LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 1)

BASKETBALL ADRENALINE
(by : Ahmad Roki Fadhil)
Chapter 1 
(SI ANAK INDONESIA, PRATAMA BUDIMAN)





P
antulan suara bola basket begitu keras dimainkan oleh 6 orang siswa laki-laki di SMA Ishiyama dengan sistem permainan 3 on 3. Permainan yang indah dan terlihat seksi seperti melihat pemandangan alam dari atas bukit ditambah lagi teriakan mereka yang bermain basket terdengar sampai keluar lapangan indoor. Membuat atmosfer di dalam sana semakin kuat untuk menaikkan semangat pada masing-masing pribadi “Hey, umpan bola kesini!” terdengar suara orang yang meminta bola di dalam lapangan indoor. “Defense!...Defense..!” terdengar lagi suara orang yang berteriak di lapangan indoor. “Braaak!!” suara dunk yang kencang dari seseorang yang memasukkan bola basket ke dalam ring menjadi penutup riuhnya isi lapangan.
             Yosh!... ini yang ketujuh kali aku melakukan dunk.”
            Seru seorang pemain center, Sorey Shimazu. Kelas II-C. Dengan alis tebal, berambut pendek dengan rambut-rambutnya seperti landak. Tinggi badannya 190 cm.
            “seperti biasanya… kau melakukan dunk yang cukup banyak dalam waktu 3 menit.”
             Kata Ryouta Fukunishi, seorang Shooting Guard. Kelas II-C dengan tinggi badan 180 cm
            “Hoi… Sorey, itu masih belum ada apa-apanya”
             jawab Tobio Michiru, pemain Center. Kelas III-C, tinggi badan 197 Cm
            “ hmm… Sorey memang suka kegirangan seperti itu.”
            tambah Satoru Takuya, pemain Forward. Kelas III-B. tinggi badan 192 Cm.
            “ Hey, Tobi-chan! Jangan meremehkanku ya! Bagaimana kalau kita one-on-one?”
            Sorey kembali berbicara. Kali ini ia menantang Tobio bermain one on one. Entah apa yang dipikirkannya yang jelas Sorey merupakan orang yang berbicara sesuka hatinya saja.
            “Hah?! Lagi-lagi kau memanggilku Tobi-chan? Dasar adik kelas yang kurang ajar. Tapi, boleh juga kau menantangku one-on-one. Ayo, kita mulai!”
            Tobio menerima tantangan dari Sorey.
            “ Dasar si Sorey bodoh..! sudah tahu dia sering kali melawan Tobio. Asli ‘otak udang’”
            kata Kyo Nobisuke, seorang Small Forward yang sedang memakan cemilan yang cukup banyak. Mengatakan ‘otak udang’ kepada Sorey. Dia dari kelas III-A. tinggi badan 184 Cm.
            “ Kyo-Senpai jahat! Memanggilku ‘otak udang’. Kali ini aku tidak akan kalah sama si jangkung ini”
             sambil menunjuk Tobio. Dalam hati, Tobio bergumam
            Dasar bocah gila! Tak ada habisnya mengejekku. Awas kau!
            Kemudian mereka langsung memulai one-on-one. Sorey melakukan offense, sedangkan Tobio melakukan defense. “ Nah, Tobi-chan… Ayo! Bersiaplah untuk merasakan kehancuranmu”.
            “ciiih… dasar mulut terompet. Kita lihat saja siapa yang paling banyak memasukkan bola”
            kata Tobio dengan senyum menantang. Sorey memantulkan bola dan bersiap-siap menyerang. Hitungan detik Sorey mulai bergerak dan berlari mencari celah agar dapat melewati Tobio. Namun Tobio terus membayangi Sorey. Meskipun mereka tinggi semampai, tapi Tobio masih unggul mengenai postur tinggi daripada Sorey yang memiliki tinggi 190 cm. sedikit mengeluh karena tidak dapat melewati Tobio tidak membuatnya menyerah atau berhenti berlari. Beberapa menit ia berlari mencari celah akhirnya ia pun mendapatkan celah dan langsung melewati Tobio dengan gocekan yang baik dan langsung nge-dunk di ring basket.
            “ wah, Sorey hebat……”
            Ryouta sambil bertepuk tangan.
            “ iya sih.. bagus. Tapi, kelamaan larinya. Jadi bosan lihatnya.”
            Gumam Kyo dengan suara yang lesu.
            “ Kyo-senpai menyebalkan… setelah ini, kamu harus melawanku!”
            kata Sorey yang kesal dengan Kyo.
            “hey..! mulut terompet. Cepat kau defense. waktunya aku yang menyerang.”
            Kata Tobio bernada tinggi
            “Oke, Jangkung-senpai. Aku siap!”
            ciih.. Jangkung-senpai katamu?! Awas kamu!
            Tobio mulai kesal dalam hati. Tobio langsung mengambil ancang-ancang menyerang. Serangan Tobio tidak seperti Sorey yang tidak terlalu banyak berlari. Ia cukup melihat sisi sampingnya. Setelah melihat sisi samping, ia melangkah ke kanan beberapa langkah. Tanpa basa-basi langsung melepaskan tembakan diluar lingkaran. Bola tersebut masuk ke dalam ring.
