LIGHT NOVEL : BASKET BALL ADRENALINE (Chapter 2)

Chapter 2 : 
(KOTAK BEKAL ALISHA)

K

elas I-B adalah kelas yang akan menjadi tempat belajar untuk seorang Pratama Budiman, atau yang akrab disapa Tama. Ia sudah berdiri dan melihat papan tulisan “I-B” diatas pintu kelas. Setelah itu, ia masuk ke dalam. Ketika ia masuk, ia melihat-lihat apakah ada bangku kosong atau tidak. Tama memilih bangku nomor 2 di barisan kedua. Kemudian, ia duduk di bangku pilihannya dan menoleh kiri-kanan. Banyak siswa-siswi baru yang masuk dikelas. Seperti yang dialami Tama, beberapa siswa lain yang masuk di kelas tersebut mencari-cari bangku yang menurut mereka nyaman untuk mereka duduki. Kemudian, didalam kelas pun ada yang sedang berbicara dengan siswa yang lain baik itu laki-laki maupun perempuan, ada yang menyendiri sambil mendengarkan musik, dan ada juga yang sedang membaca buku novel. Setelah melihat seisi ruang kelas, Tama memalingkan wajahnya kebawah dan mengeluarkan handphonenya dari saku bajunya untuk  mengirimkan SMS kepada Tante Anita bahwa ia sudah sampai disekolah dan masuk dikelas barunya. Tak lama setelah itu, tiba-tiba dari koridor terdengar suara riuh yang cukup ramai. Siswa-siswi yang ada di koridor sedang meramaikan suasana koridor dengan suara-suara mereka ternyata, disekolah itu kedatangan 2 orang yang satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka pun banyak dilihat banyak siswa-siswa yang melihat mereka berdua. Itulah mengapa koridor sekolah menjadi ramai dan bahkan ada beberapa siswi yang cukup histeris melihat laki-laki itu. Mereka adalah murid asing yang pindah dari Jerman. Mereka berdua pun masuk dikelas yang dimasuki Tama.
           Mereka berdua berambut pirang. Yang laki-laki rambutnya agak pendek dan bentuk rambutnya jabrik beberapa sisi, bertubuh tinggi, agak berotot dan berkulit putih. Lalu, ia membawa tas selempang berwarna hitam sambil memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya. Sedangkan yang perempuan memiliki rambut yang panjang sampai ke pinggang, memakai bando berwarna biru langit, matanya juga berwarna biru langit, tubuhnya pun ideal dan seksi dan ‘menenteng’ tas hitam dengan tangan kirinya. Seluruh isi kelas menjadi riuh karena kedatangan murid asing. Tama pun hanya menatap 2 orang tersebut tanpa menunjukkan ekpresi yang terlalu heboh daripada siswa-siswa yang lain. Mereka duduk di kursi paling depan. Yang laki-laki berada dibangku pertama baris ketiga dan yang perempuan berada di depan Tama. Kemudian ada percakapan yang keluar dari 2 orang itu menggunakan bahasa Jerman.
           “Mikleo…. Sudah cukup!.. nggak usah keseringan melambaikan tangan kepada gadis-gadis disana..”
           kata perempuan pirang itu dengan bahasa Jerman.
           “ayolah!..Alisha… jarang-jarang’kan kita seperti ini…”
            Mikleo terus melambaikan tangan kepada gadis-gadis baik yang ada didalam kelas maupun yang ada diluar menutupi pintu kelas. Banyak siswi disekolah itu sampai berteriak histeris seperti kedatangan artis idola mereka. Alisha yang agak jengkel langsung memukul kepala Mikleo dengan tasnya beberapa kali
           dasar kamu playboy cap munafik!!!!!...”
           “aduuh…aduuuh… sakiiit Alisha..!!”
           kata Mikleo dengan kesakitan.
           “kalau kamu hanya ingin mencari seorang perempuan… apa gunanya kamu sekolah sampai ke Jepang??.... di Jerman juga banyak perempuan cantik.. “
           “tapi sayangnya, aku menyukai gadis Jepang daripada gadis dinegara sendiri…”
           “aduh..aduuuhh… kamu ini otaknya hanya perempuan saja… awas kalau kamu berfikir yang macam-macam! Ayah dan Ibuku bakal bilang apa nanti?”
            mereka berdua yang masih asyik ribut membuat Tama menguap dan langsung membaringkan kepalanya di meja
           “berisik sekali…”
           Tama bergumam kecil dengan nada mengantuk.
           Lalu mereka berdua sontak menyahut “DIAM KAMU!” Tama langsung kaget dan terbangun lalu melihat mereka berdua. Alisha dan Mikleo langsung memandang Tama
           “hah? Maaf…. Kamu siapa?”
           Tama lagi-lagi terkejut dan hanya melongo saja.
           “daritadi kamu disana, ya? Kok nggak kelihatan, ya?”
           Mikleo sambung bertanya.
Tama lagi-lagi melongo. Mikleo akhirnya menaikkan intonasinya karena Tama hanya melongo saja.
           “hoi, daritadi kamu ini melongo saja? Ada apa? Tidak bisa bicara. Ya?”
           “Ya Ampuuun.... Mikleo. Aku lupa. Ini negara Jepang. Ngapain kita ngomong pakai bahasa Jerman?”
            kata Alisha tersenyum menggunakan bahasa Jepang.
           “oh, kalian bisa berbahasa Jepang, ya?”
           Tama bertanya kepada mereka berdua.
           “kalau kami tidak bisa berbahasa Jepang, untuk apa kami sekolah di Jepang?”
            kata Alisha kepada Tama.
Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke kelas mereka. Ternyata Nakamura-sensei yang masuk ke kelas. Darisana jam pertama dimulai. Tapi, karena waktu itu adalah hari pertama jadi belum ada masuk materi pelajaran. Agenda yang diisi adalah perkenalan dan sekedar pemberitahuan.
