantapnya. Tama langsung membagikan kue-kue itu kepada yang lainnya. Nakamura-sensei ikut mencicipinya. Tidak hanya sampai disitu. Tama juga membawa Bakpia Yogyakarta rasa Coklat. Mereka semakin bersemangat memakan kue-kue yang dibawa Tama. Ryuji, Mikleo dan Kageyama sampai banyak mengambil kue. Tama merasa senang sekali bisa melihat keceriaan ini. Bagaikan sedang berada dilingkungannya dulu di Indonesia. Dia juga bisa merasakan sebuah kebersamaan itu di sini. Tim Basket SMA Ishiyama. Ia tersenyum lebar dan merasa bahagia sekali. Ia berharap bisa mendapatkan kesuksesan dan bisa membawa tim Ishiyama menjadi klub basket SMA yang terbaik.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 1)