             “WOOOOW!!! Tobio! Kau keren!”
            Kyo mulai berteriak.
            “Keren, Gundulmu! Apanya yang keren Cuma langsung ‘nembak’ gitu?” Kata Sorey kesal. “ Hoi.. Suka hatikulah… mau langsung nembak kek… mau gocek-gocek kek.. bukan urusanmu. Mulut terompet!...”
             Tobio kembali kesal.
            “nggak bisa kayak gitu… najis…!”
            “kau bilang apa!! Najis?!... kamu sendiri apa?!.. Mulut terompet!”
            keributan mereka tidak terhentikan, datang seorang pemuda langsung melemparkan 2 bola basket ke kepala mereka dengan keras.
            “Hoi.. berisik kalian para jangkung gila! Kalau mau ‘berantem’, diluar sana!” teriak Minamoto Hiromi, seorang kapten tim basket yang berposisi  sebagai Forward. Tinggi badannya 178 Cm. kelas III-A
            “kalian kalau ribut-ribut seperti tadi, kalian bakal dapat hukuman. Membersihkan tempat ini sampai bersih.”
            Lanjut Ikki Kayo, seorang gadis muda yang menjadi pelatih tim basket Ishiyama. Ia dari kelas III-A dengan postur tubuh yang ideal dan tinggi badan 168 Cm
            “wah… jangan dong! Ampun deh… mulai sekarang kita damai..”
            kata Sorey sambil memohon-mohon.
            “Iya nih.. janji deh.. kita bakal damai”
            Tobio ikut memohon juga.
            “baiklah… semuanya! Lusa kita sudah harus siap membuka stan untuk pendaftaran anggota basket yang baru.. jadi tolong semuanya sudah menyiapkan apa yang sudah kita rapatkan sebelumnya.”
             Ikki memberitahukan persiapan pendaftaran anggota basket.
            “dan tambahan dariku… 2 bulan lagi kualifikasi inter-high akan dimulai. Jadi, persiapkan diri kalian juga dan bimbing adik-adik kelas kita yang nantinya bergabung di tim basket Ishiyama. PAHAM!!”
            lanjut Minamoto
            “PAHAM!!!” semua berseru.
            “ Oke, semua berkumpul, kita teriakkan motto kita!” semuanya mulai melingkar. Ketika Minamoto mengatakan “ISHIYAMA!!!” semua berseru “YES! WE CAN!”
           
            Suasana ramai di bandara Narita pada pukul 7 malam. Seorang pemuda memakai jaket merah dan celana hitam serta sepatu sket hitam list putih sedang menunggu barang-barangnya keluar dari bagasi pesawat. Memiliki rambut ikal berwarna hitam dan pendek namun memiliki poni yang indah layaknya K-Pop dan beberapa sisi rambutnya ada yang cukup panjang menambah kesan ketampanan yang luar biasa. Pemuda ini bernama Pratama Budiman. Berasal dari Indonesia dengan postur tinggi 180 Cm dan berat badan 67 Kg. lebih akrab disapa Tama. sambil menunggu tasnya yang berwarna putih keluar dari bagasi dan beberapa oleh-oleh khas Indonesia diantaranya satu dus berukuran besar berisi Bika Ambon dan lapis legit dari Medan yang ia beli dari Bandara Soekarno-Hatta, 4 bungkus kemplang atau kerupuk Palembang yang ia bawa bersamanya ketika berada di dalam pesawat dan bakpia Yogyakarta dua dus dengan satu dus isi 6 kotak dengan rasa yang berbeda. Coklat, Keju, Kopyor, Kacang hijau, Srikaya, dan Mocha. Kemudian ia mengecek handphonenya. Ada pesan masuk. Pengirimnya adalah Tante Anita, salah satu bagian dari keluarganya. Isinya adalah “Tama, Tante ada diluar. Ditunggu.”. setelah ia mengambil barang-barangnya dari bagasi, ia keluar. Tantenya melambaikan tangan kearahnya. Tama melihat Tantenya disisi kirinya berada dibelakang pembatas. Lalu, mereka berdua meninggalkan bandara dengan menumpangi taksi. Didalam taksi, mereka mulai melakukan pembicaraan hangat. Yang pasti pakai bahasa Indonesia.
            “kamu beli bika ambon, lapis legit, kemplang sama bakpia dimana?”
            “kalau kemplang kebetulan didekat rumah ada yang jual. Kalau bakpia Jogja sih dikasih sama Om Karyo. Kalau bika ambon sama lapis legit sih beli di Bandara Soe-Ta”
            “tapi itu mahal kan?”
            “lumayan sih.. satu loyangnya 100 ribu. Karena ini berukuran besar. Kebetulan habis 500 ribu. Nggak apa-apalah.. sekali-sekali beli yang mahal”
            “hmm… ya udahlah.. itu terserah kamu aja. Makasih banyak udah bawa oleh-oleh. Ngomong-ngomong, Tama.Bagaimana kabar keluargamu?”
