LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 3)



Chapter 3 :
 “JANGAN SENANG DULU, JUNIOR!”



J
um’at pagi hari, cuaca cukup cerah. Matahari bersinar sangat bersahabat untuk menyambut lembaran baru dalam mengisi kehidupan. Pemuda tampan dengan rambut pendek namun berponi dan ada beberapa sisi rambut yang sedikit panjang serasa menunjukkan sekali jenis rambut ikalnya. Tama kali ini berangkat ke sekolah menggunakan sepeda sport berwarna biru yang dimiliki Tante Anita. Karena Tante Anita jarang bersepeda jadi ia dipinjami sepeda tersebut. berangkatlah ia ke SMA Ishiyama. Melewati jalan yang belum terlalu ramai di sekitar perumahan, lalu melewati waduk yang bening airnya seperti kaca yang baru dibersihkan menggunakan alat pembersih kaca di samping kirinya, sempat melewati jalan perkotaan yang juga ramai pejalan kaki di trotoar daripada kendaraan bermesin yang melintasi aspal perkotaan. Menggunakan helm sepeda beserta pengaman tubuh di siku dan lututnya. Seragam yang berwarna putih dengan dasi hitam dilapisi jas hijau daun yang indah, celana berwarna coklat dan sepatu sket hitam list putih kesayangannya. Wajah ceria nan semangat bagaikan seperti ingin mendapatkan penghargaan  besar dari seorang presiden. Perjalanan yang ia mulai dari jam 06.00 hingga ia jam 06.45 telah tiba di gerbang sekolah. Ia berhenti sejenak dan menarik napas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya dengan cukup santai
            segarnya pagi ini. Kalau ke sekolah naik sepeda sudah pasti sangat menyenangkan. Meskipun tidak secepat naik bus yang bisa sampai 15 menit ditambah 5 menit jalan kaki dari halte bus sampai ke sekolah.
            Itulah perkataan hatinya. Bergegas ia menuju ke parkiran sepeda yang berada disisi kiri gedung sekolah. Sampai di parkiran ia memarkirkan sepedanya ditempat yang telah tersedia. Disebuah beranda nomor 4 disebelah kiri. Menaruh helm dan pengaman tubuhnya di ‘stang’ sepedanya. Tanpa beban ia langsung berjalan meninggalkan parkiran dan masuk ke gedung sekolah. Dilantai 1, ia meletakkan sepatunya di sebuah loker. Nomor lokernya 120. Berada sejajar dengan kepalanya. lalu mengambil sepatu berwarna putih dengan sol berwarna biru. Disebut sebagai wabaki. Sepatu tersebut ia pakaikan ke kedua kakinya. Sambil menggantung tas selempang berwarna merah dengan bertuliskan “DAMN! I LOVE INDONESIA” ditambah gambar burung garuda sesuai dengan desain asli lambang Indonesia dan pulau Indonesia dengan warna putih . kelas I-B berada di lantai 2. Berjalan menyusuri anak tangga sambil mengikuti jalur anak tangga yang memutar balik dan memandangi sekeliling koridor lantai 2. Beberapa siswa ada yang sudah ada di kelas dan ada yang masih nongkrong di koridor. tak lama setelah itu, ada seorang siswa perempuan keluar dari kelas I-A dan melihat Tama sedang berjalan. Seketika ia berteriak “Hey! Ada Anak Indonesia!”
            Semua yang tadi sibuk dengan urusan mereka masing-masing baik di kelas maupun di koridor langsung membuat satu gerombolan memutari Tama disana. Tama yang kaget menjadi bingung sambil menggaruk-garukkan kepalanya. entah apa yang terjadi, ia hanya melihat para siswa-siswi bergumam tentang dirinya.
            “Hey, anak Indonesia. Boleh kenalan nggak? Namaku Tatsuma.”
            Seorang pria berambut cepak bernama Tatsuma
            “namaku Shizune”
            Shizune, gadis manis dengan rambut sepanjang punggung dan berwarna hitam
            “kalau aku Shiro”
            Kemudian Shiro, pemuda berbadan kurus memakai kacamata
            “namaku Yuki. Kamu tampan sekali. Namamu siapa?”
            Dan yang agak merayu ini adalah Yuki dengan rambut dikuncir seperti ekor kuda. Mereka berempat dari kelas I-A
            Banyak yang mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing. Dari kelas I-A sampai kelas I-D. Setelah itu, Tama langsung mengeluarkan “ehem” dengan keras dan membuka omongan
            “terima kasih sudah memperkenalkan diri kalian. Namaku Tama. Pratama Budiman. Salam kenal”
            Semua siswa-siswi yang mengerumuni Tama kembali bergumam hingga ramai suasana koridor lantai 2.
            “eh, Tama-san. Kamu kenapa mengambil SMA di Jepang ?”
            Shizune bertanya kepada Tama
            “wah… itu sih ceritanya panjang. Tapi intinya, aku memang sedang berkeinginan sekolah di Jepang”
            “kamu dapat beasiswa nggak?”
            Tatsuma bertanya
            “kebetulan aku ikut beasiswa”
            “terus di Indonesia itu negaranya seperti apa ya?”
            Yuki bertanya kepada Tama
            “waduuh.. kalau ditanya soal itu pasti penjelasan cukup panjang banget. Hmm.. aku harus mulai dari mana, ya?”
            Ia berpikir sejenak, setelah itu ia berkata
            “hmm.. mungkin aku beritahu saja soal kuliner Indonesia.”
            Semua siswa-siswi antusias ingin mendengarkan Tama bercerita tentang kuliner Indonesia. Ia pun menjelaskan macam-macam kuliner Indonesia sudah mulai diakui di mancanegara. Seperti Nasi Goreng, Sate Ayam, Rendang, Bubur Ayam, Pempek Palembang, Bika Ambon Medan, Gudeg Yogyakarta, Martabak Bangka dan sebagainya. Bahkan ada salah satu siswa yang bertanya apakah Tama membawa makanan yang telah disebutkan. Tama menjawab
            “kebetulan aku bawa salah satunya”
            Ia buka tasnya dan mengambil sebuah kotak makanan berwarna putih dan membuka tutupnya. Yang ia bawa adalah Bika Ambon dan Lapis Legit. Para siswa-siswi menjadi tergiur melihat kue asli Medan itu. tiba-tiba sebuah tangan mendarat di kotak makan itu dan mengambil sepotong bika ambon. Itu tangannya Minamoto Hiromi. Kapten Basket Ishiyama. Ia langsung mencicipi kue tersebut. ia makan Kue tersebut dengan penuh semangat. Betapa terkejutnya Minamoto merasakan kue Bika Ambon yang dibawa Tama. rasanya yang enak dan tekstur yang agak kenyal serta bau harumnya membuatnya seakan-akan sedang santai di pantai.
