LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 5)



Chapter 5 : AWAL MULA BERMAIN BASKET
Hasil gambar untuk basket anak kecil
Ilustrasi

B
erada di dalam kamar, duduk didepan meja belajar, menatap layar laptop. Aku sedang melihat sesuatu hal dibalik layar tersebut. saat itu aku sedang membuka e-mail. Alasanku membuka e-mailku karena ingin mengetahui apakah ada pesan masuk di e-mailku. Sekolah di Jepang telah menjadi impianku. Aku mulai memimpikan itu saat masuk SMP kelas 1. Ditambah lagi karena suka sekali nonton Anime dan mendengarkan lagu-lagu yang lebih banyak adalah band-band dari Jepang. Band Jepang yang aku suka diantaranya adalah One Ok Rock, The Oral Cigarettes, Asian Kung-fu Generation dan Fear, and Loathing In Las Vegas atau disingkat FALILV. Selain itu, mendengarkan lagu-lagu jepang selain 4 band tersebut biasanya sekedar lewat ditelinga saja. kalau ada asyik didengar, terutama vokal dan musiknya pasti aku download melalui laptopku ini.
            Syukurlah…. Gue dapat beasiswa untuk sekolah di Jepang. Dan Gue bakal bersekolah di SMA ISHIYAMA pada bulan Agustus. Yes..!
            Beruntungnya aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Jepang. Impianku sepertinya akan tercapai. Aku duduk dengan perasaan yang lega. Kurebahkan punggungku dikursi. Ku tatap langit-langit kamarku yang terlihat berwarna jingga. Menarik nafas sedalam-dalamnya lalu ku keluarkan dengan begitu santainya. Aku kembali menegakkan kepalaku menghadap meja belajarku kembali. Tak sengaja ku melihat sebuah bingkai foto. Letaknya di sebelah kanan dari pandangan mataku. Segera bingkai itu ku ambil dan ku lihat sebuah foto. Foto itu terlihat tim basketku di SMP. Asal SMP ku di SMP Kusuma Jaya, Bekasi. Aku di foto itu bersama dengan teman-temanku dan seorang pelatih di tim Basket Kusuma Jaya. saat itu aku dengan tim ku mendapatkan juara 1 pertandingan basket tingkat nasional. Final pada waktu itu melawan salah satu SMP yang berasal dari Palembang. mereka lawan yang cukup tangguh. Tapi, kami berhasil mengalahkan mereka dengan skor 88 – 76. Momen-momen indah itu pula yang menjadi akhir perjalananku berada tim basket Kusuma Jaya karena aku sudah kelas 3 SMP dan disemester terakhir sudah mulai fokus untuk persiapan UN dibulan April. Dimulai dari jam pelajaran tambahan, Try Out, Ujian Praktek, Ujian Sekolah sampai akhirnya Ujian Nasional atau UN sudah kutempuh. Nilaiku keseluruhan adalah 39,60. Dengan rata-rata 9,93. Nilai keseluruhan itu berasal dari 4 mata pelajaran yang diantaranya adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan nilai 10,00 , Matematika 9,75 , dan IPA 9,85. Tak menyangka juga aku bisa mendapatkan nilai fantastis seperti itu. mendapatkan peringkat 1 UN di sekolah dan peringkat ke 3 Se-Kota Bekasi, serta peringkat ke 10 se-Jawa. Kalau tingkat Nasional sepertinya tidak beritanya. Kalaupun ada rasanya aku tidak begitu peduli pula. Saat acara perpisahan, aku mendapatkan sebuah penghargaan berupa laptop yang sekarag masih kupakai. Sebelumnya, aku masih punya laptop. Tapi, karena aku mendapatkan hadiah tersebut. jadi, laptop yang lama kuberikan kepada Fiska, Adikku.
            Handphoneku berdering tak lama setelah ku tatap bingkai foto itu. sebuah panggilan ditujuka padaku. Itu berasal dari temanku– maksudku, teman sekelasku, yang merupakan teman seperjuanganku disekolah, di tim basket bahkan ia adalah teman kecilku. Namanya Adit. Panggilan itu ku terima. Dan kukeluarkan suaraku melalui handphoneku itu.
            “halo….”
            “halo…. Tama? Lo lagi dimana ?”
            “lagi dirumah bro.. kenapa?”
            main basket yuk! ‘bocah-bocah’ udah pada nunggu tuh dilapangan..”
            et dach bocah…!! Dadakan amat sih, tong.. ngapa nggak ngomong dulu semalem. SMS kek, nge-Line kek….”
            Temanku yang satu ini memang cukup menyebalkan. Sampai sekarang sifat itu belum juga hilang. Ya, ampuuun… kapan anak ini bisa berubah? Selalu saja memberi sesuatu hal secara dadakan. Ya… baiklah.. karena aku juga sedang santai dan luang. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan mengambil tasku. Kemudian sepatu basketku, air minum dan setelah itu aku pamit dengan ibu, ayah dan Fiska untuk pergi ke lapangan basket. Tidak begitu jauh dari rumahku. Sekitar 400 meter. Berjalan kaki lebih asyik bagiku. Kebiasaan ini sudah lama kugemari. Saking sukanya dengan jalan kaki, pernah ku teringat suatu hari aku pulang berjalan kaki dari sekolah menuju ke rumah melakukan kebiasaan itu. kebetulan aku tidak bawa sepeda karena belum sempat kubawa ke bengkel karena rantainya putus dan harus diganti. Jarak dari rumahku ke SMP Kusuma Jaya sekitar 30 Km. kalau naik sepeda biasanya memakan waktu 20 menit. Jadi, aku diantar ayahku naik motor. Karena ayahku masih bekerja disebuah perusahaan fabrikasi. Biasanya sih beliau berangkat kerja naik mobil. Berhubung saat itu hari senin. Banyak orang menyebut hari senin sebagai hari rutin macet sedunia. Aku pun berpikir begitu. Entah kenapa hari senin itu selalu terlihat kemacetan disetiap jalanan kota. Aku sering bertanya-tanya apakah orang-orang sering bangun kesiangan setiap hari senin? Memangnya mereka begadang ketika malam di hari minggu? Ini kedengarannya dramatis, tapi aku harus bilang kalau kejadian ini sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri. Ada apa dengan hari senin? Kenapa harus ada kemacetan? Benar-benar misteri banget.