            “mereka baik kok, mereka juga nitip salam sama Tante.. apalagi Fika udah kepengen banget ketemu Tante.”
            “hehe.. maaf ya.. Tante emang sampai sekarang belum bisa pulang ke Indonesia. Tapi memang ya adikmu itu cerewet sekali.”
            “yaaah.. Tante’kan tahu sendiri sifatnya itu kayak apa. Kadang-kadang saya sampai pusing 10 keliling denger ocehannya dia tuh.”
            “hehehe… benar banget tuh… hmm.. terus perjalananmu dari Jakarta ke Tokyo bagaimana?”
            “yaahh… rasanya seperti naik unta melewati gurun pasir selama 3 hari 3 malam”
            “hahahaha…. Tama… nggak kamu… nggak adikmu.. pasti bikin Tante ketawa terus. Memang keponakan Tante lucu-lucu semua.”
            “Tante juga, makin cantik aja. Ngomong-ngomong, udah punya pacar belum, Tante?”
            “hmm… punya nggak ya??.. kasih tahu nggak ya??.. kayaknya nggak usah deh…”
            “hehe… kalau jomblo bilang aja.. hehe…”
            “enak aja… kata siapa jomblo?”
            “Kata saya….”
            Tama menunjuk dirinya sendiri dengan muka polos.
            “isshh.. kamu nih.. sekarang punya dong. Kebetulan orang Jepang.”
            “asyiiikk… punya pacar orang Jepang. Siapa namanya? Kenalin dong sama saya.”
            Tama kegirangan
            “hehe…. Namanya Nakamura. Dia seorang guru SMA. Dan dia tampan loh..”
            “hmm.. kira-kira seberapa tampan kalau dibandingkan saya..? hehe”
            “Waaahh… itu pilihan yang sulit.. hehe..”
            “hahaha.. bercanda kok… …terus, kalian kenalnya kapan dan dimana?”
            “Kebetulan Tante ketemu di sebuah minimarket didekat kantor Tante kerja 2 bulan yang lalu… sumpah deh, itu kejadian yang nggak bisa Tante lupakan. Kalau nggak ada si Nakamura itu, mungkin nyawa Tante bisa terancam deh.”
            “terancam? Emang gimana sih ceritanya?”
            “waktu Tante lagi belanja disitu, tiba-tiba ada 4 preman datang. Serem banget deh. Kebetulan Nakamura yang sebelumnya belum Tante kenal juga ada disana. nggak disangka loh Nakamura itu pemberani. Bisa ngalahin 4 preman itu. singkat ceritanya, setelah kejadian itu kami langsung pulang bareng deh. Tante di antar naik motor sampai depan rumah.”
            “dan bisa ‘jadian’ itu bagaimana?”
            “kebetulan dia minta nomor handphone Tante. Ya.. abis itu sering komunikasi, sering ketemuan juga. dan akhirnya dia langsung ‘nembak’ Tante. Jadi, Tante terima deh. ”
            “oh.. begitu.. berarti suka sama suka dong.? Congratulations Tante.”
            “haha.. terima kasih.. oh, ya. Satu lagi nih. Kebetulan dia itu guru di SMA Ishiyama loh. Nah, nanti kamu bisa jumpa sama dia. Apalagi kamu sempat bilang kalau kamu mendapatkan beasiswa dan sekolah disana’kan?”
            “hmm.. itu benar. Rasanya kebetulan sekali ya. Sudah tidak sabar saya ingin pergi kesekolah baru.”
            Sampai dirumah, Tama langsung menaruh barang-barangnya dikamar yang telah disediakan Tantenya. Setelah ia keluar dari kamar, Tante Anita memanggilnya
            “Pratama…!!”
             Beliau langsung melemparkan bola basket kearahnya. Sontak ia langsung menangkap bola tersebut.
            “bola basket? Warnanya biru langit? Ini cukup langka..”
            “Tama… satu hal yang ingin Tante sampaikan. Disana ada klub basket. Dan Nakamura-sensei adalah penasehat klub basket. Klub itu baru terbentuk satu tahun yang lalu. Dan mereka sangat membutuhkan anggota baru. Karena kamu dulu pernah ikut kejuaraan basket dan kamu punya potensi disitu’ menurut Tante, kamu memilih sekolah itu sangatlah tepat.”
            Tama langsung menatap bola basket yang dipegangnya. Ia merasakan adanya sebuah harapan yang cukup besar yang nantinya akan ia dapatkan.
            “terima kasih Tante.. saya benar-benar sudah tidak sabar ingin kesekolah”.
            “oh, iya… baiklah.. kalau begitu, Tante tunggu dibawah. Tante sudah siapkan makan malam. Dan setelah itu, istirahatlah..”
            “Baiklah”
           
            Di SMA Ishiyama sudah mulai ramai siswa-siswi dilingkungan sekolah. Banyaknya stan ekstrakurikuler berjajar rapi dihalaman sekolah setelah 2 hari lamanya. Dari ekskul tentang olahraga, kesenian, ilmiah, bahkan stan jajanan pun juga ada. Dan masih banyak jenis stan yang ada di sana. Tama yang sudah sampai di depan gerbang bersama Tante Anita sampai terkesima melihatnya.