            Senpai, bagaimana rasanya?”
            “ini…. Benar-benar rasa yang luar biasa!!!... baru kali ini aku makan kue seenak ini di Jepang”
            “maaf, itu Kue Bika Ambon. Asli Indonesia”
            “Waaahh…!! Sugoi..! ternyata oleh-oleh dari Indonesia ini mantap sekali.”
            Tak lama kemudian datang Ikki dan Kyo dari belakang Minamoto dan bergabung dikerumunan.
            “hey..hey.. ada apa sih ini ramai-ramai…?”
            Ikki bertanya kepada Minamoto. Kyo tiba-tiba langsung melihat kotak makan yang dipegang Tama yang berisi kue Bika Ambon dan Lapis legit.
            “Waaah!! Ada cemilan kue.. boleh aku minta?”
            “tentu saja… silahkan ambil semaunya!”
            Dengan senyum bahagia Tama mempersilahkan Kyo mengambil kue di kotak makan Tama. ia mengambil kue Bika Ambon. Dengan ceria ia langsung meluncurkan gigitan pertama pada bika ambon yang ia pegang. Seperti yang dialami Minamoto, ia pun juga merasakan sensasi yang luar biasa bagai sedang santai di pantai. Badannya sampai berputar-putar menari-nari karena merasakan kelezatan kue tersebut.
            Oishi~! Ini benar-benar kue lezat yang pernah kurasakan seumur hidupku…”
            “heh?! Seriusan itu enak? Kalau begitu aku coba deh. Tama, aku minta satu ya.”
            Tama mengizinkan Ikki mengambil Kue di kotaknya. Kali ini yang diambil adalah lapis legit. Setelah meluncurkan gigitan pertama. Wajah Ikki seakan sedang menikmati liburan musim panas selama 1 bulan.
            Hmm… enak banget kue ini… rasanya nggak nahan banget dilidah.. sensasi manisnya yang legit itu bikin hatiku jadi bergetar. Kue Indonesia ini benar-benar luar biasa..
            “kalau itu namanya lapis legit. Rasa manisnya legit’kan?”
            Ikki mengiyakan pertanyaan dari Tama. kemudian Tama langsung membagikan kue-kue tersebut kepada kerumunan siswa-siswi yang dari tadi mengerumuninya. Namun, karena tidak banyak. Tama mengatakan pada semua siswa-siswi disana agar kue tersebut dibagi kecil-kecil agar semua kebagian. Semua ekspresi wajah dan aura mereka semua berubah menjadi bahagia dan semangat pagi pada waktu itu semakin meningkat. Ryuji tahu-tahu sudah sedikit menyikut rusuk Tama yang daritadi terhenyak melihat wajah-wajah disekitar menjadi senang. Ia bertanya kepadanya yang terjadi dengan keadaan bingung
            “Tama-kun, ini sebenarnya ada apa? Kok semua orang jadi nyengir-nyengir sendiri kayak orang gila? Bahkan senpai-senpai kita yang dari klub basket ikut-ikutan.”
            Ryuzaki dan Kageyama mengangguk-angguk didepan Tama. Tama pun menjelaskan situasi yang terjadi. Begitu sudah diceritakan, Ryuji langsung cemberut kepada Tama
            “hmm.. Tama. kok kita nggak dikasih Kue itu?”
            “maaf yaa.. Kuenya emang nggak banyak kubawa. Kalau mau, besok akan kubawa lagi”
            “benar nih kamu bawa kue lagi”
            Kini Ryuzaki yang bertanya
            “iya… lagipula dirumah masih banyak kue. Sayang kalau nggak abis. Lagipula dirumah hanya ada aku dan Tante Anita.”
            “oke.. deh. Ditunggu ya besok.”
            “iya..”
            Bel masuk kelas telah berbunyi. Semua orang masuk ke kelas mereka masing-masing. Sebelum itu, semua orang mengucapkan terima kasih kepada Tama atas kue-kue yang diberikan. Minamoto, Ikki dan Kyo juga berterima kasih padanya. Minamoto juga berpesan agar dibawakan kue dari Indonesia lagi besok sebelum nanti pertandingan basket persahabatan antar anggota klub Ishiyama. Karena Tama masih punya stok kue, ia menyetujui permintaan sang kapten. Ryuji, Ryuzaki dan Kageyama juga segera masuk ke kelas masing-masing. Tama pun juga demikian. Tapi sebelum melangkah, ada suara yang memanggilnya dibelakang.
            “Yo..Anak Indonesia!”
            Tama menoleh kebelakang. Ternyata Mikleo dan Alisha yang baru datang. Mereka berdua berjalan menghampiri Tama.
            “Tama-kun, kamu baru datang ya?”
            “tidak. Aku sudah daritadi datang disini.”
            “tadi aku melihat lagi banyak orang ngumpul disekitar sini. Ada apa ya?”
            “hehe.. hanya sedang menambah teman saja.”
            Tama sesaat melihat wajah Alisha yang ada disamping kiri Mikleo. Alisha yang dilihat oleh Tama dengan pandangan yang tidak biasa namun cukup positif membuatnya setengah kaget dan segera memalingkan wajahnya kekiri karena malu. Tama kembali memandangi Mikleo.
            “Ayo! Kita masuk.. pelajaran akan segera dimulai”
            Mereka bertiga segera masuk ke kelas.

            Saat pelajaran berlangsung, yaitu pada pelajaran Fisika. Semua siswa terlihat cukup tenang dan serius memperhatikan pelajaran. Terutama Tama yang memang sangat serius ketika sedang belajar. Tidak untuk Mikleo, Mikleo malah terlihat terkantuk-kantuk. Matanya seperti kehabisan baterai. Meletakkan kepalanya miring ditelapak tangan kanannya yang ditumpu dengan siku diatas meja. Alisha yang refleks melirik Mikleo tampak menggerutu dalam hati.
            Dasar tidak berguna.. pagi-pagi sudah mengantuk. Tidur jam berapa sih ini bocah.
            Kemudian, ia tidak sengaja melihat kebelakang. Melihat seorang perempuan dengan rambut yang panjangnya sampai bahu, memakai kacamata, memakai jepit rambut disisi poninya. Gadis berkacamata pun juga merespon pandangan dari Alisha. Setengah terkejut, gadis itu menundukkan kepalanya sedikit.
            Siapa sih gadis itu. kok agak mencurigakan.
            Ia melirik lagi kearah Mikleo. Apa jangan-jangan ia sedang melihat Mikleo. Ah.. ngapain tuh orang ngeliat bocah nggak jelas ini?