            Aku kesampingkan saja masalah itu. Dan singkat saja, setelah ayahku mengantarkanku sampai digerbang sekolah dan mencium tangannya. Aku berjalan masuk menuju kedalam sekolahku. Ayahku pergi bergegas menuju tempat kerjanya. Secara refleks, ku raba celanaku. Sampai disitu, aku baru ingat bahwa aku lupa membawa uang saku. Kedua tanganku masuk kedalam saku celana dikiri-kananku. Sempat kaget, agak lesu namun aku tidak begitu peduli amat. Setidaknya saat itu aku membawa 2 bungkus roti dan air minum di tasku. Dan itu benar-benar kucukupkan diriku sampai pulang sekolah nanti yaitu pada jam 2 siang. Dari situlah aku pulang berjalan kaki sampai kerumah. Itu agak memalukan bagi diriku sendiri. Yaah.. tidak peduli juga sih, lagipula ini’kan aku yang menjalani hidupku sendiri. Jadi, ku nikmati saja.
            “Tama..!!”
            Sudah ada yang berteriak memanggil namaku. Aku sampai tidak sadar kalau sudah sampai dilapangan basket. Ku lihat beberapa temanku sudah berkumpul disalah satu ring basket dilapangan itu. langsung saja aku ikut bergabung dengan mereka.
            “lambat banget Lo, Tama? abis dandan, ye?
            “mata Lo Salto!!.. Lo itu yang salah. Kenapa sering banget ngabarin Gua main basket dadakan..?!”
            “oh, iya… Gua lupa.. hehe…Sorry, brother..
            Ah….Najis banget nih anak.. itu akhir kalimat yang sering dia ucapkan padaku. Rasanya ingin ku potong leher kepalanya dan kupanggang pakai oven dengan temperatur 98 derajat celcius hahahaha. Tapi sayangnya, perasaan itu benar-benar harus kutahan 9 tahun lamanya sampai akhirnya aku mulai terbiasa dengan kebiasaan buruknya itu. yaaa.. terkadang aku masih tetap kesal saja.
            Ketika aku sudah di lapangan, selain aku dan Adit, ada juga Rizcan, Pandu, Andika, Rifky, Faris, Roy, Udin, dan Daryus. Mereka semua adalah teman-teman satu tim denganku disekolah. Kami semua bersahabat sejak masuk SMP Kusuma Jaya. namun, Rizcan dan Rifky sebenarnya tinggal di komplek yang sama denganku dan Adit. Hanya beda RT saja. Memang tidak semuanya sekelas. Yang selalu sekelas denganku hanya Adit saja dari kelas 1 sampai kelas 3. Dan kebetulan juga Rifky sempat sekelas denganku dan Adit dikelas 3.
            “Baiklah…. Ayo kita mulai main basket..!

            Suara televisi terdengar dari ruang tamu rumahku. Kejadiannya ketika aku berumur 5 tahun.  Aku keluar dari kamarku untuk melihat ruang tamu. Ayahku duduk di sofa sedang asyik menonton. Lalu, aku ikut duduk di sofa.
            “wah… ada Tama. sini, temani ayah nonton! Ayah lagi nonton pertandingan basket.”
            Ayahku berkata lembut padaku. Beliau rupanya sedang menonton pertandingan basket di salah satu channel di televisi. Ini adalah awal bagiku mengenal tentang basket. Aku melihat dari TV itu, para pemain saling merebut bola basket. Permainan cantik dan terbilang seksi diperagakan kedua tim. Melihatnya aku seakan-akan terbawa. Seperti ingin ikut bermain juga. saking semangat menonton. Kadang-kadang aku sampai memaki pemain-pemain yang tidak berhasil mencetak angka atau ada kesalahan dalam membangun serangan melalui TV itu. padahal mereka tidak mendengarku. Ayahku sampai tertawa melihat Tama kecil ini. Hahahaha….. aku jadi malu sendiri sih kalau mengingat peristiwa itu.
            “Tama… kamu kayaknya bersemangat sekali melihat ‘basket’..”
            “iya… seru banget loh… keren.. saya pengen banget main basket.”
            “tentu saja.. suatu saat nanti kamu pasti bisa main basket. Bila perlu kamu bisa masuk TV”
            “masuk TV? Tapi’kan badanku nggak muat masuk TV..”
            “hahaha.. maksudnya, kamu bisa terlihat dari TV seperti para pemain itu.”
            “oh… begitu.. oke.. saya bakal masuk TV!”
            Ayahku dengan tersenyum mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku hanya tertawa seperti preman pasar saja. Menolak pinggang dan membusungkan badanku dihadapan ayah. Kemudian, saat lanjut menonton ayahku memberikan sedikit pengetahuan mengenai basket. Dimana hal yang paling mendasar dalam bermain basket diantaranya Dribble, Passing, Shooting, Lay-up, Blocking, Screen, Slam Dunk dan Stealth. Beliau juga memberitahuku hal-hal lain disaat melakukan Shooting seperti Faded-away, Scoop Shot, Hook Shot, Alley-Oop, 3 point dan masih banyak lagi jenisnya. Selain itu, ada istilah-istilah yang tidak boleh dilakukan dalam bermain basket. Yaitu Foul(s), Traveling, Double, Kick ball, Back ball, 3 seconds, Jump, dan lain-lain. Ada juga yang namanya Tip off, dimana permainan bola dimulai dengan melemparkan bola basket ke atas. Kedua pemain merebut bola yang masih berada di atas udara  dengan melompat dan memukul bola ke sisi mana saja asalkan rekan-rekan yang lain harus bersiap-siap menerima bola Tip Off. Ada juga Fake, sebuah gerakan menipu lawan. Misalnya kita ingin melakukan shooting. Itu hanyalah untuk melakukan tipuan kepada lawan agar ia melakukan gerakan block dan setelah itu, pemegang bola bisa lolos dari penjagaannya. Karena aku masih kecil saat itu, jadi belum semuanya paham tentang hal-hal teknis itu.