            “Tante.. ini meriah sekali..seperti lihat pasar kaget di Jalan Baru Kranji”
            “Meriah..? haha.. kamu pikir ini pesta? Ini hanya stan ekskul.. di sekolah-sekolah Jepang seperti inilah cara mereka memperkenalkan ekstrakurikuler mereka. Dan mereka juga memperlihatkan prestasi mereka juga dibidang non-akademik. Ayo! Kita masuk!”
             mereka berdua pun masuk. Tama merasa takjub melihat sekolah barunya yang begitu bagus dan cukup luas. Dan juga melihat-lihat banyaknya stan yang didirikan oleh siswa-siswi di sekolah tersebut. hingga tak lama kemudian Tama melihat stan klub basket yang diceritakan oleh Tantenya dirumah semalam. Tama langsung meminta izin kepada Tantenya untuk menuju ke stan klub basket itu.Tante Anita mengizinkannya dan kemudian mereka pun berpisah. Tama pergi ke stan klub basket Ishiyama sedangkan Tantenya pergi menemui Nakamura-sensei, guru yang mengajar di SMA Ishiyama yang sekaligus adalah kekasihnya.
Sementara di stan klub basket, dijaga oleh 4 orang yaitu Minamoto, Ikki, Sorey dan Ryouta.
            “aduuh…. Lelah sekali aku menunggu. Mana yang daftar belum ada lagi. Aku mengantuk. Mau pulang saja, ah..”
             kata Sorey yang mulai mengeluh.
            “Kau ini bodoh, ya? Baru satu jam kita disini dan kau sudah mengeluh? Dasar payah..!”
             jawab Ikki yang sedikit kesal dengan Sorey.
            “Iya nih… kau ini bagaimana, Sorey? Lagipula disini banyak anak-anak baru yang datang ke sekolah ini. Aku yakin, pasti akan ada yang mendaftar.”
            Sambung Ryouta dengan penuh keyakinan. Kemudian, Minamoto memukul kepala Sorey dengan kipas. “CETAASS!!”.. begitulah bunyinya.
            “Yo… Sorey, sebaiknya kau tenang, jangan banyak mengeluh atau ‘kubunuh kau’, Paham?!”
            “eh-a-i-iya… maaf, kapten!” kata Sorey mulai gelagapan. Tak lama kemudian, Tama datang menghampiri mereka bereempat. “sumimasen, apa benar ini stan klub basket Ishiyama?”
            “iya, betul… apa kamu ingin mendaftar?” Tanya Ikki
            “Tentu saja.. boleh aku mendaftar?”
            “silahkan duduk!.. akhirnya ada yang mendaftar juga.” jawab Ikki dengan bahagia
            Hajimemaste, Watashi namae wa Pratama Budiman. Kalian bisa memanggilku Tama. salam kenal”
            “Oh.. Tama-kun? Baiklah, silahkan isi formulirnya.”
            Minamoto memberi Tama form pendaftaran klub basket. Tama pun mengisinya. Setelah mengisinya, Ikki terkejut melihat isi biodata Tama.
            “heeeh… kamu pindahan dari Indonesia, ya?”
            “iya.. betul sekali”
            “wah, suatu kehormatan bagi kami mendapatkan murid asing. Perkenalkan aku Minamoto Hiromi, kapten tim basket Ishiyama. Posisi utamaku adalah Forward. Aku dari kelas III-A. salam kenal.”
            “perkenalkan, namaku Sorey Shimazu. Kelas II-C. posisiku Center. Kadang-kadang bisa menjadi Forward. Salam kenal”
            “kalau namaku Ryouta Fukunishi, kelas II-C. posisiku Shooting Guard. Salam kenal”
            “sedangkan namaku adalah Ikki Kayo, kelas III-A. dan aku adalah seorang pelatih tim basket putra Ishiyama.”
            “wah.. pelatihnya seorang perempuan, ya? Rasanya terlihat lebih manis dan seksi.”
             Kata Tama. Ikki pun langsung tersipu malu saat mendengar kalimat yang diucapkan Tama.
            “b-b-benarkah??... apa me-memang aku ini manis.. dan seksi??”
             Ikki sampai tidak dapat menahan rasa senang bercampur malu dan ditambah lagi cara bicaranya sedikit terbata-bata.
            “itu memang benar… di Indonesia belum ada pelatih wanita untuk basket putra. Yaaah.. basket putri pun juga rata-rata pelatihnya seorang pria.”
            Mendengar itu Ikki pun akhirnya menjadi kegirangan sampai-sampai ia merasa sedang melayang di udara. Ketiga laki-laki yang ada disampingnya pun juga hanya bisa melihatnya dengan heran dan kebingungan.
            “ yaah.. mulai lagi deh sifat Love flynya.”
             Kata Ryouta sambil menggaruk kepala.