           “Selamat pagi, semuanya!” sapa Nakamura-sensei kepada seluruh murid kelas I-B
           “Selamat pagi!!!”
           “selamat datang untuk siswa-siswi baru SMA Ishiyama. Perkenalkan, namaku Toru Nakamura. Panggil saja saya Nakamura-sensei. Dan saya adalah wali kelas kalian di kelas ini. Salam kenal dan mohon kerjasamanya ya.  Disini saya mengajar bahasa Jepang. Tapi karena ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah, maka  saya tidak akan langsung memberi kalian materi. Hari ini kita khusus perkenalan dan sekedar pemberitahuan saja. Disamping itu, saya adalah pembimbing klub Basket Ishiyama yang belum lama berdiri selama satu tahun. Untuk kalian yang misalnya ingin ikut klub basket kalian bisa bertemu denganku dalam hal bimbingan dan pemberian saran. Baiklah, sekarang giliran kalian yang memperkenalkan diri kalian. Sebelum itu, saya akan memberitahukan satu hal. Dikelas ini ada 3 siswa pindahan dari luar negeri. Jadi saya ingin kalian ingin memperkenalkan diri kalian terlebih dahulu.”
           Kemudian, Mikleo yang pertama kali memperkenalkan dirinya dihadapan siswa-siswi kelas I-B.
           “selamat pagi semuanya, perkenalkan. Si tampan dari eropa, Mikleo Fritz… itulah aku.” Begitulah Mikleo memperkenalkan diriya sambil bergaya sedikit centil dan agak bersemangat. Berpostur tinggi dan cukup berotot. 193 Cm dan 73 Kg. “aku berasal dari Jerman. Aku lahir di Munich. Dan aku bersekolah di Jepang Karena aku suka sekali Negara Jepang. Ditambah lagi gadis-gadis Jepang itu lebih anggun dan sangat cantik bukan main. Salam kenal.”
           Seluruh siswi di kelas itu malah merasa senang dan ada yang histeris. Nakamura-sensei hanya menggaruk-garukkan kepalanya dan tertawa kecil.
           “hehe… baiklah, Mikleo. Terima kasih dan silahkan duduk kembali! Selanjutnya… Alisha Sarah Diphda. Silahkan memperkenalkan dirinya.”
           Giliran Alisha yang memperkenalkan dirinya.
           Hajimemaste…. Namaku adalah Alisha Sarah Diphda. Aku berasal dari Jerman. Sama seperti Mikleo. Hanya saja aku lahir di Kota Berlin. Salam kenal.”
           Alisha hanya singkat saja berbicara. Tinggi badan 170 Cm dan 53 Kg. Seperti yang dialami Mikleo. Laki-laki di kelas itu mulai senang dan ada yang histeris melihat seorang Alisha yang dikatakan sangat cantik menawan. Tama yang melihatnya hanya melongo seakan-akan ia tercengang melihat sesosok Alisha. Tanpa disadar sudah masuk giliran Tama yang memperkenalkan dirinya. Tama pun maju kedepan dan berbicara di depan siswa-siswi kelas I-B. siswa-siswi disana mulai penasaran dengan laki-laki kalem yang satu ini. Kalem, tetapi seperti menyimpan sebuah rahasia yang apabila terbongkar bagaikan disengat listrik 40.000 volt .
           Hajimemaste, nama saya Pratama Budiman. Kalian bisa memanggilku Tama. aku pindahan dari Indonesia….” Seisi ruang kelas mulai sedikit gaduh karena yang satu ini berasal dari Indonesia. “ kota kelahiranku di Bekasi. Kalau ditanya tujuanku sekolah disini karena sebuah keinginan untuk bersekolah disini. Setiap sekolah pun sama saja. Isinya adalah orang-orang yang ingin belajar. Tetapi, saat ini pilihanku untuk mencari tempat sekolah adalah di SMA Ishiyama.” Salah satu murid laki-laki bertanya “ apa alasannya kau bersekolah disini?”. Dengan tenang, Tama menjawab “karena aku memang berkeinginan sekolah disini…” seisi ruangan menjadi sedikit berisik dan terdengar suara “Oooohhh…!! “ dari mulut siswa-siswi kelas I-B. Alisha yang melihat dan mendengar perkenalan Tama merasa seperti ada kemiripan dengan Mikleo. Bahkan saat ditanya alasan masuk sekolah tersebut adalah rasa suka dalam dirinya. Hal itu membuat Alisha menyimpulkan bahwa Tama seperti memiliki kemiripan dengan Mikleo. Lalu, disisi lain dan masih didalam kelas, seorang gadis berkacamata dan berambut hitam dengan panjangnya sampai ke bahu duduk di baris keempat bangku nomor 3, dekat dengan jendela mengamati Mikleo. Seperti ada maksud tersembunyi terhadapnya.
          
           Setelah masuk jam istirahat, Tama duduk di halaman belakang sekolah sambil berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Ia mengeluarkan bekal yang disiapkan sendiri di rumah. Isi bekalnya yaitu nasi dengan lauk ayam goreng dengan sayur brokoli serta sambal merah. Bekalnya dibungkus dengan kertas bungkus nasi. Dengan gaya duduk ala warteg, yaitu kaki kanan diangkat dan ditekuk dan kaki kiri bersila. Makannya pun dengan tangan. Benar-benar cara Indonesia. Dan sedang asyiknya ia makan datanglah Mikleo yang heran melihat cara makan Tama yang menurutnya cukup menjijikkan. Lalu, ia menghampiri Tama.
           “hey, anak Indonesia?”
           Tama pun berhenti makan dan melihat Mikleo dihadapannya.