            Suatu hari, ketika aku sudah duduk dibangku kelas 2 SD. Disinilah aku mulai benar-benar diajak langsung bermain basket dilapangan. Sahabatku, Adit yang juga sehobi denganku mengajakku ke lapangan dan bermain basket. Kebetulan di lapangan, ada Rizcan dan juga Rifky. Aku baru ingat, mereka ini pernah satu TK denganku. Ditambah rumahnya yang masih satu komplek denganku membuat persahabatan kami semakin dekat meski saat SD tidak bareng.
            “nah, bro.. udah sampai nih kita..”
            Adit sambil membawa bola basket yang ukurannya untuk street basketball ini menyadarkanku bahwa kami sudah sampai di lapangan. Pertama kalinya aku melihat banyak anak-anak remaja pada saat itu benar-benar lagi pada asyik bermain basket. Ramainya pengunjung di lapangan membuatku jadi terbawa suasana. Aku langsung mengambil bola dari Adit menuju lapangan basket yang ada disebelah kanan. Rizcan dan Rifky sudah melambaikan tangan disana. Kami bermain basket dua lawan dua. Karena badan kami belum setinggi anak remaja ataupun orang dewasa. Permainan kami pun hanya sekedar berlari, memantulkan bola, lempar bola ke ring meski banyak yang tidak masuk. Bisa dibilang namanya main ecek-ecek atau asal-asal saja. setiap sore kami main dilapangan itu. tidak hanya lapangan basket saja yang tersedia di komplek itu. lapangan futsal dan badminton juga ada disana. Tapi, kami lebih senang bermain basket. Saat itu, alasan kami sederhana. Kami ingin memiliki badan yang tinggi, berotot dan sixpect. Hahahaha…. Aku jadi geli mengingat alasan diriku yang masih kecil ini. Menurutku, peristiwa tersebut menjadi masa kecil yang cukup bahagia.
            Pernah suatu ketika, pengalaman pahit terjadi padaku. Lebih tepatnya pengalaman pahit sahabatku. Adit pernah mendapatkan perlakuan tidak baik dari beberapa anak-anak SMP yang merampas hak kami bermain basket. Pasalnya, kami sudah menempati lapangan itu terlebih dahulu. Sayangnya, anak-anak SMP ini malah melakukan cara yang dipatut ditiru untuk anak-anak seperti kami yang masih SD kelas 2. Rifky dan Rizcan juga tidak dapat berbuat apa-apa disana. Mereka juga ketakutan. Dan juga jumlah mereka ada 8 orang. Aku yang baru datang dan melihat sahabat-sahabatku di tindas seperti binatang langsung ambil tindakan disana. Aku yang sadar dengan tubuhku yang kecil dan tidak dapat melawan mereka yang berbadan besar mencari bantuan. Untungnya di lapangan sebelah ada beberapa pria dewasa yang sedang bermain basket. Segera ku berlari ke mereka dan meminta bantuan kepada mereka. Mereka yang telah mendengarku meminta bantuan segera pasang badan dan mengikutiku menuju lapangan basket. Sesampainya di lapangan, Anak-anak SMP itu langsung diberi penegasan kepada para pria dewasa tersebut. Akhirnya mereka pergi tanpa mendapatkan apa-apa. Wajah lesu dan seakan-akan memendam amarah dibawa oleh mereka. Aku berterima kasih kepada mereka dan segera membawa Adit pulang ke rumahnya. Sempat mendapatkan luka dibagian lutut dan memar di bagian tangan. Di rumahnya, ia langsung diobati ibunya. Aku, Rizcan dan Rifky merasa kesal sendiri namun tidak dapat berbuat-buat apa. Adit masih tersendat-sendat karena masih menangis. Kejadian itu sampai sekarang benar-benar takkan pernah kulupakan.
            Selepas insiden itu, Adit kembali ceria dan masih mengajak kami bermain basket sampai kami sudah remaja. Artinya, 8 tahun kami bersama memainkan si merah bundar ini. Ditambah lagi kehadiran Pandu, Andika, Faris dan Roy melengkapi kisah berwarna kami bertiga bersama benda yang dapat memantul ini. Yaaah… basket bisa membuat kami menjadi keluarga. Dan karena basket, banyak prestasi yang kami dapatkan di sekolah. Khususnya SMP Kusuma Jaya. mengenai tim basket kami di SMP. Tentunya pengalaman pahit pun juga ada. Saat itu, tim kami masuk perempat final. Tentu saja lawan kami adalah pemain-pemain kelas berat. Dari SMP Negeri 90 Jakarta, kami benar-benar kwalahan menghadapinya. Beberapa dari mereka ada yang bergabung denga klub basket eksternal, ada juga yang ikut pelatnas dan mendapatkan sertifikat nasional. itu awal kami mengalami kekalahan dengan hasil yang mengenaskan. Yaitu 80-37. Itu adalah peristiwa yang pertama kali melihat tangisan dan wajah sedih dan tidak ikhlas sahabat-sahabat sekaligus rekan satu tim. Dari kejadian itupula, sempat kami adu mulut dan melampiaskan amarah karena membahas hasil akhir yang kami dapatkan. Kurang komunikasi, keegoisan, dan kurangnya konsentrasi pun dijadikan sebagai alasan dan berujung kepada perkelahian yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Selama dua minggu kami tidak berteguran dan mankir dari jadwal latihan.