            Miyako-sensei, selaku guru fisika memanggil Tama untuk menjawab contoh soal fisika yang diberikannya. siap dan sedia Tama bangkit dari bangkunya dan maju kedepan. Menerima kapur dari Miyako-sensei dan menuliskan jawaban dari soal yang diberikan guru fisika tersebut beserta langkah-langkahnya. Selesai menjawab, ia disuruh menjelaskan langkah-langkah menjawab soal yang diberikan guru itu. Tama dengan santai tanpa beban menjelaskan semua yang ia tuliskan dihadapan semua siswa dikelas. Ia jelaskan sejelas-jelasnya didepan kelas. Semua siswa dan Miyako-sensei berdecak kagum dengan jawaban dan penjelasan dari Tama. Alisha pun juga terkesima melihat sosok Tama yang memang fokus terhadap pelajaran. Gadis berkacamata yang duduk di baris keempat nomor 3 pun ikut terkesima melihat Tama. Tama hanya tersenyum kecil dihadapan semua orang.

            Angin berhembus sedikit kencang. Apalagi bila dirasakan diatap sekolah. Lantainya yang terbuat dari beton asli ditambah beberapa kursi batu yang dibuat disana dibeberapa sisi. Kemudian pagar yang tinggi terbuat dari banyaknya sambungan kawat. Minamoto, Satoru dan Kyo berkumpul disana. Kebetulan Tobio tidak ikut berkumpul karena ada urusan di ruang guru. Mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tim basket Ishiyama.
            “yaaah… karena Tobio sedang ada urusan di ruang guru. Aku rasa kita saja sudah cukup”
            Minamoto berkata dengan senyuman tanpa beban.
            “tidak seru sekali…haammmmm…”
            Kyo mengunyah cemilannya
            “ada apa Minamoto? Memangnya ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan? Ini tidak seperti biasanya”
            Satoru yang pembawaannya datar sedikit bingung dengan minamoto
            “yo.. Satoru. Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu mengenai anak kelas 1 yang masuk di tim basket kita”
            “memangnya ada apa dengan mereka?”
            “aku ingin mendengar penjelasanmu tentang Kageyama”
            Satoru dengan pembawaan yang tetap datar namun pandangannya cukup tajam pada Minamoto yang bertanya soal Kageyama
            “waktu kamu mengatakan “semoga beruntung” padanya itu seperti bukan memberikan semangat atau dukungan. Melainkan itu seperti omong kosong. Entah kenapa aku merasa seperti itu. tidak bermaksud menyinggung. Tapi apa karena dia seorang mantan pemain Voli dan kemampuan dasar tentang basketnya dia belum begitu sempurna, kamu seperti meragukannya?”
            Minamoto benar-benar serius tentang hal itu meski tetap mengeluarkan senyuman tanpa beban itu.
            “entahlah… tapi kemungkinan mengenai kemampuan basketnya yang memang masih jauh daripada yang lain. Itu aku meragukannya. Dari caraku melihat, aku sudah bisa menyimpulkan.”
            “hmm.. kalau masalah itu. tidak hanya dia saja. Contohnya Matsunaga. Dia juga termasuk baru mengenal kemampuan basket. Dia juga mantan pemain sepak bola”
            “kalau yang itu dia memiliki dasar”
            Kyo langsung menyela setelah menghabiskan cemilannya
            “maksudmu dia punya dasar”
            “dasar kemampuan basket. Memang dia masih pemula. Tetapi untuk penyesuaian dirinya terhadap permainan basket. Aku yakin dia akan jauh lebih berkembang daripada Kageyama. Pemain sepak bola itu ‘kan lebih sering berlari. Di Basket pun juga sering berlari. Dari hal “berlari” itu aku yakin dia cepat berkembang”
            “aku sependapat dengan Kyo.”
            Satoru meneruskan pembicaraan Kyo. Kali ini sedikit mengeluarkan senyuman. Sedikit sekali.
            “dan satu lagi.. dia itu memiliki hawa keberadaan yang tipis.”
            “heeeh?! Hawa keberadaan yang tipis ?”
            “kamu masih Ingat waktu perkenalan di aula kemarin? Seolah-olah seperti hantu yang siap menakut-nakuti orang dia langsung muncul dan mengatakan “hadir” dibelakang Ikki. Kita pun juga kaget saat kedatangannya sangat spontan dan tidak disadari oleh kita.”
            “hmm.. jadi kamu menyimpulkan seperti itu terhadap Matsunaga? Lalu bagaimana dengan Kageyama?”
            “ jujur saja, aku sebenarnya benci mengatakan hal ini. Tapi, dia itu masih jauh dari harapan kita. Dia harus mengasah kemampuannya dulu dari nol”
            Satoru menjelaskan dengan cukup konkrit kepada Minamoto. Minamoto sambil memegang dagunya. Ia berpikir sejenak, kemudian bertanya lagi kepada Satoru.
            “kalau begitu, aku ingin mendengar juga pendapatmu tentang si Anak Indonesia. Tama, Pratama Budiman.”           
            “nggak usah kamu tanyakan soal dia”
            “loh, emangnya kenapa?”
            “dia itu…………… sangat langka”
            Mengeluarkan senyuman pelitnya itu menjawab dengan singkat. Bahwa Tama adalah orang yang langka di tim basket Ishiyama menurutnya. Minamoto masih berpikir maksud jawaban dari Satoru. Kyo yang sudah tidak bersuara juga dengan senyumnya yang staycool mengerti maksud dari Satoru. Hanya saja dia memilih diam daripada bersuara lagi.

            Ketika semua pelajaran disekolah telah usai, Tama berlari mengejar Alisha yang sudah duluan keluar dari gedung sekolah. Ia pergi sendirian. Di halaman sekolah Tama memanggil Alisha cukup kencang. “Alisha!... Alisha!...” Alisha menoleh kebelakang dan melihat Tama yang berlari kecil mendekatinya. Mikleo pun ikut menoleh kebelakang melihat Tama.
            “ada apa, Tama-kun?”
            Alisha bertanya kepada Tama
            “eeh.. maaf ya.. oh, ya. Mikleo dimana?”
            “tadi dia bilang mau ke ruang guru dulu. Entah mau ngapain. Lalu, kamu sendiri. Ada apa memanggilku?”
            Alisha yang bingung namun sedikit deg-deg an melihat Tama dan bertanya maksud dan tujuan Tama memanggilnya. Tama tanpa basa-basi mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yang ia keluarkan adalah sebuah kotak bekal milik Alisha yang dibungkus serbet merah muda. Alangkah terkejutnya Alisha bahwa kotak bekalnya berada ditangan Tama. ia langsung menyambut kotak bekalnya dan memegangnya dengan gembira. Tapi ia merasa kotak bekalnya masih terasa agak berat. Ia sempat berpikir bahwa ini makanan kemarin yang tidak ia makan.