            “itulah wanita. Pasti bakal termakan rayuan sang lelaki. Hahaha…”
            tambah Minamoto
            “oh, ya.. ngomong-ngomong kau ini punya pengalaman bermain basket cukup banyak ya?”
            Sorey bertanya kepada Tama.
            “Oh.. tentu saja… selama di SMP aku bergabung di ekskul basket. Untungnya aku sudah mendapatkan beberapa prestasi.”
            “hmm.. begitu ya… apa kau bisa bercerita sedikit tentang pengalamanmu membawa prestasi basket untuk sekolahmu?”
            “tentu saja jika kalian mau…”
            “wah.. pasti kami mau dong. Kami’kan ingin tahu orang Indonesia bermain basket seperti apa.”
            Kata Ikki dengan tersenyum.
            “ gaya bermain Indonesia dengan dinegara lain sih tidak ada bedanya. Mungkin dari postur tubuhnya saja yang berbeda. Lagipula orang-orang dari asia tenggara khususnya di Indonesia, postur tinggi badan saja normalnya 150 cm sampai 175 cm. ada sih yang lebih tinggi dari itu tapi jarang sekali.”
            “kamu sendiri, berapa tinggi badanmu?” Tanya Ikki
            “tinggi badanku 180 cm”
            “wah… untuk ukuran orang Indonesia itu sudah termasuk tinggi ya… kalau di Jepang, tinggi segitu mah normal-normal saja. Malah saat ini, tinggi badan setiap masyarakat di Jepang sudah ada yang lebih dari 180 cm.”
            “hmm.. aku akui itu. itu juga dari faktor lingkungan, pola makan dan gaya hidup pun juga berpengaruh akan pertumbuhan tubuh manusia. Meski begitu, olahraga tetap menjadi andalan untuk masyarakat di dunia. Terutama aku, waktu di Indonesia setiap seminggu sekali sering bermain basket. Memang peminatnya sedikit karena rata-rata orang lebih suka sepak bola.”
            “kau benar, Tama. sepak bola atau futsal memang masih menjadi nomor satu di dunia. Tapi bukan berarti basket tidak bisa eksis. Ya’kan?”
            kata Ryouta
            “Benar sekali.. malah bagiku.. basket itu seperti olahraga yang seksi dan punya sensasi tersendiri.”
            Sambung Sorey.
            “hmm… aku setuju itu.” kata Tama
            “kamu dari SMP mana?” Tanya Minamoto
            “aku dari SMP Kusuma Jaya, Bekasi. Dan sekolah itu sudah banyak menoreh prestasi dari siswa-siswa disana. Apalagi basket. Selain futsal, basket pun juga punya banyak prestasi yang terpampang di sekolahku itu. tapi, waktu aku masih kelas 1 SMP. Kami pernah mengalami kekalahan saat bertemu salah satu sekolah yang cukup kuat diwilayah Jakarta diperempat final.”
            “ Sekolah mana yang menjadi lawanmu itu?” Tanya Minamoto
            “SMP Negeri 90, Jakarta. Mereka memiliki pemain basket yang hebat. Bahkan beberapa diantaranya pernah ikut kejuaraan nasional. Tapi, setelah aku mulai duduk di kelas 2 SMP. Kami bisa membalikkan keadaan saat bertemu dengan mereka lagi di babak final tingkat kota”
            “begitu ya… hmm.. kalau aku lihat di pengalamanmu. Kamu ini pernah ikut kejuaraan tingkat propinsi,  se-Jawa dan pernah ikut nasional juga. apalagi kau pernah menjadi pemain terbaik di SMP-mu itu. sepertinya kau ini hebat ya… kayaknya Ishiyama bakal punya harapan nih.”
            Kata Ikki yang penuh dengan harapan.
            “hehehe… tidak juga kok… aku ini masih belum ada apa-apanya. Sehebat apapun aku, yang pasti masih ada yang lebih hebat dariku. Jadi, aku ini hanya menjalankan apa yang aku suka dan akan aku lakukan dengan sungguh-sungguh.”
            “bijaksana sekali perkataanmu… dan juga kamu ini rendah hati orangnya. Belum ada orang yang bisa berbicara dengan kalimat seperti itu. aku tersentuh sekali.” Kata Ryouta
            “haha…. Tidak usah berlebihan begitu.”
            “tapi, aku setuju denganmu… karena aku harus jujur. Disini, orang-orang yang bisa berbicara dengan kalimat seperti itu atau kata-kata bijak lainnya sangat sulit untuk ditemukan. Karena banyaknya jiwa apatis yang masih diselimuti di Negara ini. Tidak bermaksud berburuk sangka. Hanya saja, aku sedikit kesal setiap ada yang merasa memiliki kemampuan yang baik dari orang lain. Malah orang tersebut menyombongkan diri dan bersifat arogan.”
             Minamoto sedikit bicara panjang lebar.
            “Aku setuju.. di Indonesia juga demikian.. yaaah.. namanya juga manusia. Tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik dan pengaruh yang positif untuk lingkungan sekitar.”