            Pada malam harinya, saking aku tidak tahan melihat aksi dramatis bak sinetron di TV yang harus ku nilai tidak berbobot dan sangat kaku ini memutuskan membuat surat pengunduran diri dari tim Basket. Kubuat alasan bahwa aku sudah mulai banyak agenda baik disekolah maupun diluar sekolah sehingga khawatir tidak dapat mengatur waktu. Padahal ak melakukan ini karena tidak ingin adanya ‘perang dingin’ yang masih berlangsung sampai dua minggu lamanya. Begitu pagi hari disekolah, kuberikan surat itu langsung kepada pelatih sekaligus guru olahraga kami, pak Yasin. Beliau saat itu berada di ruang guru dan tidak banyak berkomentar setelah menerima surat itu. setelah semua itu kulakukan, yang kulakukan adalah fokus belajar dengan wajah datar. Selesai belajar langsung pulang. Kalau ada PR, maka sepulang sekolah aku kerjakan dikamarku sendiri. Selama kurang lebih satu bulan aku tidak lagi aktif di klub basket Kusuma Jaya pada saat itu. Akhirnya, sahabat-sahabatku datang menemuiku di rumah pada sore hari pada hari Kamis. Aku tidak tahu tanggal berapa persisnya tetapi aku ingat pada waktu itu aku sedang sakit Tifus atau demam tinggi dan tidak masuk selama 4 hari. Di hari keempat itulah, Adit, Rifky, Rizcan, Pandu, Andika, Roy dan Faris menjengukku. Singkat ceritanya, mereka semua saling meminta maaf dan mengakui kesalahan-kesalahan mereka. Mereka menyesali perbuatan mereka. Aku pun juga melakukan hal yang sama. Meminta maaf, menyesali dan mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah kubuat selama bersama mereka di tim basket. Setelah itu, mereka memintaku untuk kembali ke klub basket Kusuma Jaya lagi. Dan itulah awalku bersama rekan-rekan tim kembali bangkit dan menjadi tim terhebat pada periode itu. kami kembali menyesuaikan tempo permainan dan keselarasan kami dalam bermain. Dari situ, tim basket Kusuma Jaya menjadi tim yang tak terkalahkan setelah mengikuti 3 kejuaraan resmi. Diantaranya tingkat Kota, Provinsi dan Nasional. selain itu juga, kami pernah mengikuti kompetisi Street Basketball Se-Jabodetabek. Untuk tingkat Se-Jabodetabek kami hanya bisa meraih juara 3 karena di semi final kami kalah melawan salah satu tim yang berasal dari Depok. Kami kembali hidup karena sudah lama dan terbiasa menyentuh bola basket. Rasanya seperti mendapatkan kembali kekuatan sejati ke dalam diri kami.
            Cerita itu menjadi akhir bagiku bermain bersama sahabat-sahabatku di dalam tim. Dan permainanku dengan mereka tadi menjadi akhir untuk awal diriku bermain basket dengan sahabat-sahabatku di Indonesia.

            “Tama, hati-hati ya di jalan! Mudah-mudah lo bisa balik lagi ke Bekasi”
            Adit berkata kepadaku menjelang aku pergi ke bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Narita di Jepang.
            “iya… pasti gua bakal balik kok. ‘kan rumah gua disini. Di Bekasi. Pasti gue bakal pulang. Pas gua pulang kesini nanti. Kita main basket lagi.”
            “wah.. itu udah pasti bro….”
            Itu akhir percakapan kami. Kami bersalaman dan bahkan berpelukan dengan cukup erat seperti tidak ingin lepas. Setelah itu, aku naik mobil dan bersiap-siap berangkat. Itu perpisahanku dengan Adit. pandanganku terus kearahnya sampai kepalaku melihat kebelakang yang dibatasi kaca mobil bagian belakang. Sampai ada belokan ke kiri, tidak lagi aku melihat dirinya. Perjalananku dari rumah ke bandara memakan waktu sejam. Selama itu, aku manfaatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan ibu, Ayah dan Fiska, Adikku didalam mobil. Obrolan seru terutama berbicara tentang hal-hal yang berbau Jepang seperti Anime, Cosplay, kebudayaan hidup, musik dll. Kemudian membahas tentang tante Anita yang ada Jepang. Hingga sekolahku yang akan ku tempati. SMA Ishiyama. Menurut artikel yang kubaca di internet sekaligus dari info tentang beasiswa. SMA Ishiyama adalah SMA unggulan yang ke 7 dari 10 SMA unggulan di Jepang dan letaknya di kota Tokyo. Karena kebetulan kuota beasiswa disana masih ada, jadi langsung kuambil. Melihat profil sekolahnya yang bagus dan fasilitas-fasilitas yang tersedia cukup baik membuatku memilih sekolah ini. Sebenarnya sekolah yang lain pun masih ada kuota untuk beasiswa. Tetapi disini aku memilih yang peringkatnya tertinggi. Untuk sekolah yang peringkatnya diatas SMA Ishiyama sudah penuh kuotanya. Tidak masalah bagiku yang terpenting sekolah di Jepang adalah cita-citaku.
            Tak terasa obrolan-obrolan hangat didalam mobil harus berakhir karena kami sampai di bandara Soetta (Soekarno-Hatta). Ku ambil barang-barangku dibagasi mobil ditambah beberapa oleh-oleh yang kubawa untuk pergi ke Jepang untuk diberikan kepada tante Anita. Rasanya berat sekali meninggalkan tanah kelahiranku ini dan merantau ke negeri orang untuk menuntut ilmu. Yang seharusnya “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” kini harus diganti menjadi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Jepang”. Hahahaha….. entah kenapa aku seenaknya mengubah peribahasa itu. sampai di pintu masuk bandara. Itulah akhir pertemuanku dengan keluargaku. Mencium tangan dan memeluk mereka seerat mungkin seperti ingin ku tempalkan semua bekas tubuh mereka ke tubuhku. Terakhir, ku lambaikan tanganku kepada mereka setelah aku masuk ruangan bandara yang diawali tempat Boarding pass.