           “oh, si pirang rupanya”
           “heeeh… kamu bilang “Si Pirang”? Aku punya nama tahu!”
           “aku juga punya nama, kalau sudah tahu aku anak Indonesia. Kamu bisa memanggil namaku’kan. Mikleo?.”
           “hoi.. tunggu.. kok kamu tahu namaku?”
           “kan tadi kita sudah perkenalan di kelas. Lupa ya?”
           “hmmm… iya..iya. benar juga. Dan namamu adalah Tama?”
           “ya.. itu benar. Itu nama panggilanku. Supaya lebih mudah orang mengucapkannya.”
           “oh, ya. Kenapa kamu makan pakai tangan? Bukankah itu menjijikkan ya?”
           “hahahaha…. Ngapain juga aku harus jijik? Ini’kan tanganku sendiri. Masa’ aku jijik dengan tanganku sendiri. Itu’kan aneh. Lain ceritanya kalau aku makan kotoranku sendiri. Itu boleh dibilang menjijikkan”
           “kamu nggak punya sumpit atau sendok?”
           “ada.. tapi aku lebih suka makan pakai tangan. Lagipula, gaya orang Indonesia banget deh makan pakai tangan. Yang penting, aku tidak makan bekas air liur dari mulut orang lain.”
           “Makan bekas air liur orang lain? Maksudnya apa?”
           “contohnya sumpit yang kau pegang itu.” Tama menunjukkan sumpit yang dipegang Mikleo. “kau tahu, sudah berapa banyak sumpit itu dipegang orang lain?”
           “hmm… kalau dirumah sih hanya Bibi, Paman, dan Alisha..kemudian-”
            lalu Mikleo mulai tersadar mengenai ‘makan bekas air liur orang lain’.
           ah, gawat!!!.. katanya dalam hati. Dia langsung menutup mulutnya.
            “tidak..! secara tidak langsung aku sudah berciuman dengan Bibi, Paman dan juga Alisha.”
           Tama pun tertawa.
            “hahahaha…. Kamu terlalu berlebihan. Nggak gitu juga kali. Aku hanya iseng saja mengerjaimu. Tapi tetap saja, kadang aku merasa makan dengan tangan itu lebih beda  dan punya sensasi tersendiri.”
           “sensasi tersendiri?”
           “iya… makan dengan tangan itu seperti memiliki sensasi tersendiri. Tapi, bukannya aku tidak suka makan pakai sendok atau sumpit. Kalau aku lagi malas makan pakai tangan atau dalam situasi tertentu, aku juga makan pakai sendok atau sumpit. Misalnya saat makan mie, makan sup atau makanan yang berkuah apalagi makanan dingin seperti es krim, es serut dan sebagainya. Apalagi kalau kita lagi bertamu atau dalam acara formal. ‘kan tidak lucu kalau makan nasi atau makan makanan berat dengan tangan. Meski begitu, aku biasa makan pakai tangan”
           “oh.. begitu… aku pikir kau anti sendok atau sumpit?”
           “haha… aku tidak akan berlaku ekstrim begitu. Sudahlah, ayo dimakan!”
           setelah mendengar penjelasan dari Tama, Mikleo langsung makan bekalnya yaitu nasi dengan lauk ikan salmon serta rumput laut dengan tangannya. Tama pun kaget melihat Mikleo langsung makan menggunakan tangan.
           “hey… aku’kan tidak memaksamu makan menggunakan tangan. Itu’kan karena kebiasaanku saja.”
           “Sudah cukup! Mulai saat ini aku tidak akan makan dari bekas mulut orang…” katanya sambil menunjuk kearah Tama. sempat diam sejenak dan setelah itu
           ” kalau gelas untuk minum bagaimana?”
           Tanya Tama terhadap Mikleo.
           “ee…. Ee… heeee!!!.. benar juga! Gelas dirumah’kan pasti banyak dari bekas mulut orang juga..... kalau kau sendiri bagaimana?”
           “Biasanya aku lebih memilih untuk mengambil gelas untuk pribadiku sendiri dan tidak mengambil gelas yang lain.”
           “ kamu ini terlalu higienis sekali, Tama”
           “sebenarnya aku tidak berlaku higienis. Tapi, kalau ada kesempatan untuk berlaku higienis, kenapa tidak?” kata Tama sambil tersenyum.
           “………………hmm.. ya sudahlah. Itu terserahmu saja”
          
           Setelah mereka makan dan mencuci tangan mereka, mereka berjalan di koridor sekolah. Kemudian datang Alisha dari arah berlawanan. “heh… Mikleo.. daritadi aku mencarimu tahu. Kemana saja kau?”
           “oh.. iya. Maaf ya. Tadi aku di halaman belakang. Makan bareng sama Tama.”
           “oh… jadi kau makan bersama Tama? kenapa kamu tidak mengajakku?”
           “iya..iya.. maaf.. lainkali aku akan mengajakmu, ya.” Katanya dengan ‘cengengesan’
           “kamu sendiri sudah makan, Alisha?” Tanya Tama kepada Alisha.
           “eh? Oh, aku? Tentu saja sudah. Aku makan sendiri di kelas.”
           “kenapa tidak bareng dengan teman-teman yang lain?’kan di kelas banyak orang.”
           tidak apa-apa kata Alisha dengan senyum yang masam
Tama agak heran melihat Alisha. Yakin nih orang udah makan? Dari gerak-gerik dan ekspresinya kok seperti menahan rasa lapar. Dari ia berbicara sampai tingkahnya seperti ada sesuatu yang tersembunyi. Seperti sedang menahan lapar. “baiklah Alisha, ayo! Kita kembali ke kelas. Sebentar lagi jam istirahat akan usai. Tama, kita masuk kelas” ajak Mikleo.
           “Oh, oke. Ayo!”