            Ini kok kotaknya agak berat ya? Kayaknya makan siangku kemarin yang belum ku makan. Pasti ini basi. Tapi……
            “syukurlah, kotak makanku ketemu. Pantas saja tadi aku cari di kolong meja tidak ada. Terima kasih Tama.”
            “ah, santai saja.”
            Tama menjawab dengan tersenyum lebar
            “ngomong-ngomong kenapa ini bisa ada dikamu?”
            “waktu itu kamu tinggal dikolong mejamu. Cuma kamu kenapa tidak makan bekalmu kemarin? Jadinya aku yang habisin semua isi kotaknya. Lagian sayang kalau makanannya tidak makan. Itu artinya mubazir.”
            Haaah!!.. dia makan bekalku?!.. oh my god.. malunya aku sampai oranglain rela makan makanan punyaku. Tama… maafkan aku ya.
            “kamu kenapa tidak makan kemarin?”
            “ah.. o..ee…to…. aku kebetulan sedang kurang enak badan. Dan perutku sedang terasa tidak nyaman sekali. B-bisa dibilang lagi k-kembung.. iya.. hehe..”
            “oh, gitu. ya udah. Lain kali kalau bawa bekal jangan lupa dimakan! Kasihan nanti makanannya bisa nangis loh.”
            Tama menasehati Alisha dengan bijaksana. Sontak Alisha semakin salah tingkah dan malu sekali.
            “A-a. I-iyaa.. lain kali aku janji. Nggak bakalan gitu lagi.”
            Menunjukkan dua jari kepada Tama dan tersenyum masam
            “oh.. iya. Makan siangmu itu enak loh. Terima kasih juga atas makanannya dan mohon maaf ya aku lancang mengambil makananmu dan belum izin waktu itu”
            “sudahlah.. lupakan saja. Aku sudah memaafkan kesalahanmu dan berterima kasih padamu sudah mau menghabiskan makananku”
            “iya.. sama-sama kok”
            “oh. Iya. Ini dalam kotak makanku isinya apa?”
            “soal itu sebaiknya kamu buka saja dirumah”
            Tama merahasiakan isi kotak bekal Alisha. Alisha memang penasaran. Tapi, ia pun mengiyakan perkataan Tama. tak lama setelah itu, Mikleo datang menghampiri Alisha. Kemudian Alisha dan Mikleo pamit dengan Tama untuk pulang. Sebelumnya Mikleo memberitahukan kepada Tama bahwa besok pertandingan persahabatan dimulai pukul 1 siang.

            Sebelum pulang, Alisha dan Mikleo mampir sebentar di sebuah taman. Duduk dikursi kayu panjang disisi taman. Karena permintaan Alisha, Mikleo mengabulkan permintaannya meskipun ia malas dan ingin langsung pulang ke apartemen dan rebahan di kasurnya. Alisha membuka kotak bekalnya. ia masih ingat soal isi dari kotak bekal yang diisi Tama. saat ia buka tutup kotaknya, Alisha melihat ada sebuah kertas yang tertulis dalam keadaan terlipat. Ia membuka lipatan kertas itu dan ada sebuah bacaan. “terima kasih atas makanannya, maaf sebelumnya lancang mengambil makananmu. Sebagai ganti dan untuk ucapan terima kasih selanjutnya. Kubawakan Kue Bika Ambon dan Lapis Legit dari kota Medan, Indonesia. Kue Bika Ambon itu seperti kaki ubur-ubur atau rambut jeli. Kalau lapis legit itu yang ada garis-garis kecoklatan. Selamat menikmati. Pratama Budiman”. Ia taruh kertas itu dikantong baju. kemudian  melihat beberapa potong kue Bika Ambon dan Lapis Legit. Alisha bagaikan melihat emas batangan asli merasa takjub dengan kue-kue itu. ia mengambil satu potong Kue Bika Ambon dan menggigitnya. Ia kunyah kue itu dan merasakan tekstur lembut dari kue itu.
            Ya ampuun.. ini enak banget. Benar-benar enak… ini pertama kalinya aku makan kue selezat ini… Alisha terkagum dengan kue yang dibawakan Tama. lalu, Mikleo yang daritadi duduk disebelah kanannya dengan menyandarkan kepala dengan kedua tangannya dibelakang sambil memejamkan mata ditawari kue tersebut.
            “hoy.. kamu mau nggak?”
            Mikleo melirik dengan satu mata. Ia melihat banyaknya kue di kotak bekal Alisha. Kemudian bangkit dari posisi santainya melihat kue-kue itu. membuat dirinya seperti semangat ingin mencicipinya.
            “waah.. Kue apa ini? Belum pernah lihat.”
            “Tama membawakan ini untukku. Namanya Kue Bika Ambon dan Lapis Legit. Yang bentuknya seperti rambut jeli ini namanya Bika Ambon. Kalau yang berbentuk persegi dengan garis-garis coklat ini lapis legit.”
            Mikleo berpikir sejenak untuk memilih kue yang mana yang ia makan. Setelah berpikir, ia memilih Kue Lapis Legit. Ia gigit kue itu dengan santainya dan mengunyahnya. Mikleo sampai merasa seperti ditiup kipas angin membayangkan kue Lapis Legit itu.
            “Alisha.. Kue ini enak loh. Jadi Tama yang memberikannya padamu?”
            “iya.. waktu itu kotak bekalku ke– eh, maksudku dia memindahkan kue-kuenya ke kotak bekalku” aku lupa.. dia’kan nggak tahu kalau kotak bekalku ketinggalan kemarin. Bisa gawat kalau dia tahu kalau aku nggak makan kemarin. Alisha sampai tersenyum pahit. Mikleo untungnya tidak curiga. Alisha sampai menghela napasnya. Kemudian ia memandangi kue-kue yang masih ia pegang dikotak bekalnya. ia menundukkan kepalanya. ia mengeluarkan sebuah senyuman manis. Sepertinya ia cukup senang bisa dapat pemberian dari Tama.