            Kebetulan aku naik pesawat berukuran besar. Yang pastinya pesawat ternama yang bisa membawa penumpang menuju ke luar negeri dengan kapasitas 350 orang. Untuk bagasi pesawatnya sampai 25 Kg. karena yang ku bawa kedalam hanya makanan-makanan khas daerah di Indonesia dan tas kecil yang isinya dompet, HP, dan beberapa ATK. Selebihnya ku taruh di bagasi saat berada di Boarding Pass. Perjalanan selama 7 jam ku tempuh dengan rasa lelah namun bahagia sekali karena akan menginjakkan kaki di negeri pencipta anime atau sebutan dari Kartun Jepang. Duduk di kursi berwarna biru yang cukup empuk. Kursi yang ku duduki dari kelas 2. Kalau dalam kereta api antar provinsi bisa disebut kelas bisnis. Harganya yang mengocek 15 Juta rupiah ini bikin kepala jadi agak pusing tetapi karena dapat bantuan dari pihak pemberi beasiswa, tanggungan tiket itu bisa teratasi. Aku memenjamkan mata dengan menghela nafas mencoba rileks dan santai selama perjalanan. Sambil membaca buku novel untuk mengisi waktuku selama dalam pesawat. Sampai saat kubuka lembaran berikutnya, terdapat foto yang terselip. Ternyata foto saat aku bersama teman-teman satu tim saat SMP. Aku baru ingat kalau ada satu foto yang ku selipkan dibuku novel RomCom (Romance Comedy) milikku.  Sengaja ku selipkan karena itu menjadi kenangan untukku diriku bahwa aku bisa bangkit dan menjalani hidup dari sana. Dan basket takkan pernah lepas dariku karena itu sudah mendarah daging. Aku sampai tersenyum saat menikmati perjalanan.

            “wah.. ceritamu cukup mengesankan ya, Tama.”
            Mikleo bergumam ketika Tama selesai bercerita. Rekan-rekan yang lain, para senpai, Alisha dan Mikasa sampai serius sekali mendengar cerita Tama. Masih berkumpul dan duduk-duduk santai di lapangan Indoor setelah pertandingan persahabatan.
            “iya.. itu benar.. ceritamu saat mengenal basket sampai perjuanganmu meraih prestasi hingga mendapatkan beasiswa sekolah disini seperti sedang berpetualang saja..”
            Sorey ikut menyahut.
            “kamu pikir dia lagi naik gunung?”
            Tobio menyela omongan Sorey
            “heh… jangan langsung menyimpulkan “petualang” itu sama dengan naik gunung, dong?”
            “ya, habisnya kalimatmu ketinggian banget..”
            “haduuh.. apa yang ada didalam otak senpai ini.”
            “itu benar, Tobio.. kamu tahu. Arti “petualang”kan luas. Nggak mesti dikaitkan dengan naik gunung”
            Ikki menambahkan penjelasan kepada Tobio. Tama dalam hati malah bingung mengenai arah pembicaraan ini.
 Hoi..hoi… kok jadi ngomongin gunung sih?
            “aku jadi penasaran sih… seperti apa Negara Indonesia itu? selain kuliner dan tim basket SMPmu, kira-kira kamu bisa menceritakan tentang wisata, kebudayaan, karakteristik dan hal-hal lain di Indonesia, nggak?”
            “hoi..hoi… itu panjang banget penjelasannya. Mau sampai jam berapa kita dengar ceritanya?”
            Kageyama menyela Ryuji yang masih bersemangat ingin mendengar cerita Tama. namun mengingat waktu yang sudah mulai masuk waktu malam. Ditambah seorang penjaga sekolah yang datang memberitahu untuk segera pulang. Seluruhnya pun bergegas meninggalkan lapangan Indoor.

            Tama mengambil sepedanya di parkiran. Ia memakai safety ride supaya ia aman saat bersepeda untuk pulang. Ia keluarkan sepedanya dan menaikinya meninggalkan parkiran sepeda. Mikleo, Alisha, Kageyama dan si Kembar melihat Tama menggunakan sepeda.
            “woy.. Tama-kun…!
            Tama mendekat kearah mereka setelah di panggil Mikleo.
            “kamu bawa sepeda, ya?”
            “iya nih… biar agak cepat dikit, sih..”
            “heee… kalau gitu sih aku bawa sepeda saja, ya.”
            “kita’kan gak ada sepeda di apartemen..”
            “eh, iya ya.. Alisha. Kita’kan nggak punya sepeda. Hehe
            Mikleo jadi tersenyum pahit karena sadar tidak memiliki sepeda di apartemen.
            “teman-teman, aku langsung pulang duluan, ya. Kalau ada waktu, kita bersepeda bareng”
            “wah, ide bagus tuh…. Aku juga sudah lama tidak bersepeda… “
            Kata Ryuzaki dengan begitu bersemangatnya
            “gimana kalau besok aja? ‘kan besok hari minggu..”
            “kamu ini bodoh, ya? Hari ini aja aku lelah banget setelah main basket. Emangnya badanmu ini terbuat apa sih sampe merasa masih bertenaga gitu?”
            Kageyama menyela omongan Ryuji yang lumayan konyol.
            “hoi..hoi.. aku gimana dong? ‘kan aku nggak punya sepeda..
            “NGGAK ADA YANG NANYA! BULE!”
            Kageyama dan si kembar berteriak kepada Mikleo yang tidak punya sepeda. Tak lama kemudian, Natsuki dan Matsunaga datang.
            “wah..wah.. kayaknya ada yang mau ngajakin bersepeda, nih?
            Natsuki menyahut.
            “kalau ada yang mau bersepeda, kami ikut dong..”
            Matsunaga menambahkan percakapan.