          
           Pelajaran pun sudah usai. Semua siswa pun sudah mulai meninggalkan kelas. Tama yang sedang mulai berkemas-kemas tidak sengaja melihat Alisha yang sudah beranjak dari bangkunya. Begitu melihat Alisha yang sudah meninggalkan kelas bersama Mikleo, ia melihat sebuah bekal yang ada dikolong meja Alisha. Lalu, ia mengambil kotak bekal Alisha. Saat dipegang, ia merasakan kotak  bekalnya masih berat. Tama merasakan bahwa Alisha belum makan karena saat di koridor tadi dia seperti menyembunyikan sesuatu. Tuh’kan, sudah kuduga. Pasti dia nggak makan. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari keluar kelas untuk menemui Alisha. Ternyata saat ia keluar, Alisha sudah tidak ada. Ia melihat disekitarnya ternyata tidak ada. Ia menghela napas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya. Kemudian, dipandanginya kotak bekal Alisha. Tak lama setelah itu, Kageyama dan Hinata bersaudara datang menyapa Tama. “yo.. Tama-kun” sapa Ryuji.
           “eh… teman-teman.. kalian sudah keluar juga ya?”
           “tentu saja…. Lagipula saat ini belum ada belajar sama sekali.”kata Ryuzaki.
           “hey… itu kotak bekal punyamu? Kira-kira masih ada isinya nggak? Aku masih lapar nih… “
           Ryuji memegang perutnya. Matanya pun berbinar-binar melihat kotak makan yang dibawa Tama. Kageyama menghantam ubun-ubun Ryuji dengan tangan kirinya.
           “bodoh!.. itu punya orang. Jangan sembarangan deh!”
           “aduuuh.. maaf.. maaf.. sakit nih..”
           Ryuji sambil mengeluarkan air mata memegang kepalanya yang muncul sebuah benjolan layaknya bola tenis. Tiba-tiba seorang gadis berkacamata yang tadi mengamati Mikleo saat jam pelajaran muncul dan tidak sengaja menabrak bahu kanan Tama dari belakang. “aduh… su-sumimasen…”
           “oh…daijobu..” jawab Tama yang mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Gadis berkacamata itu langsung lari. “sudah bermata empat kok masih belum Nampak juga penglihatannya?” Tanya Kageyama sedikit sinis.
           “woi.. Kageyama. Jangan seperti itu! Dia’kan tidak sengaja…” kata Ryuzaki.
           “teman-teman… mau pulang bareng.?” Tanya Tama.
           “ya, tentu saja.”
           Jawab Ryuji.
Tapi, saat mereka masih ditempat, HP mereka mendadak berbunyi. Ada sebuah SMS masuk di HP mereka. Isinya bahwa hari ini ada pemberitahuan untuk anggota klub basket Ishiyama untuk berkumpul di lapangan basket Indoor.
          
           Saat berkumpul dilapangan, para senior pun sudah berkumpul. Begitu pun anak-anak kelas 1 yang baru bergabung termasuk Tama. dalam sesi tersebut adalah sebuah perkenalan. Ikki Kayo, siswi kelas III-A dengan tinggi badan 168 Cm menjadi manajer sekaligus pelatih klub basket Ishiyama membuka pembicaraan
           “ya.. kepada anak-anak kelas 1! Selamat datang di tim basket SMA Ishiyama! Sebelumnya kami sangat berterima kasih kepada kalian karena telah menyediakan diri kalian untuk bergabung disini. Perkenalkan, namaku Ikki Kayo. Pelatih tim basket Ishiyama saat ini. Aku dari kelas III-A Kemudian kita juga punya seorang penasehat tim basket. Yaitu Nakamura-sensei. Tapi saat ini, beliau tidak bisa hadir karena ada keperluan yang sangat mendesak. Baiklah, langsung saja. Kepada para senior. Perkenalkan diri kalian.”
           Setelah memperkenalkan dirinya. Ikki mempersilahkan para senior untuk memperkenalkan diri mereka.
           “baiklah, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Minamoto Hiromi. Kapten tim basket SMA Ishiyama. Posisiku adalah Forward, dan aku dari kelas III-B. salam kenal”
           “namaku Satoru Takuya, kelas III-B. posisiku berada di Point Guard. Salam kenal”
           “namaku Tobio Michiru, kelas III-C. posisiku adalah Center. Salam kenal”
           “kalau aku adalah Kyo Nobisuke, aku dari kelas III-A. aku bisa diposisikan di Center dan Small Forward. Salam kenal”
           “mereka adalah senior dari kelas 3. Selanjutnya akan kami perkenalkan senior kelas 2” kata Ikki
           “Oke, semuanya… perkenalkan. Namaku Sorey Shimazu. Aku dari kelas II-C. posisiku bisa di Center dan Forward. Salam kenal.”
           “kalau aku adalah Ryouta Fukunishi. Dari kelas II-C. posisiku sebagai Shooting Guard. Salam kenal.”
           “baiklah.. sekarang giliran kalian yang memperkenalkan diri kalian!”
           Ikki membacakan nama mereka sesuai dengan biodata yang ia pegang. Mereka memperkenalkan diri mereka dan menanyakan alasan mereka. Dimulai dari Ryuji.
           “perkenalkan, namaku Ryuji Hinata. Dari kelas I-A. berasal dari SMP Sekine. Tujuanku masuk tim basket karena ingin menjadi pemain basket yang kuat dan professional serta membanggakan orang tua melalui prestasi sebagai pebasket.”
           “hmm.. alasanmu cukup mulia. Baiklah.. selanjutnya!” kata Ikki.
           “perkenalkan, namaku Ryuzaki Hinata. Kelas I-A. dari SMP Sekine.”