            Tama yang sedang tidur-tiduran diranjangnya yang cukup empuk memandangi langit-langit kamarnya pada malam hari sebelum ia tidur. Sebenarnya bukan benar-benar memandangi langit. Ia sedang terbayang sosok Alisha. Saat ia pertama kali bertemu dihari pertama sekolah terus terbayang wajah, tubuh dan tingkahnya. Terhenyak oleh dunia fantasinya ia sampai tersenyum sendiri. Entah apa yang terjadi tapi sepertinya dia mulai sedikit ada perasaan. Disamping itu, Alisha yang berada dikamarnya di Apartemen sendiri pun berbuat demikian. Ia terbayang wajah Tama. sosok pemuda kalem yang penuh misteri baginya itu membuatnya semakin lama semakin penasaran akan sosok itu. ia pun juga tersenyum sendiri karena terhenyak oleh dunia fantasinya. Pandangan yang mengarah ke jendela menuju keluar meskipun bukannya fokus menatap jendela. Mereka berdua mengatakan sesuatu yang keluar dari mulut mereka. Memang mereka tidak tinggal serumah. Namun, seperti sedang melakukan duet. Mereka berdua berkata “kira-kira aku bisa ngobrol berdua dengannya nggak ya? Kalau ada kesempatan, aku ingin sekalian minta nomor handphonenya. Setelah itu, aku ingin mengajaknya jalan” itulah perkataan mereka berdua dalam satu waktu ditempat berbeda. Malam yang begitu ramai dihiasi bintang-bintang menyempurnakan panorama langit Tokyo pada malam hari. Bahkan bulan berbentuk sabit pun tidak mau ketinggalan menampakkan keindahannya pada malam hari. Dan itu adalah malam yang penuh sekali keindahan.

            Tepat pada hari Sabtu, dimana waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Jam 1 siang, di Lapangan basket Indoor yang dimana juga merupakan Aula di SMA Ishiyama. Lapangan sudah di kelilingi banyak penonton yang terdiri dari siswa-siswi SMA Ishiyama. Bahkan beberapa guru seperti Nakamura-sensei, Miyako-sensei, Takaki-Sensei sebagai guru Olahraga yang nantinya akan menjadi wasit ditemani asisten wasit yaitu Hasegawa-sensei yang juga guru Olahraga dan beberapa siswa yang berasal dari anggota OSIS yang menjadi panitia yang ditunjuk oleh Nakamura-sensei  pun ikut hadir dalam acara pertandingan persahabatan antara Anggota senior dengan Junior Tim basket Ishiyama. Anggota senior yang terdiri dari Minamoto Hiromi sang Kapten, Satoru Takuya, Kyo Nobisuke, Tobio Michiru, Sorey Shimazu dan Ryouta Fukunishi yang nantinya dicadangkan terlebih dahulu sudah memakai kostum resmi mereka, warna dasarnya hitam dengan list merah putih. Nomor punggung mereka yaitu dari Minamoto nomor 1, Satoru nomor 5, Kyo nomor 7, Sorey nomor 6, Ryouta nomor 11 dan Tobio nomor 2. Kesiapan mereka bagaikan telah siap menerima komando untuk menembak para penjahat dihadapan mereka kapan saja. Mereka duduk disebelah kanan. Para penonton pun sampai bersorak-sorai melihat anggota senior Ishiyama. Yang lebih banyak dipanggil namanya adalah Minamoto dan Satoru. Sorey sampai iri karena Minamoto dan Satoru yang paling banyak dipanggil.
            Aahh… kenapa sih nama mereka berdua selalu yang paling banyak dipanggil.. aku’kan juga kepengen dipanggil begitu banyak oleh penonton.
            Seperti bisa menebak hati seseorang, Tobio berkata
            “sudahlah… tidak usah iri begitu. Kalau kamu mau seperti mereka berdua. Kamu harus bisa bermain dengan sangat baik dan bisa menampilkan skill terbaikmu itu.”
            “yaaah.. Aku tahu itu!!.. aku sudah berusaha semaksimal mungkin!.. tapi memang mereka berdua masih dianggap keren disekolah ini.”
            “yang sabar ya Sorey…”
            Kyo mengejek Sorey dan menertawakannya. Kemudian disisi lain, yaitu dikursi cadangan sebelah kiri adalah anggota junior. Bisa dibilang saat ini masih calon anggota. Terdiri dari Mikleo Fritz, Ryuji Hinata, Ryuzaki Hinata, Natsuki Kazao, Matsunaga Kiseki, Kageyama Kotaro dan si Anak Indonesia, Pratama Budiman. Memakai kostum basket yang berwarna-warni. Kageyama memakai baju basket putih NBA, Hinata bersaudara memakai baju berwarna hijau dengan tulisan “SEKINE” didepan, Natsuki memakai baju hitam, Mikleo memakai baju merah, matsunaga memakai baju kuning dan Tama memakai baju biru langit dengan tulisan “KUSUMA JAYA” didepan dan dibelakang punggungnya ada nomor 16.  Tidak kalah meriah teriakan untuk Minamoto-Satoru. Teriakan untuk Tama lebih heboh lagi. Banyak yang memanggilnya “Si Anak Indonesia” karena memang ia berasal dari Indonesia. Tama melihat ramainya lapangan dan penonton dari siswa-siswi SMA Ishiyama membuatnya merasakan Euforia. Tapi ia tidak terlalu terpancing dengan Euforia itu. sebaliknya, Mikleo sungguh sangat ingin menikmati  yang namanya Euforia. Saat namanya dipanggil ia pun melambai-lambaikan tangannya. Disisi tribun, Alisha sudah ada disana menyaksikan pertandingan persahabatan itu. ketika ia sudah duduk, datang seorang gadis berkacamata dengan rambut sepanjang bahu duduk disebelahnya sambil membawa satu wadah berisi popcorn dan minuman soda yang ditusuk gelasnya pakai sedotan. Alisha saat melihat ke sisi kiri terkejut melihat gadis berkacamata itu.
            “heeh.. kamu.. kalau nggak salah sekelas denganku’kan?”
            Gadis berkacamata itu kaget juga
            “Heeh… eh.. e..eto..hmm…”
            “kamu yang duduk dibelakang’kan? Wajahmu itu mencurigakan sekali..”
            Alisha memasang wajah serius. Kemudian gadis berkacamata itu agak panik melihat Alisha.
            “namamu? Namamu siapa?”
            “eee.. A-aku… aku..”
            “namamu siapa?” Alisha mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
            “heeeh!... A-aku.. M-Mikasa..!”
            “hmm… Mikasa?”
            Alisha menegakkan wajahnya kembali
            “I-iya.. Mikasa.. Mikasa Koyuki… sebelumnya aku sudah sempat memperkenalkan diriku saat hari pertama sekolah”
            “benarkah? Kok aku tidak ingat?”
            Ia memegang dagunya, lalu berkata
            “ya, sudahlah…. Kamu nonton basket juga ya?”
            “iya.. aku ingin sekali melihat Mikleo-san bermain”
            “Oh, begitu… eh.. melihat Mikleo?!”
            Mikasa baru sadar saat ia mengatakan bahwa ia ingin melihat Mikleo. Ia jadi panik dan salah tingkah
            “eh.. nggak.. nggak.. maksudku, aku….”