            “hmm.. boleh juga… makin rame makin asyik, bukan?”
            “kapan mau mulai bersepeda?” Matsunaga bertanya kepada Tama
            “yaa… mungkin minggu depan saja.. lagian hari ini kita sudah bermain basket. Pastinya kita perlu istirahat.”
            “benar juga… baiklah.. minggu depan nggak masalah..”
            “ oke.. kalau gitu kita bersepeda minggu depan”
            Natsuki menegaskan bahwa bersepeda dilaksanakan minggu depan. Semuanya sepakat untuk bersepeda ria.
            “woy… aku gimana?? “
            Mikleo seperti orang panik bertanya kepada yang lainnya karena dia tidak memiliki sepeda.
            “kalau soal itu.. mungkin kamu bisa berboncengan saja..”
            Mikleo sampai berwajah masam karena mendengar jawaban Tama. seperti tidak ikhlas menerima jawaban tersebut.
            “ oke teman-teman.. aku duluan..”
            “Tunggu !”
            Alisha menyeletuk. Tama langsung menahan pergerakannya.
            “Ada apa, Alisha?”
            Alisha sempat diam sejenak bagaikan memikirkan sesuatu atau mengingat-ingat sesuatu dipikirannya. Setelah itu ia mengatakan “eh.. nggak deh.. nggak jadi”.
            “oh, baiklah….”
            Tama sambil tersenyum mengatakan itu kepada Alisha. Alisha melihat senyuman Tama sampai memerah wajahnya dan seperti mengeluarkan aura yang bercahaya. Matanya semakin lama semakin lebar terbuka hampir melotot. Tama langsung pergi meninggalkan sekolah. Mengendarai sepeda di senja hari menjelang malam. Menyusuri jalanan yang agak sepi dan santai mengenderai sepedanya. Kecepatannya pun standar. Tidak terlalu pelan dan tidak terlalu kencang. Kemudian, saat ia fokus bersepeda tiba-tiba ia melihat seorang gadis berambut sepanjang leher menenteng tas berwarna hitam. Itu adalah Mikasa. Tama langsung menepi dan menyapanya.
            “hey…!”
            Mikasa kaget dan melihat Tama didepannya. Mikasa sampai sedikit malu-malu menyapanya..
            “eh..hey…”
            “kamu yang tadi ikut ngumpul sama kami’kan?”
            “i-iya.. benar..”
            “kamu pulang kemana?”
            “aku tinggal di komplek ROSE..”
            “begitu, ya… kamu mau ku antar pulang..?”
            Mikasa lagi-lagi kaget dan memerah wajahnya.
            “loh, kok wajah kamu merah..?”
            “eehh…. Nggak..nggak.. nggak apa-apa kok.. hehehe”
            Mikasa menggelengkan kepalanya bagaikan orang-orang yang habis melihat hal-hal yang aneh.
            “hahaha… maaf deh kalau tiba-tiba aku langsung menawarkan untuk pulang bareng”
            Daijobu…daijobu… eh.. anu.. kamu sendiri pulang kemana?”
            “aku pulang ke komplek SAKURA..”
            “wah.. dekat dong.. berarti kita seara– eh… “
            Tadi sempatnya semangat tahu-tahu ia langsung menutup mulutnya dan malu.
            “oh.. begitu.. ya sudah… kita barengan saja. lagian sebentar lagi malam. Bahaya tahu perempuan sendirian pulang malam-malam. Jadi, biar kuantar ya..”
            Mikasa sampai memerah lagi wajahnya dan terdiam ketika mendengar Tama berkata dengan sangat lembut suaranya, senyumnya yang mempesona dan adanya aura bercahaya dari dirinya. Seolah-olah seperti terhipnotis, ia mengiyakan tawaran Tama. lalu, ia di bonceng dibelakang. Kedua kakinya menginjak peletak kaki sepeda agar ia bisa dibonceng dibelakang. Tama langsung menggerakkan sepedanya lagi menyusuri jalanan.
            dalam perjalanan, Mikasa sempat teringat sesuatu kalau ia ingin mampir ke suatu tempat.
            “Tama-san…. maaf.. e… anu..”
            “ada apa, Mikasa?”
            “boleh mampir ke suatu tempat nggak? aku mau belanja sesuatu di minimarket?”
            “oh.. boleh.. kebetulan aku juga mau kesana… kita sekalian aja…”
            A-a-apa…. lagi-lagi kami ‘sama-an’… udah pulangnya searah.. dan sekarang dia juga ingin pergi ke minimarket?.. kok aku jadi deg-deg-an ya? padahal aku’kan belum terlalu akrab dengannya…. semoga aku nggak jatuh cinta sama dia…. soalnya aku sukanya sama–
            “Mikasa?.. kamu udah makan belum?”
            “e..heee.. ke-kenapa?”
            “kamu udah makan belum?”
            “oh.. hee.. kebetulan aku belum sempat makan siang… hanya sekedar ngemil aja..”
            “oh.. ya udah.. gimana kalau kita mampir ke tempat makan? sekalian makan malam..”
            “eee.. kayaknya gak usah deh… “
            “nggak apa-apa… nanti aku yang bayarin deh… “
            waduuuh….. jadi malu nih.. gimana ya…..? hmm.. apa aku terima aja ya tawarannya.. dia sih keliatannya baik… dan ramah.. apa mungkin seperti ini ya watak orang Indonesia. selalu senyum dan ramah tamah begini? aku belum pernah liat orang seperti dia disini..
            “maaf ya.. aku jadi langsung ngajak kamu makan… mungkin karena kita baru kenal ya? hehehe…. aku tahu kamu belum terbiasa denganku.. tapi, setidaknya aku ingin berteman dengan orang Jepang.”
            “o-o-oooh.. bo-boleh.. boleh… nanti setelah belanja, kita beli makanan… kebetulan ada jual ramen didekat minimarket yang bakal kita kunjungi…. enak kok ramennya..”