           “wah.. kalian kembar ya? Aku rasa tidak usah ditanya lagi alasannya. Dia pasti bakal ikut saudara kembarnya.”
           Jawab Kyo dengan tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Pipinya pun ikut merona. Ikki yang sebenarnya agak jijik melihat Kyo menyetujui pendapatnya.
           “hmm.. benar juga. Terima kasih Ryuzaki. Selanjutnya, Kageyama!”
           “namaku Kageyama Kotaro. Kelas I-C. dari SMP Shikishima. Tujuanku adalah agar bisa menjadi pebasket yang professional. Salam kenal”
           “Hmm.. dulu kamu pernah bermain di klub voli, ya? Apa kamu bisa menyesuaikan dirimu di tim basket ini. Karena Voli dan Basket itu beda.”
           kata Satoru kepada Kageyama dengan ekspresi datar namun seperti ingin menghancurkan.
           “tentu saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga.”
           “hmm.. kalau begitu. Semoga beruntung ya.”
           Mendengar jawaban dari Satoru yang terlihat datar dan agak dingin membuat Kageyama yang melihatnya agak sedikit menggerutu seakan ia dianggap seperti tidak akan mampu. Minamoto sambil memukul punggung Satoru sekencang mungkin berkata
           “hoi.. Satoru. Kamu ini berbicara seperti sedang ingin membunuh seseorang.”
           Satoru hanya mengerang kesakitan. Lalu, ia menghadap ke Kageyama. “
           Nah, Kageyama… tolong jangan disimpan dihati ya! dia memang selalu datar dan dingin. Tapi sebenarnya dia baik kok. Oke… selanjutnya! Kazao!”
           Natsuki Kazao, anak sekolah yang posturnya hanya 175 cm dengan rambut hitam panjang namun bagaikan duri yang agak tajam beberapa sisi. Panjangnya sampai bahu.
            “Yo… perkenalkan. Aku Natsuki Kazao. Point Guard terbaik di SMP Murasakibara. Yang jelas aku ingin menjadi Point Guard terbaik di Jepang. Aku dari kelas I-A. salam kenal.”
           “Kamu kenal dengannya?”
           kata Tama sedikit berbisik ke Ryuji.
           “iya… aku kenal. Kebetulan dia datang terlambat 5 menit di kelas kami. Untung saja dia masih diperbolehkan masuk. Dia duduk di sebelahku.”
           “Oh.. begitu ya…”
           “baiklah… selanjutnya Mikleo!...”
           saat Ikki memanggil nama Mikleo. Mikleo tidak datang. Semua melihat disekitar mereka. Tama pun juga terkejut bahwa ia ikut tim basket Ishiyama.
           “hmm… sepertinya dia tidak ada.. kalau begitu…”
           “TUNGGU!!!.....” terdengar suara Mikleo berteriak di sisi kanan lapangan Indoor. Rupanya Mikleo datang terlambat. Semua tertuju ke Mikleo. Tama pun juga melihat kearah Mikleo. Ia pun tersenyum bahwa ia ikut tim basket. “maaf.. pelatih aku terlambat” kata Mikleo yang agak lelah namun masih bisa tersenyum.
           “darimana saja kau? Baru pertama pertemuan tapi kamu sudah telat.” Kata Ikki sedikit tegas
           “maaf.. tadi aku ada sedikit urusan sebentar diluar.”
           “baiklah.. untuk selanjutnya jangan sampai terlambat lagi ya!”
           “okelah kalau begitu”
           “hmm.. oke. Karena aku memegang biodatamu. Jadi langsung saja kau memperkenalkan dirimu.”
           “eh.. langsung, ya? Hmm… baiklah… oke, semuanya. Perkenalkan. Namaku Mikleo Fritz. Aku berasal dari Jerman. Kelasku di I-B. salam kenal.”
           “tujuanmu masuk basket apa?” Tanya Ikki
           “oh.. tujuanku ya? Hmm.. basket itu’kan sebuah permainan yang indah dan terbilang seksi. Oleh karena itu, aku ingin tetap memainkan terus permainan yang indah dan seksi itu dengan terus bersaing meraih prestasi yang membanggakan.”
           “hmm.. menarik juga alasanmu.. baiklah. Silahkan masuk bergabung dengan teman-temanmu!”
           Mikleo langsung bergabung dengan anak-anak kelas 1 yang lain. Lalu, ia terkejut melihat Tama disebelah kirinya. Tama hanya memberikan salam dua jari ke Mikleo. Mikleo pun tersenyum melihat Tama dan memberikan salam dua jari pula ke Tama.
           “baiklah.. selanjutnya. Matsunaga Kiseki.... “
           panggil Ikki saat menyebutkan nama seseorang.
           “hadir! Pelatih..”
            jawab Matsunaga persis dibelakang Ikki seperti hantu yang nongol tiba-tiba menakuti seseorang
           “Huuuaaahh!!!”
           Ikki terkejut setengah mati.
           “sejak kapan kamu dibelakang?!”
           Ikki teriak agak kesal kepada Matsunaga karena ia bisa muncul dari belakang secara tiba-tiba. Minamoto sebagai sang kapten pun juga terkejut melihat Matsunaga yang bisa muncul tanpa ada hal apapun.
           Aku kok sampai nggak sadar ya kalau dia dibelakang Ikki.
           “maaf, pelatih. Aku terlambat..”
            jawab Matsunaga dengan senyuman masam.
           Dengan menahan emosi, Ikki langsung menghela nafas.
           “ baiklah, silahkan perkenalkan dirimu!”
           “ terima kasih, semuanya. Perkenalkan. Namaku Matsunaga Kiseki. Dari SMP Taiga. Aku dari kelas I-D. Aku sudah mulai aktif bermain basket saat berada di bangku kelas 2 SMP. Sebelumnya, aku aktif di dunia sepak bola. Tujuanku disini ingin menjadi pemain yang bisa diandalkan untuk meraih impian dan prestasi di dunia basket.”