            “keren… kau ini memang orang bijak yang kutemui di Ishiyama. Semoga kamu juga bijak dalam bermain basket.” Kata Ikki
            “Aaamiiin… terima kasih….”
Tak lama kemudian, Tante Anita bersama dengan Nakamura-sensei datang ke stan klub basket. “Pratama!!” Tantenya memanggil.
             “oh, Tante? Sudah selesai urusannya?”
            “tentu saja… ini guru yang kuceritakan padamu”
            kata Tante Anita dengan bahasa Indonesia.
             “jadi kamu yang bernama Pratama Budiman, ya? Aku Nakamura. Kebetulan aku guru disini.” Sambil menjabat tangan Tama.
            “dan aku juga sebagai penasehat klub basket Ishiyama. Salam kenal ya.”
            “hmm… salam kenal juga.”
            jawab Tama dengan bahasa jepang
            “Tantemu sudah berbicara cukup banyak tentangmu. Dan juga bahasa jepangmu cukup fasih ya. Kebetulan aku mengajar mata pelajaran bahasa jepang. Jadi, saat belajar bahasa jepang, maka aku yang akan mengajar di kelas.”
            “begitu ya… kalau memang seperti itu mohon bimbingannya.”
            “tidak usah formal begitu.. santai saja. Oh..iya. dan juga… selamat datang di SMA Ishiyama. Dan selamat ya, kamu mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disini. Kamu masuk di kelas 1-B. mulai besok kau sudah bisa masuk sekolah.”
            Arigatou gozaimasu………..”
            “jangan berterima kasih padaku. Masih terlalu cepat untuk mengucapkan terima kasih. Nah… kalau begitu, aku harus permisi ya.. masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di ruang guru.”
            “baiklah.. kami juga ingin permisi pulang. Terima kasih ya sudah membantu….”
Tante Anita dan Tama langsung pergi meninggalkan sekolah. Sementara itu, Ikki bersama 3 pria di stan basket baru mengetahui bahwa Tama adalah keponakan Tante Anita yang menjadi kekasih Nakamura-sensei. Begitu pun Nakamura-sensei, berpamitan dengan Ikki, Minamoto, Ryouta dan Sorey.
            “jadi, dia itu keponakannya Tante Anita, ya?”
            Ikki bergumam sendiri
            “mereka akrab juga…  kupikir itu Ibunya…”
            kata Sorey.
            “apalagi, dia itu dapat Beasiswa disini. Hebat”
            Ryouta menambah kalimatnya dengan perasaan kagum
Tak lama setelah itu, datang seorang pria dengan postur tinggi dan tegap, berkulit putih dan berambut pirang. “sumimasen, apa ini stan klub basket?”
            mereka semua terkejut melihat pria bertubuh tinggi dan berambut pirang ini.
            “perkenalkan, aku Mikleo Fritz. Aku berasal dari Jerman. Dan sekarang aku pindah kesini dan bersekolah disini. Apa masih ada tempat untukku bergabung?.....”
            semuanya terdiam ketika melihat ada murid asing lagi yang mendaftar di klub basket Ishiyama.
           
            Dalam perjalanan menuju ke rumah, Tama dan Tante Anita melewati sebuah jalan yang kebetulan ada lapangan basket disebelah kanan Tama. ia melihat ada seseorang yang sendirian bermain basket. Karena Tama ingin masuk ke lapangan dan bertemu dengan seseorang tersebut. ia meminta izin kepada Tantenya untuk bermain basket dengan seseorang yang ada dilapangan tersebut. Tantenya yang tahu sifat Tama yang tidak tahan melihat bola basket mengizinkannya. Tanpa berpikir panjang, Tama langsung menghampiri orang tersebut.
             “permisi… kamu sendirian saja?”
            “huh? Siapa kamu?....”
            Tanya orang tersebut dengan wajah datar
            “aku Tama, Pratama Budiman…”
            “nama macam apa itu?”
Tama langsung terkejut dan sedikit lesu.
            Dalam hati mengatakan aduuuh.. kejam sekali pertanyaannya.  kemudian Tama kembali berbicara. “eee… eto….. apa kamu ingin bermain basket denganku?”
            “Tidak..!” jawabnya dengan ketus
            aduuuh… benar-benar kejam jawabnya
            Tama berkata dalam hati sampai tersenyum masam.
            “pergi sana!.. menganggu saja.. aku ingin sendiri..”
            Lagi-lagi dijawab dengan ketus. Sudah begitu diusir dengan cara yang jutek
            “hehe… dingin sekali kamu ini… memangnya seru bermain sendirian?”
            “mungkin saja”
            “heeh.. mungkin saja? Hahaha… aneh kamu ini.. tapi lucu sih..”