            “berarti kemarin kamu waktu dikelas lagi fokus ngeliatin sepupuku ya?”
            “eh.. tunggu~ itu bukan berarti aku naksir dengannya atau aku ingin ngobrol bareng dengannya atau apapun itu…”
            Mikasa sampai mengedepankan kedua tangannya sambil digerakkan ke kiri-kanan. Alisha dengan senyuman seperti penjahat berkata
            “hmm.. kamu ini polos dan tsundere banget ya…”
            “heeeh… jangan panggil aku tsundere dong!”
            Mikasa sampai merah wajahnya.
            Kembali kedalam lapangan, Ikki sebagai pelatih datang menghampiri calon anggota. Memberikan sedikit arahan kepada mereka.
            “semuanya… kalian sudah siap dengan pertandingan persahabatan siang ini?”
            “tentu saja kami siap! Apa lagi aku” Mikleo menunjuk diri sendiri mengatakan ia siap.
            “baiklah… aku beritahu kalian! Ini adalah cara kami menyambut anggota baru yang telah kami rekrut. Kami sudah bekerja sama dengan pihak sekolah mengenai kegiatan ini. Silahkan bermain semaksimal mungkin dan buktikan pada kami kalau kalian itu layaknya menjadi bagian dari tim basket SMA Ishiyama. Kalian mengerti ?!”
            Semuanya menjawab “Siap, Pelatih !!”. setelah itu, Ikki berjalan ketengah lapangan membawa satu mikropon yang telah ia ambil di meja panitia. Lalu, ia berbicara didepan publik untuk menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan tersebut. selesai ia menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan tersebut ia menyebutkan nama Nakamura-sensei untuk menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara karena berhubung kepala sekolah dan wakil kepala sekolah tidak bisa hadir. Para penonton bertepuk tangan setelah mendengar sambutan dari guru bahasa jepang dengan rambut belah tengah itu dan berkacamata. Setelah guru tersebut kembali ke tempat duduknya, Ikki kembali mengambil alih mikropon. Sebelum itu, para calon anggota sedang merembug siapa saja yang akan bermain.
            “teman-teman.. kira-kira siapa nih yang bakal main duluan?”
            Ryuji bertanya kepada yang lain.
            “biar aku saja yang pilih”
            Tama langsung menunjuk dirinya secara spontan untuk memilih pemain utama.
            “hmm… aku setuju kalau begitu. Aku yakin Tama pasti bakal memberikan solusi yang tepat” jawab Mikleo dengan senang
            “untuk posisi pemain dalam bermain basket. Itu ada empat posisi. Shooting Guard, Point Guard, Center, Small Forward dan Forward. Jadi, yang akan bermain duluan adalah Mikleo Fritz dan Ryuji Hinata sebagai Forward, Kageyama Kotaro sebagai Center, Matsunaga Kiseki sebagai Small Forward, dan Natsuki Kazao sebagai Point Guard. Untukmu, Natsuki-san. Karena kamu pernah bilang kalau kamu point guard terbaik waktu SMP. Jadi, tolong tunjukkan kemampuanmu.”
            “Oke, Tama-san. Aku nggak bakal bohongin kalian kok.”
            “sisanya Ryuzaki dan aku akan duduk dibangku cadangan. Ryuzaki sebagai Small Forward. Dan aku sendiri, Pratama Budiman sebagai Shooting Guard.”
            “wah, seorang SG dijadikan kartu AS ya? Sepertinya arahanmu bagus juga. baiklah, kalau begitu… Semuanya!!! Ayo kita buktikan kepada Senpai-senpai kita kalau kita ini layak menjadi anggota basket Ishiyama.”
            Begitulah yang dikatakan Mikleo. Semua menyetujui ide Tama. dan mereka membuat lingkaran dan melakukan jargon/yel-yel agar mereka terlihat lebih semangat. Selanjutnya kedua tim saling berhadapan dan berjabat tangan. Para penonton terlihat sangat antusias melihat pertandingan ini. Kedua tim sudah bersiap siaga mengambil posisi di lapangan. Wasit sudah memegang bola basket untuk bersiap-siap memulai Tip off. Lalu, ada juga Mikleo dan Tobio  dengan tinggi badan mereka 193 Cm berbanding 197 Cm yang bersiap-siap agar melompat mengambil bola basket yang nanti dilempar keatas. Wasit sudah melemparkan bola basketnya dan meniup pluitnya. Pertandingan basket telah dimulai. Mikleo dan Tobio sama-sama melompat. Timing yang sama-sama pas saat melompat tangan kanan mereka berdua sama-sama menjulurkan ke atas. Pemain yang lain sudah bersiap siaga menerima tepukan bola dari mereka setelah Tip Off. Padahal dalam Tip Off, tapi Tobio yang masih berada di atas udara saat melompat terkejut melirik Mikleo. Ia merasa Mikleo seperti bukan melompat, tetapi melayang.
            Hah? Apaan ini??... kok aku merasa aneh dengan dia… seperti bukan melompat.. lalu ia kembali melirik ke atas. Benar saja dugaan Tobio, tangan Mikleo lebih dulu berada di atas dan akan menggapai bola itu. Gawat…. Lompatannya luar biasa. Padahal badanku lebih tinggi darinya. Ini sih dia udah melayang…
            Bola basket telah disambut dengan tangan Mikleo dan didorong ke belakang dan mengarah kekiri. Disana ada Kageyama sudah siap menerima bola. Bola tersebut langsung mengarah ke kageyama tanpa hambatan. Tangkapan bagus dari kageyama membuat penonton semakin ramai dan menambah volume suara sorak-sorak mereka didalam lapangan Indoor. Natsuki sudah meminta bola disebelah kanan. Kageyama langsung mengoper bola ke Natsuki. Seluruh tim Junior langsung menekan ke daerah lawan. Natsuki sebagai PG mengatur serangan mencari celah melalui posisi rekan-rekannya di beberapa sisi daerah lawan. Kageyama berada di tengah dalam lingkaran, Mikleo berada di kiri dekat dengan ring, dan Ryuji berada di sisi kanan diluar lingkaran. Sayangnya mereka sudah dibayangi pemain lawan termasuk dirinya. Ia sendiri dijaga oleh Minamoto, sang Kapten. Kageyama dijaga oleh Tobio, Mikleo dijaga Satoru dan Sorey, Ryuji dijaga Kyo. Melirik-lirik dimana celah itu bisa dimanfaatkan. Pemain yang lain pun tidak bisa bergerak karena ketatnya defense dari tim Senior. Dikursi cadangan, Tama dan Ryuzaki melihat pertandingan yang sudah masuk ketegangan pada awal-awal waktu.