           “waw... hebat sekali, Bung..”
            kata Kyo dengan sedikit gembira sambil bertepuk tangan.
           “anak itu menarik juga, ya? “ gumam Tobio.
Setelah Matsunaga duduk dan bergabung dengan rekan kelas 1 yang lain. Barulah Tama yang terakhir mendapatkan giliran untuk memperkenalkan dirinya.
           “perkenalkan, namaku Pratama Budiman. Kalian bisa memanggilku Tama. Aku berasal dari Indonesia. Aku berada di kelas I-C. Tujuanku masuk klub basket adalah........ MENJADI PEMAIN BASKET KELAS DUNIA!!!”
           alasan Tama yang telah dijelaskan membuat semua orang tercengang. Sampai-sampai para senpai, pelatih,  dan rekan-rekan kelas 1 lainnya tidak bisa berbicara apa-apa. Mikleo yang berada disampingnya tersenyum sendiri bagaikan mendengar berita yang sangat baik mendengar alasan Tama yang nampak sangat serius dengan alasannya.
          
           Tama bersama dengan Kageyama dan Hinata bersaudara berjalan kaki disepanjang jalan setelah mereka selesai berkumpul dari aula 1 jam yang lalu. Disepanjang jalan, mereka berbincang-bincang seputar perkumpulan mereka tadi.
           “heeeh…. Ternyata Sabtu siang kita bakal tanding melawan senpai-senpai kita.. aku penasaran loh kemamupuan senpai-senpai kita itu bagaimana?”
           kata Ryuji sambil membayangkan kemampuan para senpai di tim Ishiyama.
           “kamu tahu nggak? Yang lebih asyiknya lagi….hariSabtu itu kita bakal ditonton sama siswa-siswa yang lain loh.. “
           tambah Ryuzaki dengan gembira.
           “yah.. itu benar…. Apalagi itu hari sabtu.. jadi, waktu sekolah hanya sampai jam 12. Apalagi Ikki-san akan meminta bantuan Nakamura-sensei beserta izin untuk pertandingan persahabatan di aula besok.”
           Kata Tama sambil tersenyum
           “pasti bakal sangat seru tuh…. Aku jadi nggak sabar nih pengen bertemu hari tersebut.” Kata Ryuji lebih gembira. Tama yang tadi berbicara dengan Hinata bersaudara mulai memalingkan pandangan kearah Kageyama yang berada di belakangnya. Kageyama saat itu sedang murung dan hanya sedikit menundukkan kepalanya. Nih orang kenapa? Kok jadi murung? Perasaan tadi dia baik-baik aja. Kageyama sedang memikirkan dan membayangkan wajah Satoru serta ekpresi yang dingin dan perkataannya dengan nada yang datar meskipun kalimat yang diucapkan adalah sebuah pemberi semangat. Itu membuat Kageyama masih kesal seakan-akan dia sedang diremehkan oleh Satoru. Sampai ia menggigit mulutnya sendiri. Tama yang melihatnya menjadi sedikit kasihan. Lalu, Tama bertanya kepada Kageyama.
           “Kageyama, ada apa? Kok kamu diam saja?”
           Kageyama langsung mengarahkan pandangannya pada Tama
           “Oh…. A-Aku nggak apa-apa kok… aku Cuma lelah… rasanya sampai rumah aku ingin istirahat.” Jawab Kageyama kepada Tama.
           “hmm…. Benar juga.. lagipula Sabtu besok kita bakal bertanding melawan senpai-senpai kita”
           kata Tama kepada Kageyama. Kageyama hanya tersenyum kecil setelah mendengar apa yang dibilang Tama. Dalam perjalanan mereka, ada seseorang yang memanggil Tama dari sebelah kanan. Tepatnya di lapangan basket umum.
           “hoi… Anak Indonesia!!!”
           Tama langsung melihat kesumber suara. Ternyata yang ia lihat adalah Mikleo. Tama beserta Kageyama dan Hinata bersaudara menghampiri Mikleo yang sudah menunggu di dalam lapangan.
           “Mikleo… untuk apa kamu disini?” Tanya Tama.
           “dia ingin mengajakmu bermain basket”
           jawab Alisha yang di pojok kanan sambil duduk di bangku yang terbuat dari beton.
           “eh… Alisha… kamu disini juga?”
           Tanya Tama kepada Alisha
           “aku terpaksa mengikuti kemauan Mikleo. Lagipula aku juga takut pulang sendirian.”
           “heeeh.. Tama? kau kenal dengannya? Dia cantik dan pirang loh. Udah gitu dadanya lumayan besar juga ya.”
           kata Ryuji yang terkesima melihatnya. Terlihat ada air liur sedikit di sisi mulutnya. Kageyama dan Ryuzaki memukul kepala Ryuji dengan hantaman tangan mereka ke ubun-ubun.
           “Ryuji… Hentai..!”
           Mereka mengatakan itu. Ryuji hanya tertunduk lesu.
           “Itu Alisha… sepupunya Mikleo. Dia sekelas denganku.”
           “hebat… ternyata dikelasmu ada dua orang Jerman ya?”
           “nah… Tama.. apa kamu mau bermain basket denganku?”
            Mikleo menantang Tama bermain basket. Tama yang mendengar tawaran dari Mikleo dengan spontan menolak. “Maaf, aku nggak bisa”
           “heeeeh??!!!.... cepat sekali kamu memutuskan?”
           gumam Mikleo yang heran
           “kamu ini ingat waktu tidak?!”
           Tama bertanya dengan sedikit tegas “sebentar lagi hari akan gelap. Kalau kamu mau melihatku bermain, kamu bisa menunggu hari Sabtu! Kita’kan bakal main di hari tersebut setelah pulang sekolah.”