            “lucu? Kamu pikir aku lagi ngelawak..? bodoh…”
            Pemuda berbadan tinggi ini menjawab dengan ketus dan ekspresi wajah yang datar. Tama yang mendengar itu hanya tersenyum pahit dan berkata dalam hati sekarang dia mengatakan aku bodoh… kejam juga mulut orang ini.. kayaknya aku harus menyambut dengan cara lain nih…
Kageyama saat melempar bola itu lagi ke ring, seakan-akan seperti slow motion Tama melihat bola basket yang melayang itu. semakin tajam pandangannya dengan bola basket itu sesuatu yang dirasakan seperti efek slow motion semakin terasa kuat. Dengan reflex yang bagus ia langsung berlari dan melompat melakukan blocking saat bola itu baru mau sampai ke mulut ring. Betapa terkejutnya pemuda tinggi ini melihat lompatan Tama yang cukup tinggi hingga sampai menahan lemparannya.
            …Blocking? Bagaimana bisa? Tubuhnya ‘kan lebih tinggi aku daripada dia… sihir apa yang dia pakai? Pelontar tubuh?
            katanya dalam hati. Setelah Tama mendarat, bagai mengetahui kata hati seseorang ia berkata
            ” maaf ya… aku tidak menggunakan pelontar tubuh. Lompatanku ini adalah alami. Karena kau terlalu meremehkanku, jadi aku sambut kau dengan cara lain.”
             Tama tanpa ada ekspresi namun berbicara dengan penuh ketegasan meski sedikit lembut. Lalu ia membalikkan badan dan berkata
            “oh, iya siapa namamu? Kamu belum memberitahu namamu”
            Diam sejenak, setelah itu ia menjawab
            “Kageyama… Kageyama Kotaro”
            Namanya adalah Kageyama. Memiliki postur tinggi dan badannya agak kurus. 193 Cm dan 70 Kg
            “nah… bung, mau One-on-one?”
            dengan ekspresi senyum yang menyebalkan.
            “masih juga kau bertanya begitu??!!.... “
            kata Kageyama yang masih kesal dengan tawarannya itu. karena Tama memaksa, Kageyama meng-iyakan tawaran dari Tama. tapi, belum mulai mereka melakukan yang diminta Tama tiba-tiba datang 2 orang saudara kembar yang mampir ke lapangan basket.
            “hey.. kalian!”
            si kembar pertama memanggil mereka.
            “kalian lagi asyik ya? Kami boleh gabung? Sebelumnya perkenalkan, aku Ryuji Hinata. Dan ini adikku Ryuzaki Hinata….”
            Ryuji Hinata dan Ryuzaki Hinata. Saudara kembar yang tinggal di komplek Nekoma yang jaraknya tidak jauh dari lapangan basket umum tersebut. hanya 2 km saja. Tinggi badan mereka sama. Yaitu 186 Cm (berat badan : Ryuji 69 Kg; Ryuzaki 68 Kg). wajah mereka mirip. Rambut mereka sama-sama cepak. Dan sama-sama memiliki tahi lalat di sisi pipi mereka. Perbedaannya. Tahi lalat Ryuji berada di pipi kiri. Sedangkan Ryuzaki berada di kanan. Akhirnya dengan kedatangan mereka berdua permainan dilakukan dengan Tag Team. Yaitu 2 lawan 2. Dalam permainan ini, Tama dipasangkan dengan Kageyama. Mereka akan menghadapi Hinata bersaudara. Yang mengawali permainan adalah Hinata bersaudara. Tama dan Kageyama melakukan Defense. Ryuji sudah memegang bola dan memantulkannya. Dengan fokus Tama mencoba menahan Ryuji. Tapi tak disangka, Tama terkejut karena Ryuji tahu-tahu langsung berlari dan dengan mudah bisa melewatinya tanpa ada halangan sedikit pun.
            Gila! Cepat sekali…! Aku sendiri sampai sulit merasakan larinya.
            Katanya dalam hati. Setelah melewati Tama, Ryuji langsung dihadang Kageyama. Dengan santai, ia mengoper kepada Ryuzaki di sisi kirinya. Tama yang mengejar kearah Ryuzaki tidak sempat merebut bolanya karena saat menerima umpan Ryuzaki tidak menangkap bolanya, tapi langsung dipukul dengan telapak tangannya dan langsung dikembalikan ke Ryuji. Kageyama yang tadinya menghadang Ryuji sampai tidak bisa bergerak karena kecepatan larinya yang seperti angin. Lalu mereka mendapat 1poin berkat lay-up dari Ryuji. Tidak mau kalah dari mereka, Tama dan Kageyama langsung membalas dengan serangan mereka. Kali ini Tama yang memegang bola dan Ryuji  yang akan mencoba menahan Tama. berbeda dengan Ryuji, Tama bermain dengan penuh aksi. Memainkan keterampilan tangannya menggocek-gocek lawan. Memperlihatkan gaya permainan yang seksi namun temponya juga tidak kalah cepat. Ryuji yang berusaha membayangi Tama sampai kewalahan hingga ia terjatuh karena tidak dapat mengimbangi kecepatan Tama yang tidak kalah bagus darinya. Lalu ia mengoper ke Kageyama. Kageyama membawa bola untuk bisa melewati Ryuzaki. Dengan pertahanan yang bagus dari Ryuzaki membuat Kageyama sedikit sulit melewatinya. Tama datang mendekat dan meminta bola dari Kageyama. Setelah mendapat bola, Ryuji kembali lagi dengan posisi Defensenya membayangi Tama. kembali lagi Tama dengan aksinya ia berlari kencang ke depan dan Ryuji terus membayanginya. Karena cukup sulit menyerang didalam lingkaran, Tama melakukan Shoot diluar lingkaran. Melompat dan bersiap-siap melemparkan bola itu dari luar lingkaran dan posisinya di samping kanan. Ryuji dengan melihat gayanya yang melempar menganggap itu adalah lay-up.
            hah… lay-up?.. tapi jaraknya masih jauh dari ring.