            “oke… pegangan yang kuat…”
            “w-woooow.. Tama-san.. pelan-pelan!”

            seperti yang mereka akan lakukan, mereka mampir ke sebuah minimarket untuk berbelanja. Mikasa dan Tama membeli sesuatu yang mereka butuhkan. Mikasa membeli 6 bungkus mie Instan kuah, rempah-rempah dalam kemasan dan 3 susu kotak berukuran besar. sedangkan Tama membeli rempah-rempah dalam kemasan, bumbu racik nasi goreng, 4 Bungkus Mie instan kuah, 2 batang coklat, dan 4 yogurt beraneka rasa.
            “eh.. anu.. Tama-san?”
            “pake –kun juga nggak apa-apa kok?”
            “eh.. tapi kita’kan baru kenal..”
            “lagipula kita ini sekelas’kan? selama tiga tahun nanti pasti kamu bakal akrab sama aku. Jadi nggak masalah kok kalau kamu langsung memakai keishoukun dibelakang namaku..”
            Tama sambil tersenyum berkata demikian kepada Mikasa. Mikasa sampai salah tingkah melihat Tama yang tersenyum itu. Wajahnya sampai memerah.. seakan menunjukkan rasa malu pada dirinya. Tama yang agak blak-blakan ini langsung merespon Mikasa.
            “Mikasa.. kamu kenapa? kok wajahmu merah?”
            “uh.. he.. heeeeh..!! iie…iie…!! nandemonai…. aku…aku Cuma terkesan aja..”
            “terkesan?..... hmm.. ya sudahlah…. ayo kita ke kasir!”
            Mikasa sampai salah tingkah lagi dengan Tama. Apalagi saat Tama blak-blakan seperti itu. membuatnya bagaikan mengalami serangan jantung. Ia menarik napas dengan dalam dan mengeluarkannya dengan sangat lega. Lalu ia pergi ke kasir sembari menyusul Tama. Setelah membayar barang-barang belanjaan mereka di kasir, mereka langsung menuju ke sebuah kedai ramen yang diberi tahu Mikasa yang memang tidak jauh minimarket. mereka berdua masuk ke dalam kedai, duduk di bangku kayu yang kakinya tinggi, memesan dua porsi ramen yang harganya cukup murah. kemudian, sebuah obrolan hangat kembali muncul diantara mereka berdua.
            “oh, ya… Tama-san..eh.. maksudku, Tama-kun ?”
            “iya… ada apa?”
            “kamu.. kenapa memilih sekolah di Jepang?”
            “yaah.. karena itu keinginanku… lagian, aku lagi bosen aja sekolah di Indonesia. karena semakin banyaknya kasus-kasus yang melibatkan administrasi di negaraku itu. bikin kepala tambah pusing aja..”
            “hmm.. maksudnya?”
            “yaah.. semua bidang-bidang yang terkait kemajuan bangsa dan negara sudah banyak dipolitisi… kasus korupsi masih merajalela, soal pendidikan dijadikan bisnis, hukum bisa dibeli, bencana alam masih terus terjadi. aku sih benci ngomong begini… tapi, entah kenapa kok aku jadi merasa putus asa dengan negaraku sendiri. aku memilih sekolah di Jepang. karena selain menjadi tempat pelarianku, disini juga sambil aku mempelajari tentang hidup yang tanpa batas bisa kita jalani”
            “hidup yang tanpa batas?”
            “iya, Mikasa…. terkadang menjalani hidup itu nggak Cuma sekedar kita melaksanakan sesuatu yang wajib-wajibnya aja.. atau yang sifatnya umum aja… tapi menjalani hidup seperti sebuah eksperimen. ingin mencoba segala hal. dan kadang mencoba sesuatu hal itu nggak musti ada di dalam rumah aja. kita juga bisa keluar rumah untuk mencari referensi terkini untuk memudahkan kita dalam merencanakan visi dalam menjalani hidup. supaya hasil yang kita dapatkan memuaskan dan bernilai.”
            “hmm… sebenarnya aku agak kurang paham dengan omonganmu.. tapi, apa yang kamu rasakan aku sedikit mengerti.. memang dunia ini sudah terlalu banyak memikirkan soal bisnis dan uang. Memang dua hal itu nggak bakal lepas dari hidup kita. hanya saja, kita nggak perlu “membuang” hal-hal yang menyenangkan di sekitar kita.”
            “sebenarnya nggak usah dibuat serius juga omonganku ini.. tapi mau gimana lagi? namanya lagi kesal… jadi bingung juga mau mikir apa…”
            “walaupun begitu, kita harus tetap memikirkan “mau dibawa kemana” hidup kita selanjutnya. pasti kamu mikir gitu juga’kan, Tama-kun
            “iya… Mikasa.. bagaimana pun kita harus tetap semangat dalam hidup. karena masa depan kita pastinya ada di tangan kita.”
            Tak lama kemudian, Ramen pesanan mereka telah datang. Dengan beberapa lauk yang menghiasi Ramen membuat selera makan semakin bertambah. “Ittadakimasu…!!” ucapan selamat makan dalam bahasa Jepang sudah tidak asing di dengar. Mereka berdua makan cukup lahap. Apalagi memang langit sudah mulai meninggalkan senja. Mangkuk besar yang memang membuat perut terisi penuh dan mengenyangkan ini semakin membuat aura keceriaan semakin bertambah. saat selesai makan pun, mereka masih lanjut mengobrol sembari “menurunkan isi perut”.
            “Mikasa… kamu di rumah tinggal dengan siapa?”
            “aku.. tinggal bersama Oka-san (Ibu) dan adikku.”
            “ adikmu laki-laki atau perempuan?”
            “dia perempuan… namanya Momoka..”
            “hmm.. begitu.. lalu, Ayahmu?”
            “Ayahku saat ini sedang bekerja di Korsel. Kebetulan beliau mengurus pekerjaan tambang Batubara”
            “oh… begitu ya.”