           “maaf, Tama. tapi aku tidak sabar menunggu. Ayolah!... aku tahu kamu pasti ingin sekali memegang bola di tanganku ini’kan?”
           Alisha beranjak dari kursi batu dan mendekati Mikleo. Ia menarik telinga Mikleo dan keluar lapangan basket membawanya untuk pulang. Ia terus memarahi Mikleo sambil menarik telinga Mikleo sepanjang jalan. Tama dan Kageyama hanya menatap tajam melihat mereka berdua sedangkan Ryuji dan Ryuzaki malah tertawa melihat Mikleo yang ‘dijewer’ telinganya oleh Alisha sambil memarahinya.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Mikleo? Menantang Tama bermain basket di lapangan basket umum pada saat senja hari.
Tama pun masih bingung menebak jalan pikiran Mikleo. Ia hanya menggaruk kepala saja dan setelah itu menggelengkan sedikit kepalanya.
          
           Sampai dirumah, Tama membuka kotak bekal makan milik Alisha di kamarnya. Dibungkus dengan kain serbet berwarna merah muda. Kotak bekalnya berwarna hitam dengan tutupnya berwarna putih. Saat dibuka, isinya adalah nasi putih dengan lauk sayur brokoli 3 buah, tomat kecil 3 buah, ikan salmon 3 potong dan juga ada sendok dengan gagangnya berwarna merah muda. Sendok itu diletakkan disamping kotak bekal.
           Wah, nggak ada sambal nih… turun dulu deh ke bawah. Ngambil sambal.
           Ia pun keluar kamar dan turun ke bawah menuju ke ruang makan. Sambil melihat-lihat situasi disekitar seperti sedang berperang agar tidak kelihatan musuh ia berjalan sedikit mengendap-endap. Tante Anita terlihat sedang menonton televisi. Kesempatan Tama menuju ruang makan. Berhasil sampai menuju ruang makan, ia sudah berhadapan dengan meja makan. Ia membuka tepu saji berwarna merah dan melihat sambal terasi yang telah dibuat oleh Tante Anita.
           Yes.. ada sambal terasi.
           Jawabnya dalam hati. Kemudian ia berpindah ke sebuah lemari piring yang ada di sebelah kanan dekat dengan dapur. Ia membuka pintu lemari piring dan mengambil mangkuk kecil berwarna putih dan segera menutup kembali pintu lemarinya. Gerakan yang cepat namun tidak mengeluarkan suara langkah sekeras mungkin ia mengambil sambal terasi dari dalam tepusaji. Tak lupa ia juga mengambil segelas air mineral untuk dibawa keatas.setelah menyelesaikan ‘misi’ mengambil sambal. Ia kembali ke kamarnya. Berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Sampai dipintu kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu dengan pelan menggunakan kakinya untuk mendorong pintunya agar tertutup. Ia menghembuskan nafasnya karena merasa lega aksinya mulus. Kembali ia duduk dan meletakkan sambal terasinya dan segelas air minum di meja belajarnya.
           “sekarang semua sudah komplit. Waktunya makan!”
           Ia langsung menuangkan sambal terasi ke nasi putih di kotak bekal tersebut. sebelumnya ia membaca doa terlebih dahulu sebelum makan. Selesai membaca doa, ia langsung menyantap makanan tersebut. menggunakan tangan kanan sebagai alat untuk memasukkan makanan ke dalam mulut dan menaikkan kaki kanan keatas kursi. Gaya duduk orang Indonesia yang lagi makan di warteg. Tama merasakan kenikmatan yang luar biasa memakan makanan dari kotak bekal tersebut.
           “hmm… enak tuh.. bagi dong!!”
           Tama langsung tersedak karena Tante Anita tiba-tiba bersuara dibelakangnya. Buru-buru ia minum.
           “uhuk..uhuk..ehem..ehem.. Tante ini.. bikin ke- loh, ada Tante? Sejak kapan?”
           “Tante itu tadi mau mengajak kamu makan malam. Tapi kayaknya kamu sudah mulai mendahului Tante, ya.”
           “bu-bukannya b-begitu…”
           Tama menjadi panik
           “Heeeeh!!!!... sendok ini gagangnya warna merah muda. Pasti punya cewek nih. Ternyata hari pertama masuk sekolah kamu udah punya gebetan aja.”
           Tante Anita menunjukkan bahagia yang luar biasa sampai-sampai wajah Tama merah merona.
           “hee.. nggak.. nggak…. Darimana sejarahnya saya punya gebetan di hari pertama sekolah.”
           “tidak kusangka, kamu ternyata sudah mengerti tentang cinta. Berarti kamu sudah dewasa.”
           “Heeeeh!!!... nggak..nggak.. b-bukan begitu…Adu~h!”
           Tama berteriak tapi pipi jadi merah.
           “hahahaha….. Tama~ Tama… kamu itu… nggak apa-apa kok. Tante juga pernah muda. Jadi nggak masalah kok..”
           Tante tersenyum bahagia melihat Tama yang salah tingkah.
           “aduh..Tante~ Tante ngomong apa sih? Udah deh..”
           “ iya deh, keponakanku tersayang… “
           Tante Anita duduk sedikit di meja belajar Tama. dan memasang wajah tersenyum.
           “jadi, itu bento siapa yang kamu bawa?”
           “oh..ini. kebetulan ini punya teman sekelas saya. Sayang sekali dia tidak memakannya. Jadi saya makan saja.”
           “siapa namanya?”
           “namanya Alisha”
           Tante Anita mendekatkan wajahnya kearah Tama. Tama menjadi tambah salah tingkah
           “hmm… Alisha namanya ya?”