             Kata Ryuji dalam hati. Lalu Tama melemparkan bola basket itu ke ring.
            tuh’kan benar.. dia lay-up. Yakin bisa masuk?
            katanya lagi dalam hati. Tapi, ternyata bola yang dilemparkan Tama masuk kedalam ring. Yang lainnya pun heran dan bingung bola yang dilemparkan Tama bisa masuk. Tama langsung berbicara
            “ oh, ya.. aku ingin memberitahu kalian soal itu.. yang tadi itu bukan lay-up. Tapi……Sky hope..!”.
            Karena permainan cukup seru, mereka bereempat merasa senang dan terus bermain sampai waktu menunjukkan pukul 11.30 waktu setempat. Rasa lelah mulai menghinggapi mereka. Namun, karena senang dan puas mereka pun tidak terlalu terasa lelah sekali. Dan mereka pun menjadi akrab satu sama lain.
            “ oh.. ya.. kalian berdua belum memperkenalkan diri kalian.”
            Kata Ryuji kepada Tama dan Kageyama.
            “oh.. benar juga… kalau begitu. Perkenalkan, namaku Pratama Budiman. Kalian bisa memanggilku Tama. aku pindahan dari Indonesia.”
            “wah… dari Indonesia, ya? Keren.. semoga kamu senang ya di Jepang.” Kata Ryuji
            “oh.. terima kasih.. semoga kita juga bisa berteman baik.”
            “ lalu, kamu sendiri? Siapa namamu?”
            Tanya Ryuzaki kepada Kageyama
            “aku Kageyama Kotaro.”
            “kageyama, ya? Kamu tinggal dimana?”
            “aku tinggal di komplek Nekoma. Disana’kan ada jembatan kecil. Nanti kamu belok kanan rumahku yang nomor 3.”
            “oh begitu… berarti rumah kita dekat dong. Kalau kami belok kiri.”
            “kalau pulang, kita barengan saja.” Tambah Ryuji.
            “hmm… boleh juga.” jawab Kageyama yang masih memasang wajah datar.
            “kamu Tama, tinggal dimana?” Tanya Ryuzaki
            “aku di Kompleks Sakura.”
            “oh.. agak jauh sih dari sini. Pasti naik bus ya?”
            “iya… perjalanannya sih 15 menit. Itu baru sampai depan (halte bus SMA Ishiyama). Pas jalan kaki sampai ke sekolah bisa 5 menit.”
            “sekolahmu dimana?”
            Ryuji bertanya pada Tama
            “Aku sekarang masuk di SMA Ishiyama. Kebetulan aku dapat beasiswa”
            “kamu sekolah di SMA Ishiyama juga, ya? Berarti kita sama dong. Apalagi kamu dapat beasiswa. Nggak salah deh kamu masuk sekolah itu”
            “benarkah? Suatu kebetulan kita masuk di sekolah yang sama. Aku masuk dikelas I-C. kalian dikelas mana?’ kata Kageyama
            “kalau kami berdua masuk di kelas I-A”
            “kalau aku dikelas I-B”
            Tama menjawab
            “sayang sekali, kita tidak sekelas. Tapi paling tidak kita masih bisa bertemu disekolah.” Kata Ryuji
            “apa kalian semua ikut ekskul basket?”
            “iya, kami ikut.” Jawab Ryuzaki
            “berarti kita bisa bertemu di klub basket.”
            “oh.. benar juga… kita satu tim rupanya.” Kata Kageyama.
            “hmm…. Kalau begitu, kita bisa latihan sama-sama.” Sambung Ryuji.
Tak lama kemudian Tante Anita datang membawa minuman dan beberapa roti untuk mereka. Mereka pun gembira dan berterima kasih kepada Tante Anita. Obrolan-obrolan hangat dan juga asyiknya bermain basket pun menjadi waktu yang indah buat mereka. Tak terasa momen-momen itu harus mereka akhiri. Tapi, besok mereka masih bisa bertemu disekolah. Tante Anita dan Tama berpamitan dengan Kageyama dan Hinata bersaudara untuk pulang. Kageyama dan Hinata bersaudara pun juga pulang dan mereka pulang bareng karena rumah mereka searah. Dari situlah, Tama semakin tidak sabar ingin masuk sekolah untuk bertemu mereka dan klub basket Ishiyama. Berjalan kaki menuju halte bus dengan perasaan yang senang sampai ia tidak bisa berhenti tersenyum. Tantenya yang melihatnya sampai ikut tersenyum karena memang keponakannya itu paling senang dengan basket.




           


Komentar