            “Tama, ini sepertinya akan jadi pertandingan seru. Lihat saja, tim senior memang memliki defense yang kuat. Kayaknya nggak kebayang deh kalau mereka sudah masuk offense.”
            “memang sih, tapi… coba perhatikan baik-baik dengan cermat pertandingan ini! Ini bakal seru loh..”
            Tama berkata dengan santai dan terlihat cukup bahagia sambil menyilang kedua tangannya dibadan. Ryuzaki yang sebenarnya tidak begitu paham perkataannya mengikuti arahan Tama melihat pertandingan dengan cermat. Melihat dengan cermat? Emangnya ada sesuatu yang aneh ya?..... tak lama kemudian, Eh?!... tunggu deh. Ada yang aneh… aku baru menyadarinya. Tunggu..tunggu. ini berapa orang sih yang main? Kok 5 banding 4 ya? Coba ku lihat dulu. Natsuki, Ryuji, Kageyama, Mikleo, terus….. hah! Matsunaga?! Dimana dia ya..? kok nggak ada?
            “Tama-kun, Matsunaga nggak ada..”
            “wah…ternyata kamu sadar juga ya? Sebenarnya dia bukannya nggak ada. Tapi bersembunyi dibalik “bayangannya” dan “bayangan orang lain”?”
            “hah… maksudnya?!”
            “coba lihat lagi baik-baik!”
            Ryuzaki yang semakin bingung kembali melihat pertandingan. Lalu, didalam lapangan Natsuki yang masih melirik ke kanan-kiri mencari rekannya yang “kosong” masih memantulkan bola basket ditangannya. Satu pandangan dari banyaknya lirikan mata yang serius tertuju ke sebelah kanan. Antara dari posisi Ryuji, dan posisi Kageyama yang ada ditengah terdapat sebuah celah dan disana ia melihat satu sosok yang sedang berlari menuju “ruang kosong” itu. seperti mengalami slow motion mata Natsuki mempertajam penglihatannya ke “ruang kosong” itu. ternyata Matsunaga seperti mengeluarkan percikan bintang-bintang masuk kedalam lingkaran. Matanya seakan-akan memanggil Natsuki. Natsuki yang menyadari adanya dirinya dengan sigap melemparkan bola basket itu kearah Matsunaga dengan kencang. Minamoto yang menjaga Natsuki hanya bisa melirik dengan perasaan yang tidak enak.
            Bolanya… di lempar kedepan? Apa dia langsung mengumpan? Tapi rasanya ada perasaan yang tidak enak. Apakah itu?
            Bola itu meluncur dengan cepat. Namun, karena banyaknya pemain yang hanya melihat gerakan bola itu kearah Matsunaga yang saat itu belum ada yang menyadari keberadaannya seakan ada efek jalur yang keluar dari bola basket tersebut ditambah “suasana”slow motion membuat isi lapangan semakin merasakan sebuah ketegangan sekaligus menambah kekuatan “atmosfer” emosional.
            Bola itu… ditujukan ke…..Matsunaga yang sudah mengisi posisi tersebut berhasil menangkap bola. Dengan cepat seperti kilat ia langsung melakukan lay-up. Bola basket itu masuk kedalam ring lawan. Sejenak lapangan indoor sempat hening dan banyak yang tercengang kecuali Tama yang hanya tersenyum karena sudah menyadari gaya permainan Matsunaga. Setelah papan skor otomatis telah berbunyi “Tuk” dan angka 0-2 telah terpampang, semua mulai ramai dan bersorak-sorai karena Matsunaga telah mencetak angka pertama untuk tim junior. Natsuki sempat tersenyum karena bola pertama telah masuk ring. Matsunaga melihat kesekelilingnya dan setelah ia melihat Natsuki yang tersenyum. Matsunaga membalas senyum dan mengacungkan jempol.
            Jadi itu maksud Tama? bersembunyi di balik “bayangannya” dan “bayangan orang lain”. Ah….Ryuzaki mulai teringat sesuatu. Misdirection…! Itu Misdirection..!!...
            “Ryuzaki… pasti kamu sudah menyadari kemampuan Matsunaga, bukan?”
            Tama bertanya kepada Ryuzaki.
            “Matsunaga punya Misdirection’kan, Tama?”
            “benar sekali… Misdirection itu adalah kemampuan seseorang yang menipiskan hawa keberadaannya. Tapi orang yang memang sudah memiliki hawa keberadaan yang tipis akan lebih mudah menggunakan kemampuan tersebut. layaknya seperti pesulap, ia seolah-olah bisa menghilang seperti ninja. Padahal dia hanya berpindah tempat saja. tapi, kembali lagi dengan hawa keberadaannya yang tipis itu. Dan nggak Cuma itu, terkadang kemampuan ini bisa dilakukan untuk mengalihkan perhatian lawan.”
            “mengalihkan perhatian lawan? Bagaimana caranya?”
            “hehe.. maaf deh. Yang satu ini belum bisa ku jelaskan…”
            “yaaah… Tama~ aku’kan penasaran? “
            “nanti deh aku jelasin yang itu.. sekarang kita fokus dulu ke pertandingan supaya kita dapat pemikiran untuk membuat strategi lagi.”
            “hmm…. Iya juga sih.. tapi janji ya bakal ngasih tahu..”
            “iya.. tenang aja..”
            Masuk kembali ke lapangan. Tim senior kembali menguasai bola. Bola berada ditangan Kyo Nobisuke yang berposisi menjadi PG. rambutnya yang dikuncir seperti ekor kuda mendribble bola dengan  baik.  Lalu, ia mengoper ke Satoru yang sudah berada di depannya. Posisinya yang aman berada di dalam lingkaran. Satoru telah menerima umpan dari Kyo dan mencoba melakukan “eksekusi” dengan melakukan dunk. Dia sudah melompat, kemudian bersiap tangannya nge-dunk. Namun, apa yang terjadi? Tanpa diduga, gerakan tangan menyapu bola basket mengagetkan Satoru sampai ia terbelalak matanya. Rupanya, tangan yang menyapu bola itu adalah Kageyama.
            Sial…. Tidak kusangka dia masih bersiaga…
            “maaf saja ya… aku masih didalam lapangan!!..”
            Hempasan bola tersebut berhasil diterima Ryuji kemudian ia berlari kedepan untuk berbalik menyerang.
            “Ayo para Senpai!! Jangan mau kalah dengan junior!” teriak Minamoto kepada timnya.
            Ryuji dengan kecepatannya seperti angin mampu melewati dua pemain sekaligus seperti Sorey dan Kyo. Mereka berdua sampai terkejut dengan kecepatan angin dari Ryuji yang melewati mereka dan melihat ke belakang.