           “eh.. Tante. Nggak usah dekat-dekat juga dong kepalanya. ngerti kok Tante itu cantik. Tolong dong agak jauhan”
           Tante Anita memposisikan kembali kepalanya secara tegak
           “Alisha itu… seperti apa orangnya”
           Sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya
           “dia cantik sih… rambutnya kuning keemasan, pake bando biru langit, bibirnya manis, tubuhnya seksi, dan juga dadanya yang lumayan besar sih”
           Tama sampai terbawa suasana bahkan jadi terbayang gadis itu. Tante Anita yang tadi asyik mendengarkan cerita Tama. memang begitu senang, tapi saat mendengar kata ‘dada yang lumayan besar’ dan ‘bibirnya manis’, beliau langsung menyela.
           “heeeh?? Tama…!! tadi kamu bilang apa? Dadanya lumayan besar? Jadi kamu….!!”
           Tama panik dan berkata
           “a-a-anu.. bukan begitu.. ah, ngapain juga saya ngeluarin kalimat itu?”
           “kamu rupanya suka dada yang besar, ya?”
           Tante Anita agak cemberut dan memalingkan wajah dari Tama. tangannya pun menyilang dan menempel ke badannya.
           “Tante.. maaf bukan begitu..”
           “ngomong-ngomong dibandingkan ‘punya’ Tante, lebih besar mana ?”
           Kata ‘punya’ yang didengar Tama langsung membuat ia semakin memerah wajahnya. Ia pun tertunduk malu
           Oh my God! Daridulu sampai sekarang orang tua yang satu ini otaknya ‘Ecchi’ banget deh. Gimana ceritanya Nakamura-sensei suka orang semacam dia ini. Tapi ya sudahlah. Aku pun tidak peduli.
           Tantenya lanjut bertanya
           “terus… istilah ‘bibirnya manis’ itu apa?”
           Wajah Tama agak bingung dan tersenyum pahit. Lalu Tante Anita mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah Tama. sambit mengerucutkan bibirnya ia berkata
           “kamu itu….. ciuman sama dia, ya?”
           Tama yang bermandikan keringat langsung syok mendengarnya
           “Heeeeeh!!!!...  Tante Ngomong apa sih?! Tante ini nggak pernah berubah ya sampai sekarang!”
           Tama berteriak di depan Tantenya. Ia pun hanya tertawa karena senang menjahili keponakannya.
           “hahahahaha…. Tama.. sudah.. sudah. Kamu itu emang lucu ya. Haha
           Sambil menyeka air mata di pinggir matanya karena tertawa
           “abisnya kamu itu cocok banget jadi bahan candaan..”
           “wah.. Tante jahat nih..”
           “iya..iya.. maaf deh. Hehe.. Oh, iya. Alisha itu.. kalau dipikir-pikir tentang namanya itu dia pasti bukan orang Jepang. Lagipula tidak ada huruf “L” di Jepang”
           “itu memang benar. Dia pindahan dari Jerman.”
           “wah.. Tante pikir kamu bakal dapat jodoh orang Jepang juga. ternyata, seleramu tinggi juga.”
           “adu~h.. mulai lagi deh Tante. Terserah Tante deh… tapi yang jelas. Entah kenapa kalau saya waktu ketemu dia kok rasanya jadi ‘adem’ gitu.”
           “masa’ sih? Mungkin itu pandangan pertama ?”
           “oh, ya? Waaaahh…. Pandangan pertama, ya? Ternyata pandangan pertama itu cukup indah ya?”
           Tama berbicara seolah-olah baru mengerti pandangan pertama dan mengeluarkan senyum bahagia tanpa beban.
           “polos banget sih kamu.. hehe.. ya udahlah… kamu lanjutin aja makannya. Kalau masih lapar, langsung turun ke bawah ya. Tante tahu banget seberapa elastisnya perut kamu itu.”
           “hehe.. Tante bisa aja.. iya deh.”
           Tante Anita keluar dari kamar Tama dan menutup pintu kamarnya dari luar. Kembali Tama memalingkan pandangan ke kotak bekal yang masih menyisakan makanan yang ia makan tadi. Lagi-lagi senyuman tanpa beban itu kembali keluar dari bibirnya itu. matanya pun seolah-olah seperti mengeluarkan aura yang positif.
          
           Alisha memandang langit malam yang penuh bintang-bintang di balik kaca kamarnya. Ia tinggal di sebuah apartemen kelas menengah ke atas. Pandangannya kearah bintang-bintang di langit tersebut sebenarnya bukan karena fokus pada benda langit tersebut. tetapi, ia terbayang sesosok pemuda tampan disekolahnya. Siapa lagi kalau bukan Tama. Alisha merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Dan seolah-olah seperti cerita misteri, ia menganggap bahwa Tama sedang mempunyai sebuah rahasia yang cukup menarik.
           Dia itu orangnya penuh dengan misteri. Tapi, aku kok merasa ada yang aneh dengan perasaan ini. Sebuah perasaan positif. Melihat wajahnya itu, entah kenapa aku jadi merasa bahagia sekali.
           Pikirnya sambil mengeluarkan senyuman indahnya. Ia pun terhenyak dari dunia pikirannya. Sampai saat itu juga, ia tersadar
           Ya ampun, aku jadi mikirin dia. Aku’kan belum terlalu kenal dengannya..
           Ia menggelengkan kepalanya. setelah itu Oh, iya.. ngomong-ngomong bagaimana nasib kotak makan siangku, ya? Aku belum memakan isinya. Pasti bakal basi deh. Mau nggak mau besok nggak bawa bekal.
           Ia pun berbaring di atas ranjang. Merebahkan tubuhnya. Dan beberapa detik kemudian, ia langsung tertidur.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIGHT NOVEL : BASKETBALL ADRENALINE (Chapter 1)