            “kalau Tama sendiri, di rumah tinggal bersama siapa?”
            “aku tinggal bersama Tante Anita. Dia itu bekerja di perusahaan asuransi di Jepang. Dan dia sebagai sekretaris perusahaan.”
            “wah.. pasti kamu berasal dari keluarga orang kaya, ya?”
            “nggak kok… biasa aja. Rumahku nggak mewah-mewah banget. Kalau kamu mau tahu rumahku, kapan-kapan kamu bisa mampir kok.”
            “heee.. iya deh… boleh juga..”
            “oke… kalau gitu, kita langsung pulang yuk! Aku takut orang tuamu mencarimu. Langitnya juga udah gelap nih.”
            “iya.. ayo kita pulang..!”
            Tama dan Mikasa pun beranjak dari tempat duduk mereka dan keluar dari kedai Ramen tersebut. Sepeda yang terparkir di samping kedai sudah diambil Tama. Dengan sepeda itu, mereka berdua kembali melakukan perjalanan untuk pulang. Sebelumnya, Tama mengantarkan Mikasa terlebih dahulu. Mikasa sempat deg-deg-an saat dirinya diantar pulang bersama Tama. Karena ini pertama kalinya ia diantar pulang oleh seorang laki-laki, jadi wajar saja dia sedikit malu-malu dan agak salah tingkah. Namun, ia senang karena ini pula pertama kalinya bisa diantar pulang oleh seorang laki-laki, berasal dari luar negeri dan juga keren menurutnya.
            Sesampainya Tama mengantar Mikasa di depan rumahnya. Mikasa berterima kasih kepada Tama.
            “terima kasih ya… udah nganterin aku pulang.. jadi ngerepotin nih..”
            “ah… nggak apa-apa kok… malah senang akunya bisa nganterin cewek pulang ke rumahnya…”
            “heeh.. emang kamu belum pernah nganterin cewek pulang ke rumah ya?”
            “aa… i..ya.. bisa dibilang begitu” Tama sambil menggaruk kepalanya
            Onee-chan !!....” seorang anak perempuan keluar dari pintu rumah Mikasa. Ternyata itu adiknya, Momoka. dia masih SMP kelas 1.
            “eh.. Momoka.. “
            Onee-chan sudah pulang ya?..... huh, ini siapa?..”
            “hai… aku Tama.. salam kenal..”
            “WOOOOHHHH!!!!.... kak Mikasa…. punya pacar!!!...”
            Momoka sampai heboh sendiri melihat kakaknya bersama Tama. Mikasa sampai salah tingkah lagi dan mencubit pipi adiknya..
            “iiiihhh.. bukan..! bukan!!...dia hanya temanku, Momoka.. ! bukan pacar….!”
            Kakak-adik ini jadi heboh sendiri sampai Tama sempat tertawa kecil melihat tingkah mereka. Seperti teringat ia sering bersenda gurau dengan adik perempuannya, Fiska.
            Mereka akrab banget…. yaaah.. jadi teringat Fiska… dulu Gue sering banget becandain dia… jadi nostalgia nih Gue di pikiran Gue sendiri….
            “Tama-kun, kamu mau mampir?”
            “eh, makasih. Mikasa. Tapi, lain kali aja deh. Lagian ini udah malam. Apalagi bawa belanjaan nih buat di rumah. Sampai juga lagi….”
            Tama membalikkan sepedanya dan pergi…
            “Terima kasih, ya. Tama-kun
            “kapan-kapan mampir ya, kak Tama.”
            ya ampuun…. rasanya senang banget bisa kenal dia. Terlebih lagi, rasanya kok hangat banget ya pas ngobrol bareng ama dia? aku nggak tahu, apa mungkin nuansanya orang Indonesia saat bercengkrama itu lebih asyik ya dari orang Jepang?
            Mikasa dan adiknya masuk kedalam rumah dengan membawa belanjaannya.
            Disisi lain, Alisha yang sedang di kamarnya di sebuah apartemen lagi-lagi memikirkan Tama. Sambil menatap jendela, ia sampai tersenyum sendiri membayangkan wajah Tama. Apalagi saat ia melihatnya bermain basket. Memang gaya bermainnya sangat beda dan indah. Bahkan  saat melihat senyumnya. Tapi, dia sadar kalau dia masih malu untuk terbuka dengannya.Ia menutup wajahnya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala.
            aduuuh… bodoh banget sih aku.. ngapain aku tadi? nyapa dia… tapi setelah itu nge-blank, nggak bisa ngomong apapun.. malu banget aku sampai bilang “nggak jadi” sama dia. Tapi, senyumnya itu nggak nahan banget..sumpah deh..
            berbeda lagi dengan Mikasa dari sisi yang lain pula. ia berada di kamar tidurnya di rumah. Dengan situasi yang sama, ia juga memikirkan Tama. Terutama saat ia berbelanja bersama, makan malam bersama dan diantar pulang.
            Ya ampuun…. Tama itu baik banget.. ramah.. dan asyik banget kalau dengerin dia ngomong. Udah gitu, dia pintar di kelas. Apalagi dia bisa main basket. Keren banget…..
            Tapi, ia sempat kepikiran tentang Mikleo…
            Tapi, aku juga merasa kagum dengan Mikleo. Lelaki pirang itu juga nggak kalah ganteng. Main basketnya juga keren. Badannya juga cukup tinggi. Aduuuuuuhhh!!!!... kok aku jadi dilema gini ya… aku harus kagum dengan dua orang laki-laki…
            Mikasa sambil mengacak-acak rambutnya karena mengagumi Tama dan Mikleo. Akhirnya ia menyerah sendiri dan rebahan di kasur sambil menutup wajahnya dengan bantal.. meski begitu, ia senang sekali dengan perasaannya yang begitu hangat. Ia berharap perasaan yang hangat ini akan terus berlanjut.

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 1)