            Gawat.. cepat sekali dia… aku sendiri tidak bisa mem-block-nya. Gumam Sorey dalam hati. Begitu hampir memasuki lingkaran Minamoto sudah berada disamping kanannya.
            Wah.. sang kapten cepat juga kembalinya.. tapi, maaf. Bola ini akan menambah poin untuk kami lagi. Ryuji yang berlari sampai kesamping kiri melihat Mikleo yang sudah melambaikan tangannya. Dan posisinya pun aman Karena Satoru dan Kyo masih berada dibelakang mengejarnya. Ryuji melakukan passing kekanan dengan posisi tangan kiri diayunkan kebelakang punggungnya.
            Sial..! lagi-lagi aku tidak bisa merebut bolanya. Bola itu sudah diterima Mikleo dan tanpa basa-basi melakukan dunk. Ia melompat dengan begitu semangat dan “Braaak!!!” suara dunk yang keras dari Mikleo membuat seisi lapangan menjadi lebih heboh. Permainan yang mengesankan dari tim Junior membuat para penonton benar-benar ramai dan bahkan ada yang histeris. Terutama para murid kelas 1.
            Hebat sekali kemampuan anak-anak kelas satu tahun ini… tanpa melakukan pengasahan pada diri mereka bermain basket mereka sudah bisa mengatur ritme permainan. Padahal mereka baru kenal dan baru tahun ini masuk sekolah. Luar biasa, ini kejadian yang pertama kali ku rasakan.
            Ryouta bergumam dalam hatinya bahwa ia takjub dan kagum dengan anak-anak kelas 1 yang bergabung di Tim basket Ishiyama. Dan terlebih lagi ia melihat ke kursi cadangan disebelah kanannya lumayan jauh dari tempat duduknya, tim Junior yang masih menyisakan dua orang yang belum dimainkan seperti Ryuzaki Hinata dan Pratama Budiman. Ia pun juga sempat cemas melihat aura dari kedua pemain yang terbilang kuat. Ia merasa mereka berdua akan menjadi kartu AS untuk tim Junior. Alisha dan Mikasa yang berada di tribun sempat tercengang dengan serangan yang dilontarkan tim junior hingga langsung mencetak 4 poin
            Hebat!.. mereka seperti pemain pro saja… gumam Mikasa dalam hatinya.
            Saat didalam lapangan, Tobio mengambil bola basket untuk melakukan throw in dari bawah ring. Ia bersiap melempar kedalam lapangan untuk mengoper bola ke rekannya. Dari situ, Mikleo sempat terkejut saat dia sudah mundur sampai setengah lapangan. Matanya sampai melotot seperti sedang ingin ditabrak mobil. Tama yang duduk di bangku cadangan sempat setengah berdiri melihat sesuatu yang akan keluar dari Tobio. Benar saja, sebuah kuda-kuda yang cukup lebar dari Tobio Michiru dan tangan kanannya memegang bola basket seperti ingin membuang barang yang dia buang sejauh mungkin. Rentangan tangannya lebar seperti menarik tali busur panah agar bisa melepaskan anak panah dengan kencang.
            Apa ini? Perasaanku tidak enak…. Pikir Tama cemas. Tobio melepaskan lemparan dengan cukup kencang. Kecepatannya hampir sama dengan kecepatan lari Ryuji yang seperti angin. Bahkan dalam dunia fantasi, lemparan Tobio sampai mengeluarkan angin yang lumayan kencang. Tapi arah bolanya melengkung seperti bulan sabit. Awalnya Natsuki yang menjaga Minamoto berpikir bola itu akan ditujukan ke Minamoto. Ia terkejut arah bola bisa melengkung secara mulus dan diterima baik oleh Sorey.
Yosh..! lemparan melengkung milik Tobi-chan… BANANA PASS !..
Kemudian  ia berlari kedepan menuju lingkaran lawan. Belum sampai masuk, Kageyama sudah siap menanti kedatangan Sorey untuk merebut bola. Satoru dan Kyo yang sudah bersiap dibawah ring lawan juga dijaga Mikleo dan Matsunaga. Tobio datang dari belakang meminta bola kepada Sorey. Kemudian  ia melempar kebelakang dan memberikan kepada Tobio. Setelah diterima, Tobio sedikit berlari kesamping kanan dan ia sudah dibayangi oleh Ryuji. Karena tingginya tidak semampai, Tobio tersenyum kecil. Lalu tangan kanan menyentuh bola basket dan bersiap melakukan tembakan dengan satu tangan. Badannya yang tinggi sampai tidak ada hambatan untuk melakukan lemparan ke ring. Lompat sedikit saja dan langsung mendorong bola dengan tangan kanannya. Posisi ia melempar berada diluar lingkaran. Ryuji hanya bisa memandangi Tobio melepaskan tembakan dan sama sekali tidak bergerak alias mati langka. Bola sudah melayang di udara. Tampak para pemain sampai tercengang dan para penonton serta panitia sampai banyak yang membuka mulutnya lebar-lebar. Setelah itu…”Proookk!!” bunyi tali ring yang kencang menandakan bola itu masuk. Tim senior langsung mendapatkan 3 poin. Penonton sampai sorak gembira melihat aksi Tobio di lapangan.
            “jangan senang dulu, Junior!.. kami tadi baru pemanasan.”
            Para pemain mulai memandangi tajam Tobio. Tobio pun bergumam
            “sekarang, kami akan melayani kalian sepenuh hati!” 
            “wah..wah.. sepertinya Tobi-chan sudah mulai serius nih.. kalau begitu aku juga akan serius”
            Tambah Sorey dengan gembira. Minamoto, Satoru dan Kyo juga berlaku demikian.
            “heeh..! pertandingan jadi seru saja. padahal baru awal waktu, loh.”
            Mikasa yang menonton di Tribun merasa terkejut dan terkagum melihat permainan basket antara Senior-Junior.
            “hmm.. aku juga berpikir demikian… kayaknya ini bakal seru nih. Apalagi, dua orang yang masih dibangku cadangan itu masih belum dimasukkan.”
            Kata Alisha sambil memandangi Ryuzaki dan Tama yang duduk dibangku cadangan. Sementara itu, Ikki yang duduk bersama panitia yang mengatur time out merasa gregetan dengan permainan kedua tim.
            Nggak nyangka anak kelas 1 sekarang bermain seperti sedang kehausan akan kemenangan. Padahal ini hanya persahabatan saja. tapi, jiwa mereka sudah jiwa kompetisi.
            Itulah gumam Ikki dalam hati. Ia pun tersenyum seperti telah membayangkan sesuatu yang bersifat positif.

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 1)